Rabu, 09 September 2015

Pembangga Jurusan Mungil Unmul


HANYA karena kelihatannya keren, akhirnya pada 2009 silam, saya memilih untuk menempuh pendidikan S1 di program studi yang saat itu masih segar di Universitas Mulawarman, "Ilmu Komunikasi".

Ilkom, singkatannya begitu, dilahirkan pada 2004. Belum ada presiden maupun pemimpin daerah, atau kepala SKPD pemerintahan kota lahir dari kampus saya itu. Saya sendiri bukan siapa-siapa.

Sampai menit ini (pukul 00.44 Wita, 10 September 2015), saya masih belum ditakdirkan untuk memiliki ijazah S1 Ilmu Komunikasi, walau pendadaran skripsi saya sudah dilakukan sebulan lalu. Hampir setiap hari juga saya ditagih (tentu saja bukan karena terlilit hutang di bank), Ibu saya meminta agar segera lulus kuliah. Dan, menikah. Padahal beliau mengetahui bahwa saya seorang jomblo akut. Hiks...Hiks... Sudah cukup ma, saya malu... T.T

---OK, SKIP. Bukan kejombloan yang mau saya bahas di sini---

Hanya beberapa mahasiswa saja yang kerap dibanggakan para dosen Ilkom. Saya tak termasuk hitungan, karena untuk masuk prodi Ilkom sendiri pun saya hanya tebak-tebakan dengan feeling. Padahal itu menentukan masa depan saya. Mengenai beberapa mahsiswa itu, di antaranya adalah Dragono Halim, redaktur pelaksana di perusahaan koran harian Samarinda Pos. Lelaki ini adalah seorang penulis handal. Tanpa perlu ditelusuri jauh-jauh, saya bisa menebak, bakat menulisnya yang baik dan keuletannya membuatnya tak perlu berlama-lama menunggu naik jabatan. Hanya sekira dua sampai tiga tahun.

Lalu ada Raeza Febrina Sari, seorang Duta Wisata Samarinda 2011 yang juga terpilih sebagai Puteri Pariwisata Kaltim 2013. Echa, sapaannya, juga sempat mewakilkan nama Kaltim di 10 besar Puteri Pariwisata Indonesia pada akhir 2014 lalu. Perempuan bertubuh semampai ini juga adalah rekan kerja saya di perusahaan koran harian, Kaltim Post. Echa adalah wartawati halaman XpResi, kolom bacaan khusus anak muda.

Sebelum saya menulis artikel ini, tadi siang saya sedang mem-browsing nama dosen beserta gelarnya untuk saya tuliskan di skripsi saya. Ketika membuka website: ilkom.fisip-unmul.ac.id, bukan hanya nama dosen yang saya dapat. Melainkan artikel tentang kedua orang tersebut. Kebetulan saya cukup akrab dengan keduanya. Nah, untuk bang Dragon, sapaan Dragono Halim, saya terus membaca artikel tentang dirinya, bahkan artikel-artikel yang dia posting di blognya. Ternyata benar, dia penulis yang aktif dan hebat.

Bukan hanya terkagum-kagum dengan gaya penulisannya yang mudah dicerna dan atraktif, saya justru menjadi panas. Membaca tulisannya membangkitkan kembali gairah menulis saya. Sudah lama saya tidak menulis untuk di-posting, karena saya cuti untuk menyelesaikan kuliah sejak Mei 2015.

---Kembali ke Ilkom---

Untuk masalah gedung, di prodi Ilkom saat ini masih belum jelas. Belum ada tulisan besar yang terpampang di depan sebuah gedung besar: Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Mulawarman. Mahasiswanya pun jadi ikut-ikutan tak jelas saat hendak memulai kuliah, ruangan mana yang akan mereka datangi. Lagi-lagi mereka harus berdiskusi dengan dosennya untuk menentukan ruangan dari gedung Fisipol mana lagi yang akan mereka pinjam.

