Senin, 26 Maret 2018

Rentan Jadi Temuan BPK, Wabup Tegaskan Tak Salah Bayar Lahan


SANGATTA - Isu yang beredar tentang Pemkab Kutim salah bayar lahan warga Rp 1 miliar di kawasan Bukit Pelangi, Sangatta Utara, ditepis oleh kepala daerah. Yakni dengan pernyataan, lahan yang dibayar pemkab diduga memiliki dualisme kepemilikan.

Diketahui, sebelumnya Kepala Dinas Pertanahan dan Penataan Ruang (DPPR) Kutim Yusuf Samuel menyebutkan, saat proses pembayaran panjar lahan tersebut, diduga ada kesalahan pembayaran dari DPPR Kutim --saat itu masih Dinas Pembebasan Lahan dan Tata Ruang (PLTR) sekira Rp 12 miliar.

Pernyataan itu dilontarkan Yusuf saat memberi laporan dalam rapat coffee morning belum lama ini, dengan alasan dirinya gerah, sehingga menyentak banyak pejabat.

Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang mengatakan, telah memanggil secara khusus pejabat yang menyatakan pemkab salah bayar dalam agenda coffee moring itu. Yusuf langsung diberi teguran karena memaparkan hal yang membuat kisruh, dan dipandang Kasmidi belum pasti kebenarannya.

Kasmidi menegaskan, pemkab tak salah bayar. Dirinya sudah melakukan kroscek dan memanggil petugas terkait. "Hal itu (isu salah bayar lahan) dinyatakan pejabat tersebut karena ada orang yang komplain. Sebab, dari lahan yang saat itu mau dibayar pemkab, ada pihak yang tak terima. Kalau ini salah bayar, tentu akan jadi temuan BPK," urainya.

Mantan anggota DPRD Kutim itu menyatakan, kemungkinan lahan yang dimaksud tersebut memiliki double kepemilikan, yaitu dua pihak berbeda yang sama-sama mengaku mempunyai lahan yang dimaksud. "Kami telah membayar kepada pihak yang telah memiliki keputusan mengikat yang kuat," ucap dia.

Kasmidi melanjutkan, sampai saat ini dirinya tak pernah menemukan data yang menyebut bahwa lahan 
tersebut salah bayar. "Jadi, kalau memang itu bermasalah, biarlah ditentukan oleh pengadilan," tukas dia.

Dia menyatakan, pemkab menarget pembayaran semua lahan oleh pemkab sudah clear pada 2021. "Kami memang sudah diwajibkan BPK untuk membayar lahan, dan kami akan tuntaskan," imbuh dia.

Yusuf menyebutkan, proses pembebasan lahan di Bukit Pelangi Sangatta masih bermasalah setelah ada pengakuan pemilik lahan yang belum menerima pembayaran apapun termasuk panjar. Akibat belum mendapat kepastian pemilik lahan yang sah, instansinya belum melakukan pembayaran pelunasan yang mencapai Rp 1 M, sehingga harus melakukan verifikasi berkas bukti kepemilikan lahan kelompok masyarakat tersebut. (*)



Pemkab Kesulitan Urus Pembebasan Lahan


SANGATTA - Klaim lahan antar pihak yang dihadapi Pemkab Kutim belum menemui titik terang. Sebuah lokasi di Komplek Bukit Pelangi, Sangatta Utara, yang sebelumnya diisukan miring dengan tudingan salah bayar, terus dicoba diluruskan. Itu seperti persoalan di beberapa proyek lainnya.

Kepemilikan lahan yang carut marut tersebut merupakan milik warga yang juga menjabat Staf Ahli Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik Setkab Kutim Abdul Mutholib. Sebelumnya, Kepala Dinas Pengendalian Lahan dan Tata Ruang (PLTR) Kutim Yusuf Samuel mengatakan bahwa pemkab salah bayar dalam proses pembebasan lahan di lokasi tersebut.

