Rabu, 31 Oktober 2018

Belajar Minum Kopi Sehat Bersama Imam Lutfi; "Stop Makan Nasi, Ngopi Jadi Energi Pengganti"



Tren minum kopi hitam tanpa gula sudah makin menjamur di se-antero Indonesia. Khusus di Sangatta, Kutai Timur, seorang pejabat pemerintah yang terkenal rutin mengampanyekan ngopi sehat tanpa gula, mau berbagi ilmunya.

RAYMOND CHOUDA, Sangatta

Imam Sujono Lutfi, yang kesehariannya disibukkan dengan tugas sebagai kabag humas dan protokol Setkab Kutim, selalu menyempatkan menikmati biji kopi yang diracik sendiri, tanpa gula. Bisa dibilang, ke mana saja perginya, biji kopi dan alat peracik selalu tersiapkan di dalam tasnya.

Imam pun memberi kesempatan jurnalis Kaltim Post untuk melakukan perjalanan Sangatta-Samarinda, belum lama ini. Di dalam mobilnya, tampak terdapat butiran biji kopi di sebuah tempat khusus, bersama alat peracik kopi praktis, seukuran botol minuman yang mudah digenggam. Dalam perjalanan itu, banyak pengetahuan tentang kopi dibagikannya.

Sampai akhirnya berhenti di suatu warung makan, ketika menjelang senja. Imam seketika mengeluarkan “dapur” kopi pribadinya, lalu meracik biji kopi puntang --kopi asli dari Jawa Barat— kemudian meminta pelayan di warung menyeduhkannya.

Cara penyajian pun mengikuti arahan Imam. Yakni, air yang mendidih dengan ketinggian derajat tertentu, dimasukkan ke biji kopi yang sudah diracik menjadi bubuk. Tentu tanpa campuran gula. Ketika segelas air sudah penuh, diaduk hingga merata, kemudian wajib hukumnya langsung ditutup dengan penutup gelas.

Menurut Imam, kopi yang baru diseduh harus langsung ditutup agar cita rasa asli kopi tidak tergerus karena uap yang mengudara. “Kalau sudah disajikan dengan benar sesuai standar penyajian, kopi tanpa gula bakal terasa nikmat. Harus dinikmati untuk mengenal rasa kopi yang diseduh, dan lidah bakal mengerti arti kopi sesungguhnya, bahwa tanpa gula justru lebih nikmat,” ungkap Imam.



Sebelum menyeruput bersama, jurnalis media ini dibimbingnya agar tak terkena penyakit. Yaitu, menghindari makan nasi, atau setidaknya mengurangi. Sebab, nasi mengandung karbohidrat yang terdapat zat gula yang sangat tinggi. Jika kopi tanpa gula, tapi masih makan nasi, tentu tubuh masih terkontaminasi gula.

“Kalau gula dan kopi bercampur, respons tubuh manusia biasanya jantung berdebabr, atau syaraf bergetar, dan berbagai gangguan lainnya,” ungkap Imam yang juga merupakan sekretaris LDII Kutim itu.

Efek kopi yang sebenarnya, terang Imam, adalah membuat tubuh rileks. Jika belum merasakan rileks karena kopi tanpa gula, berarti diduga seseorang tersebut baru saja makan nasi. “Syarat tambahan, ketika meminum kopi usahakan didampingi meminum air putih yang cukup. Sebab, respons tubuh dan lidah akan lebih netral,” imbuh lelaki yang juga sekretaris IPSI Kutim itu.

Dirinya mengaku, sudah setahun belakangan berhenti makan nasi. Mungkin, hanya sesekali jika menghadiri acara makan. Tanpa nasi, Imam meyakini, energi tubuhnya tetap kuat dengan bantuan asupan kopi tanpa gula. “Kopi membuat rileks, dan memberi tenaga tambahan. Buktinya, sampai saat ini saya tetap merasa sehat, karena ini salah satu jenis pola hidup sehat,” tukas dia. (*)




Selasa, 16 Oktober 2018

Menginspirasi !! Mujiono Si Penjual Bakso Keliling Sangatta yang Taat Pajak, Berani Hidup Keras, Anaknya Kini Sekolah Polisi


----Mujiono (kiri) dan Misinem, saat berbincang dengan Raymond di kediamannya sebelum berjualan keliling, Selasa (16/10)----


Orang-orang yang kaya dan berpenghasilan besar harus malu terhadap penjual bakso keliling asal Sangatta, Kutai Timur satu ini. Meski Mujiono berpenghasilan tak sebesar pengusaha besar, dia taat membayar pajak tiap bulan.

RAYMOND CHOUDA, Sangatta

Cukup jauh dari pusat kota Sangatta, Kaltim Post  bersama Parlin staf KP2KP Sangatta mengunjungi kediaman Mujiono di Jalan Rawa Gabus, Gang Naga, Kecamatan Sangatta Selatan. Lelaki berusia 47 tahun tersebut sedang bersiap untuk pergi jualan bakso keliling. Namun dia mau berbaik hati untuk berbagi kisah hidupnya yang menginspirasi karena taat pajak.