Sekali lagi, mata kuliah mereka lebih menjurus untuk menjadi seorang Public Relation. Memang, belum banyak yang bisa dilakukan Rektorat maupun jajaran Dekanat Fisipol Unmul, karena prodi Ilkom sendiri baru berdiri 2004 lalu, alias 10 tahun. Padahal, jika Ilkom Unmul adalah sebuah fakultas (bukan sebuah jurusan seperti sekarang), maka akan ada banyak jurusan atau program studi bercabang di bawahnya. Contohnya seperti jurnalistik, broadcasting, dan lain sebagainya.

Jika Ilkom Unmul adalah seorang anak manusia, pada usia 10 tahun, maka saat ini sudah bisa berlari liar karena anak itu adalah seorang bocah kelas lima SD. Di Jepang, anak kelas lima SD sudah terbiasa membuat robot. Tapi kalau di Indonesia, anak kelas lima SD (zaman sekarang) kebiasaannya adalah menggunakan robot bebek atau matic buatan Jepang untuk kebut-kebutan di jalan raya. Karena, mereka adalah cabe-cabean. Lalu, apa di Ilkom Unmul mahasiswanya banyak yang cabe-cabean? Entahlah.

Dulunya, Ilkom memang memiliki gedung sendiri. Dua tingkat dengan lima ruangan, tapat di hadapan gedung Administrasi Negara Fisipol. Sebenarnya ada enam ruangan, tapi yang satu dikhususkan untuk menyimpan peralatan broadcasting.

Seorang dosen perempuan muda yang dianggap banyak mahasiswanya cantik, Rina Juwita (usianya masih kepala dua), pernah meminta agar mahasiswanya menyerahkan berbagai piagam maupun piala yang dimiliki sebagai bahan pendukung meningkatkan akreditasi kampus. Kini, Ilkom Unmul memiliki akreditasi "B".

Saat itu saya sempat berpikir, apakah piala juara band di berbagai festival yang saya miliki di rumah bisa digunakan? Lalu saya menampik pikiran saya itu, dan menganggap tak ada hubungannya antara band dengan akademik. Kini saya berpikir, apakah bila ada seorang alumni Ilkom Unmul menjadi Wali Kota Samarinda, atau Gubernur Kaltim sekalipun, prodi yang berusia 10 tahun itu bisa memiliki akreditasi "A", lalu dihadiahkan sebuah gedung Fakultas khusus Ilkom.

Jawabannya, bisa iya, bisa juga tidak. Iya, bisa terwujud bila sang alumnus sukses itu mengupayakannya. Dengan menggunakan kewenangan dan kekuatannya sebagai Wali Kota atau Gubernur, tentu bukan hal yang sulit. Tidak terwujud juga bisa terjadi, jika upayanya kurang, atau bahkan dia ternyata kacang lupa kulitnya.

Waduh, sekarang saya jadi teringat hal yang menarik dan jenaka. Tentang seorang teman sesama wartawan satu angkatan di Kaltim Post. Dia mencalonkan diri menjadi Wali Kota Samarinda periode 2015-2020. Dia adalah Ibrahim, adik tingkat fakultas dua tahun di bawah saya, seorang mahasiswa prodi Ilmu Pemerintahan angkatan 2011. Sangat lucu ketika mendengar kabar dia mencalonkan diri itu. Sebab, saya langsung teringat wajahnya yang ceking.

Hanya saya mengapresiasi keberanian di usianya yang muda itu. Tak semua orang mampu melakukannya, dan mampu menahan malu atas banyak cemoohan publik. Kemunculan kabarnya mencalonkan sebagai wali kota Samarinda tersebut mendapay BULLY di sana-sini usai temannya sendiri menerbitkan postingan di grup publik media facebook, Bubuhan Samarinda (Busam). Untung saja Ibrahim bukan mahasiswa Ilkom. Saya bersyukur akan hal itu. Just kidding, him.

Saat ini, jurusan Ilkom Unmul semakin populer. Pertumbuhan mahasiswa baru yang terdaftar semakin tinggi. Saya berharap, semoga kelak lahir seorang yang berkedudukan penting di pemerintahan atau perpolitikan dari Ilkom Unmul. Semoga juga, sesorang itu nantinya membantu kesejahteraan kampus yang membesakannya itu.