Abdul Mutholib menyampaikan, lahan miliknya di sungai rel belakang Masjid Agung Al Farouk tersebut bermasalah lantaran ada pihak lain yang juga mengaku-ngaku memiliki lahan tersebut. Lantas, pada saat ganti rugi lahan, dia bersama beberapa rekannya yang tergabung dalam kelompok tani, tidak dapat berbuat apa-apa.

"Dalam kelompok tani itu saya memiliki satu hektare pada lahan tersebut. Namum diakui orang lain. Jadi, total Rp 12 miliar ganti rugi lahan itu kami tidak dapat," bebernya.

Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang telah meminta laporan ke Dinas PLTR Kutim, dan meminta agar mengklasifikasikan utang dan proses ganti rugi lebih teliti. Dia juga meminta agar memprioritaskan pembayaran pada lahan yang sudah jelas surat dan legalitasnya. “Acuannya berdasarkan rekomendasi dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) Kaltim," imbuhnya.

Sebelumnya, Kasmidi telah menyatakan, bahwa kesalahan bayar tersebut tidak benar adanya. Yakni, akibat dualisme kepemilikan, yang bakal diserahkan kepada pengadilan untuk menengahinya.

Kepala Dinas PLTR Yusuf Samuel mengaku, permasalahan lahan yang tengah ditangani pemkab memang begitu rumit. Tak hanya pada penuntasan lahan di Bukit Pelangi itu saja. Lainnya, yakni seperti lahan di Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK), dan jalan ringroad II di Sangatta.

“Seperti di jalur ringroad II lahannya sudah siap, dana tidak masalah. Yang penting, pemiliknya harus tunjukan keaslian surat, kami tidak mau salah bayar," bebernya.

Diketahui, pada KEK MBTK, persoalan lahan sudah dinyatakan siap, namun beberapa waktu lalu sempat terkendala penerbitan sertifikat oleh pusat. Sementara ringroad II, pembebasan lahan terkendala sengketa ahli waris. (*)

Sabu, Ganja, LL, Miras Dimusnahkan


SANGATTA - Lebih dari 20 ribu  butir pil doubel L, ganja kering 357,4 gram, sabu 218,5 gram, serta ratusan botol minuman beralkohol dimusnahkan di halaman kantor Kejari Sangatta, Senin (26/3).  Pemusnahan barang bukti yang merupakan hasil penanganan perkara tindak pidana umum sepanjang 2017 itu sudah dinyatakan inkracht.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sangatta Mulyadi mengatakan, pihaknya melakukan pemusnahan barang bukti karena sudah memiliki kekuatan hukum tetap alias inkracht. Itu juga mengacu program zero tunggakan terhadap barang bukti.

“Selain itu, pemusnahan barang bukti merupakan upaya pencegahan penyelewengan dan penyalahgunaan narkotika yang disimpan kejaksaan,” ungkap dia.

Mulyadi melanjutkan, jumlah perkara pidana umum pada 2017 lalu yang sudah selesai ditangani dan mendapat kekuatan hukum tetap ada sebanyak 150 perkara. Perkara narkotika masih menempati urutan pertama dalam penanganan kasus dengan jumlah 94 kasus. Disusul penanganan perkara kesehatan diperingkat kedua sebanyak 16 kasus, dan ketiga ditempati perkara pencurian dan pengeroyokan yang masing-masing berjumlah 8 kasus.


Ditambahkan Mulyadi, selain memusnahkan puluhan ribu pil LL, ganja, dan sabu, pihaknya juga memusnakan ratusan minuman beralkohol dari berbagai merek. Juga, ratusan telepon genggam dan timbangan digital hasil sitaan penanganan perkara narkoba, dua unit senjata api rakitan, senjata tajam, serta 60 boks makanan ringan merek appolo asal Malaysia yang masuk ke Kutim tanpa izin resmi dari Balai Pengawas Obat dan Makanan RI. (*)

Jalur Poros Sangatta-Bontang Banjir, Pengendara Motor Rentan Gugur

SANGATTA – Banjir sekali lagi melanda Kutim. Air menggenangi lokasi yang dilalui banyak masyarakat, yakni Jalan Poros Sangatta-Bontang Km 38, Kecamatan Teluk Pandan. Ketinggian air bahkan sempat mencapai hingga setengah meter, membuat jalanan macet parah.