Wawancara pun berlangsung, sembari menyantap hidangan bakso yang disiapkan Mujiono dan istrinya, Misinem (38), di rumah betonnya yang seluas sekira 10 x 15 meter yang dalam proses pembangunan itu. Bakso berkomposisi 3/4 daging banding 1/4 kanji itu, memiliki rasa yang khas, sehingga dia terkenal di beberapa tempat di Sangatta. Pola penjualannya panggilan by phone oleh pelanggandi sela jadwalnya berkeliling, pukul 11.00-18.00 Wita.

Mujiono mengisahkan, dirinya mulai rajin membayar pajak sejak setahun lalu. Saat itu, dirinya dan Misinem mengajukan pinjaman uang ke perbankan untuk kepeluan membangun rumah. Setelah melalui berbagai tahap, dirinya mendapat persetujuan. Syaratnya, harus bayar pajak penghasilan. Namun, itu hanya sekali.

“Tapi setelah itu, kami jadi keterusan. Tiap bulan kami bayar terus pajak. Sampai sekarang jadi kebiasaan,” ujar lelaki berpenghasilan bersih rata-rata Rp 5 juta per bulan dari jualan bakso tersebut.
Dirinya pun diundang ke acara pengapresiasian terhadap para wajib pajak yang terdiri dari kalangan pengusaha besar, di Hotel Royal Victoria, Sangatta Utara. Yakni, setelah dia berkontribusi ikut serta dalam pemecahan rekor muri pembayaran pajak masal di Kutim, Kamis (11/10).
Mujiono berpendapat, saat ini perekonomian terasa sangat lesu. Itu terlihat dari penjualannya, di mana dulunya bakso Mujiono bisa langsung habis terjual dalam tiga jam per hari, kini memelukan waktu siang hingga magrib.
Pun begitu, kerja keras Mujiono kini berbuah banyak. Salah satunya, dirinya sukses menyekolahkan anak pertamanya, Wahyu Anggara (18). Hasil menjual bakso, telah membuat sang anak masuk sekolah polisi negara (SPN) di Balikpapan, bintara, secara murni kerja keras.
Wahyu, ujar Mujiono, sejak kecil memang suka ikut kegiatan lapangan yang memerlukan tenaga banyak. Beberapanya, dipercaya menjadi pasukan pengebar bendera saat upacara resmi 17 Agustus, juga sempat praktek kerja lapangan (PKL) di Polres Kutai Timur.  Sementara anak kedua kedua, Dina Kolifatu Rizki (7), masih bersekolah di SD 001 Sangatta Selatan.
Namun perlu diketahui, semua kerja keras lelaki asal Banyuwangi, Jawa Timur itu, bukan semata-mata hasil keringatnya. Dukungan istrinya, Misinem, jadi hal yang tak terlepaskan. Perempuan yang juga berasal dari Banyuwangi itu kini membantu keuangan keluarga melalui jasa pijat atau dikenal orang lokal dengan sebutan urut.

Mereka punya kisah yang tak terlupakan. Awal perjumpaan kedua pasangan tersebut bermula di kampung halamannya. Mereka hidup dengan bercocok tanam, memanen buah semangka dan melon untuk kemudian dijual. Namun apa daya, karena soal ekonomi, Mujiono terpaksa merantau ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, bekerja di perusahaan plywood, selama 12 tahun.

Setelah mengumpulkan sejumlah modal dan banyak asam garam pengalaman, Mujiono kembali ke Banyuwangi, lalu menikahi Misinem pada 1997. Perempuan itu pun diajak pergi ke Kalsel, selama tiga tahun. Namun, setelah itu mereka kembali ke Banyuwangi, sementara sang istri mengadu nasib jadi tenaga kerja wanita (TKW) resmi di Malaysia selama dua tahun, dan di Taiwan lima tahun. Anak pertamanya ditinggal di kampung, dirawat oleh keluarga.

Misinem mengatakan, setelah lama bekerja di luar negeri, dia dan suami akhirnya mencoba merantau lagi, ke Sangatta pada 2012. Itu atas saran tetangganya, karena dijanjikan akan ada pekerjaan bergaji Rp 2 juta per bulan. “Ternyata bohongan saja, tidak ada kami mendapat kerja. Jadi akhirnya saya mencoba untuk membuka usaha jualan makanan ringan di Gang Seruni (Jalan Sulawesi, Sangatta). Sementara suami saya kerja bangunan,” kenang dia.

Beberapa perjuangan, lanjut Misinem, ketika Mujiono berangkat kerja bangunan dengan sepeda ontel pemberian teman. “Saat sampai lampu merah (traffic lightgear sepedanya lepas. Jadi sampai tidak bisa jalan lagi,” ucapnya tertawa bersama.

Sebelum empat tahun bermukim di kediaman sekarang, pasangan suami istri tersebut mengaku sempat mengontrak rumah di kawasan Sangatta Selatan yang karib disebut Sangatta Lama, sekitar pinggir jalan, dengan harga yang dianggapnya mahal. Yakni, Rp 1,8 juta per bulan, hanya tempat petak satu kamar. Mengontrak selama setahun, saat itulah Misimen mulai menjual bakso.

Jadi, lanjut dia, ketika pagi menjual makanan sarapan sejenis nasi kuning dan pecel, lanjut menjual bakso pukul 09.00-22.00 Wita. “Kalau bapak (Mujiono) sudah pulang kerja bangunan pukul 17.00 Wita, kami gantian. Bapak yang jualan, saya kerja urut orang,” papar dia. (*)