Banjir tersebut sempat menjadi topik hangat di medsos. Para pengendara yang notabene sedang menuju ke Sangatta ramai-ramai mengupload gambar banjir tersebut, kemarin (26/3). Itu membuat para pengendara lainnya yang berencana menuju Sangatta atau sebaliknya, menjadi lebih waspada. Banjir menggenangi hingga sekitar 200 meter jalur poros itu.

Salah satu pengendara mobil Supriadi mengatakan, sangat kesulitan melewati jalur tersebut. Dia takut mobilnya mogok bila terlalu lama direndam air. “Untung saja dapat dilalui. Tapi, tetap terkena macet. Itu yang bikin perjalanan tambah lama,” ujarnya.


Kapolres Kutim AKBP Teddy Ristiawan melalui Kasat Lantas AKP Eko Budiyatno didampingi Kanit Turjawali Ipda Satria Yuda menjelaskan, pihaknya telah berupaya mengatasi kemacetan, dengan terjun langung ke lapangan sejak pukul 09.00 Wita. Banyak pengendara yang kesulitan dalam mengendalikan motor maupun mobilnya.

“Kami terpaksa menggunakan sistem satu jalur saja, dengan pola buka-tutup jalan secara bergantian dari tiap arah. Sebab, jika digunakan kedua jalur, dikhawatirkan pengendara terkena lubang jalan atau masuk ke parit akibat tertutup pandangan oleh banjir,” ungkap Satria, ketika melaporkan saat berada di lokasi banjir.

Tidak ada korban, maupun pohon tumbang dalam kejadian tersebut. Namun, terang Satria, arus air begitu deras. Hal itu dapat menyulitkan pengendara. Terutama pengguna motor. “Makanya, kami terus mengondisikan keadaan lalu lintas agar mencegah korban,” tukas dia.


Diketahui, hujan terus melanda Kutim. Jika hujan kembali menghujam dengan deras hari ini, tidak menutup kemungkinan banjir tersebut terulang lagi, atau bahkan lebih parah. (mon)

Kamis, 22 Maret 2018

Dipancing 4 Malam, Anak Buaya Ditangkap, Diduga Masih ada Induknya



SANGATTA – Warga gerah atas berkeliarannya buaya di lingkungan permukiman. Mereka terpaksa menangkap sendiri buaya, di Kampung Tengah, Desa Singa Geweh, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutim, Rabu (21/3). Itu karena tak ada tindakan konkret dari pemerintah untuk menyelamatkan warga dari ancaman buaya yang berkeliaran.

Kabib (24), satu dari empat warga yang menangkap buaya berukuran 2 meter tersebut menjelaskan, dia telah memancing buaya tersebut sejak empat hari sebelumnya. Buaya tersebut sudah sangat meresahkan warga di lokasi penangkapan, Jalan Rosehan Ahmad, Kampung Tengah, Gang Danau Purun, RT 7, Desa Singa Geweh tersebut.


“Sebab, anak-anak di sekitar sering mandi di rawa buatan berukuran sekira 50x50 meter tersebut. Di sana juga ada ternakan sapi milik warga. Itu menjadi keresahan bagi kami,” ungkap dia, saat ditemui di lokasi tak jauh dari penangkapan buaya tersebut, kemarin.

Buaya itu berhasil dijerat jebakan yang dibuat oleh Kabin dan tiga keluarganya di lokasi rawa yang jaraknya 700 meter dari depan Gang Danau Purun, Rabu (21/3) sekira pukul 02.00 Wita. Lalu predator tersebut dibawa dibalut lakban kuning sepanjang mata hingga ujung mulutnya pada pukul 10.00 Wita. Lalu dan diikat di tiang teras rumah warga, di depan Gang Danau Purun tersebut.

Koeshenratno (22) salah satu warga yang juga anggota masyarakat mitra polhut (MMP) cabang Sangatta menjelaskan, telah melapor ke Resort I Taman Nasional Kutai (TNK), dan kepada polhut di wilayah Sangatta. Buaya itu akan dibawa ke kawasan TNK untuk diamankan, agar jauh dari lingkungan warga.


“Buaya tersebut memang sudah sering terlihat di rawa tersebut. Bahkan, banyak yang bilang, masih ada buaya lainnya yang lebih besar, dan pernah hampir menyambar seorang pemancing,” ungkap lelaki yang juga seorang tenaga kerja kontrak daerah (TK2D) itu. (*)




*penulis menyempatkan diri selfie bersama buaya dan warga

Bupati Klaim Infrastruktur Kutim Berkembang




SANGATTA – Pemkab Kutim telah melakukan penyampaian laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah tahun anggaran 2017, Kamis (22/3). Bupati Ismunandar mengklaim, Kutim mengalami perkambangan infrastruktur.

“Pembangunan infrastruktur di Kutim pada 2017 mengalami banyak peningkatan. Artinya, bisa dilihat bahwa banyak pengaspalan jalan di beberapa tempat, dan beberapa pembangunan lain,” ucapnya selepas menghadiri rapat paripurna di Sekretariat DPRD, kemarin. Hal tersebut juga diucapkannya saat menyampaikan laporan tersebut di hadapan para legislator.

Pantauan Kaltim Post, masih banyak jalan di Sangatta yang belum disemenisasi. Begitu juga di beberapa jalan di beberapa kecamatan selain Sangatta Utara dan Sangatta Selatan. Seperti di Bengalon, Rantau Pulung, Muara Wahau, hingga Muara Ancalong dan Muara Bengkal, masih banyak yang belum diberi pengerasan berupa aspal atau semen. Jalan tersebut banyak dilalui oleh kendaraan besar perusahaan perkebunan dan pertambangan.

Bupati yang karib disapa Ismu itu mengatakan, secara signifikan memang harus dimulai dari pembangunan yang besar. Tahun ini juga ditarget bisa lebih baik.

Sedangkan dari angka kemiskinan, dia juga menyatakan Kutim telah mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik. “Kami saat ini masih mencari apa indikator kemiskinan utama di Kutim, supaya dicarikan jalan keluar. Kami akan bantu kepada masyarakat yang terlihat dari rumahnya tampak kumuh, bakal ditawarkan untuk diberi tanda supaya nanti mudah diberikan bantuan,” ucap dia.


Adapun perekonomian Kutim, disebut Ismu, sudah mulai perlahan meninggalkan sektor pertambangan. Pemkab bakal menargetkan lebih ke komoditas pertanian, yaitu agribisnis dan agroindustri. “Kami sudah melakukan banyak kerja sama dengan stakeholder di pertanian. Target tahun ini, penambahan hingga 3.500 hektare tanaman jagung se-Kutim supaya mandiri pangan,” ulas dia. (*)

Gaji TK2D Tak Kunjung Cair karena Sesuaikan Uangnya Pemkab

SANGATTA – Sudah nyaris masuk tiga bulan gaji honorer Pemkab Kutim tidak cair. Kepala daerah beralasan, itu disebabkan keuangan daerah yang sedang defisit.

Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang menegaskan, gaji TK2D akan segera dicairkan sebelum dalam waktu dekat, sebelum pecan berganti. Itu sebab gaji TK2D disesuaikan dengan keadaan keuangan pemkab. Jika pemkab sedang kesulitan uang seperti saat ini, maka harus bersabar. “Berbeda dengan PNS yang gajinya sudah ditentukan dan ditanggung oleh pemerintah berdasarkan amanat pemerintah pusat,” ucapnya, saat ditemui kemarin (22/3).

Kasmidi pun mengaku tengah menyiapkan suatu formulasi untuk mengatasi kesenjangan di kalangan TK2D dan PNS tersebut. Yakni, supaya ke depannya gaji bisa lebih lancar. Sayang, dirinya belum siap membeberkan hal itu.

Sementara diketahui, jumlah TK2D di Kutim saat ini mencapai sekira 8 ribu orang, dari jumlah sebelum dilakukan pemangkasan belum lama ini yakni sekitar 9 ribu tenaga. Sedangkan, besaran APBD Kutim 2018 yaitu sekira Rp 2,8 triliun.

Sejak tahun lalu, pemkab sudah mewacanakan melakukan pengurangan jumlah TK2D yang ditarget hingga 2-3 ribu orang. Hal itu dilakukan berdasarkan penilaian kinerja TK2D di tiap organisasi perangkat daerah (OPD), terutama dari sisi absensi.

Kasmidi mengaku, dirinya merasa terusik dengan keterlambatan gaji tersebut. “Masih ada pesan masuk di medsos whatsapp milik saya, yang mempertanyakan terkait gaji TK2D itu,” tegasnya.

Kasmidi meminta, agar masalah tersebut jangan sampai menjadi bumerang untuk pemkab. “Setiap tiga bulan ada penilaian absen dan kinerja, sehingga menjadi tolak ukur. Jika bagus SK pegawai yang bersangkutan dapat dilanjutkan, sedangkan yang dinilai kurang mungkin tidak diperpanjang. BPKAD dan BKPP harus satu kordinasi,” tambahnya.

Sekretaris Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kutim Hamdan menyatakan, pihaknya sudah menyiapkan uang untuk gaji TK2D. Hanya saja, belum ada kordinasi dari organisasi perangkat daerah (OPD) bersangkutan untuk meminta gaji honorer pemkab tersebut.

Jasrin, kabag administrasi penatausahaan keuangan Setkab Kutim menuturkan, masih menyelesaikan penyeleksian tupoksi TK2D, supaya bisa disesuaikan jenjang pendidikannya masing-masing. “Secepatnya kami selesaikan pemberkasan. Ini sudah ditunggu BPKAD untuk pencairannya,” ungkap dia.

Diketahui, sebelumnya seorang tenaga kerja kontrak daerah (TK2D) di lingkungan Pemkab Kutim sempat membuat heboh dengan postingannya di medsos, mengeluh tak bisa membeli susu anak.


Seorang TK2D lainnya yang namanya tak ingin disebutkan mengaku, tidak lagi mengandalkan gaji dari pemkab. “Itu tidak bisa lagi diharap. Saya harus mencari uang sampingan dari luar. Kalau tidak, mau dikasih makan apa anak dan istri,” ungkap lelaki itu. (mon)

Dalam 5 Hari, Terhimpun Sabu 40,94 Gram di Kutim

SANGATTA - Dalam kurun waktu lima hari, Polres Kutim telah mengungkap enam kasus peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Peredaran barang haram itu diungkap di empat kecamatan.

Kapolres Kutim AKBP Teddy Ristiawan melalui Kasat Resnarkoba Iptu Abdul Rauf menjelaskan, terdapat delapan tersangka yang dicokok dari empat kecamatan tersebut. Adapun narkoba yang disita dari semua tersangka, yakni jenis sabu, yang totalnya sebanyak 40,94 gram.

"Sementara dari barang bukti lainnya, yaitu uang sejumlah Rp 2,9 juta, 11 unit ponsel, dan sebuah motor," ungkap Rauf.

Adapun empat kecamatan yang dilakukan operasi pengungkapan peredaran narkoba tersebut, yakni di Sangatta Utara, Muara Wahau, Kongbeng, dan Muara Ancalong. Yakni, periode 15-20 Maret.

Rauf menjelaskan, pengungkapan kasus paling terbaru yakni dari tim opsnal Polsek Muara Ancalong yang melakukan penyelidikan aktivitas gelap di Jalan Poros Desa Long Pejeng, Kecamatan Busang, Kutim, depan Warung Banyuwangi, Selasa (20/3) sekira pukul 13.00 Wita. Tiga anggota polsek yang bertugas saat itu menciduk M Yusuf (26), dan didapat dari kendaraan sepeda motornya nopol KT 2520 BAW, 19 poket sabu 6,50 gram, disimpan dalam dompet warna kuning.

“Lelaki itu langsung diamankan ke Polsek Muara Ancalong. Belakangan diketahui, lelaki itu merupakan seorang pengemudi dari sebuah perusahaan di Desa Long Pejeng, Busang,” ucap Rauf.

Sehari sebelumnya, kepolisian juga mengamankan dua pengedar, Syamsulsyah alias Mian (45) dan Yusuf Asnur (27), di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, sekira pukul 10.00 Wita. Syamsulsyah merupakan warga Desa Nehas Liah Bing, RT 05, sementara rekannya tersebut adalah warga Jalan Poros Beton, RT 05, Desa Muara Wahau, Kecamatan Muara Wahau.

Rauf menerangkan, dari Mian diamankan 25 poket sabu dengan kemasan bervariasi yang berat totalnya 32,47 gram beserta bungkus plastiknya dan seperangkat alat hisap. Sedangkan dari Yusuf diamankan satu bungkus plastik klip besar berisikan 17 lembar plastik klip kecil, yang merupakan perlengkapan paket sabu, beserta barang pendukung lainnya.

Mereka diamankan kepolisian berkat bantuan informasi dari warga, bahwa salah satu rumah di Desa Nehas Liah Bing RT 05 akan terjadi transaksi jenis sabu. “Saat penggeledahan dilakukan, benar Mian menyimpan sabu di bawah kasur dan dalam lemarinya. Setelah diinterogasi, dia mengaku sabu tersebut didapatnya dari Yusuf. Lantas, kepolisian segera menyergap Yusuf di kediamannya, Jalan Poros Beton,” imbuh dia.

Sementara itu, di Kecamatan Kongbeng, pengedar bernama Hendra Jaya (36) warga Jalan Poros SP IV Desa Marga Mulia, turut diamankan pada Minggu (18/3) pukul 02.00 Wita. “Dari lelaki yang mengaku sebagai kurir sabu tersebut ditemukan satu poket sabu 0,51 gram yang disimpan dalam bungkus rokok. Dia diamankan tak jauh dari kediamannya,” ucapnya.

Masih pada hari dan kecamatan yang sama, sekira pukul 00.34 Wita, kepolisian kembali mengamankan seorang pengedar di Pasar SP IV, Desa Marga Mulia. Yakni, Rusmawardi (36). Dia diamankan tak jauh dari kediamannya.

“Itu berkat bantuan informasi dari masyarakat, bahwa di sebuah konter HP milik si pengedar di pasar SP IV tersebut diduga ada aktivitas bisnis narkotika. Rusmawardi diciduk setelah mengkonsumsi sabu. Dari dirinya diamankan sabu 0,40 gram beserta alat hisapnya,” ulasnya.

Sebelumnya, dua tersangka lainnya, Padlansyah (26) dan Dimas Agus (19), warga Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, diamankan di depan sebuah warung makan di Jalan Poros Sangatta-Bontang, Kamis (15/3). (*)




DALAM 5 HARI PEREDARAN NARKOBA KUTIM DIUNGKAP:

TKP: 
Kecamatan Sangatta Utara
Kecamatan Muara Wahau
Kecamatan Kongbeng
Kecamatan Muara Ancalong

Jumlah LP            : 6 kasus 
TSK                         : 8 Orang 
Barang Bukti       : 
Sabu 40,94 gram (beserta plastiknya) 
Uang tunai Rp 2.912.000 
Ponsel 11 unit
Sepeda Motor 1 unit

Priode 15-20 Maret 2018

*Sumber: Polres Kutim

Selasa, 20 Maret 2018

PDGI Kutim Tularkan Kebiasan Merawat Mulut Sehat


SANGATTA - Hari kesehatan mulut sedunia pada 20 Maret diperingati oleh Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Kutim. Yakni, dengan rangkaian kegiatan sosialisasi terhadap pelajar tingkat SD yang jauh dari pusat kota, sejak kemarin sampai hari ini (21/3).

Sosialisasi bermula di SD 008 Sangatta Utara, Kutim, kemarin (20/3) pagi. Para anggota PDGI Kutim mengedukasi terhadap 86 siswa tentang cara merawat kesehatan gigi dan mulut. Penyampaian dikemas dengan atraktif. Anak-anak berbaris melingkar, lalu mempraktekkan cara menyikat gigi, lalu sejumlah dokter gigi mengecek setiap anak. Hari ini (21/3), kegiatan serupa digelar di SD 005 dan 006 Sangkima, Sangatta Selatan, dengan 200 lebih siswa.


Ketua PDGI Kutim drg Dwi Agustina berharap, melalui kegiatan tersebut para siswa dapat memiliki kebiasaan menyikat gigi yang baik dan benar. Sebab, anak di usia SD rentan melupakan menyikat gigi malam.

"Jadi, mulai dari saat ini kami harap anak-anak mulai memiliki kebiasaan sikat gigi yang baik dan teratur tiap pagi dan malam. Menurut suatu survei, jika seseorang memulai suatu kebiasaan selama tiga pekan atau 21 hari, maka itu bisa menjadi kebiasaan yang melekat," ungkap dokter gigi yang juga membuka praktek di kawasan mal Sangatta Town Centre (STC) Jalan Yos Sudarso II, Sangatta Utara tersebut.

Adapun tujuan PDGI memperingati hari kesehatan mulut, lanjut perempuan tersebut, secara umum untuk menyehatkan generasi muda Indonesia, khususnya di Kutim. Sebab, gigi dan mulut merupakan hal penting yang harus dijaga sejak dini.

"Penyakit apa saja bisa dilihat dari dalam mulut. Seperti tipes, maag, hingga difteri sekalipun, semua dapat dideteksi dari mulut. Ini kerap dianggap sepele, padahal sangat penting. Gigi adalah bagian tubuh paling akhir ketika yang hancur ketika seseorang meninggal," ulas perempuan yang menjabat ketua PDGI Kutim sejak 2017 itu.

Dwi menargetkan, kegiatan edukasi tersebut tidak putus setelah hari kesehatan mulut dunia berakhir. Dia berharap bisa terus mengulanginya setiap tahun. "Tapi kami juga perlu dukungan dari pemerintah daerah, maupun pelaku pendidik di tiap sekolah. Kami tak bisa bergerak sendiri," paparnya.

Dia menerangkan, dewasa ini anak-anak memiliki respons yang positif dalam menerima suatu ilmu, termasuk tentang kesehatan. "Kini anak-anak banyak yang bisa belajar lewat internet, tak hanya dari buku. Saya sering menemuinya. Makanya perlu kami membimbing anak sejak dini, bersama dengan peran orang tua," ucap dia.


Ketua Panitia kegiatan drg Marthen Tandi menambahkan, sasaran kegiatan tersebut yakni terhadap 350 siswa SD di tiga sekolahan yang dituju. Acara digelar di sekolah yang jauh dari pusat keramaian kota karena tingkat pendidikan anak di tempat tersebut jauh dari fasilitas kota yang lengkap.

"Juga, kemungkinan tingkat pendidikan di sini (SD 008 Sangatta Utara dan SD 005, 006 Sangatta Selatan) tidak merata, sehingga tak mudah mendapat informasi," imbuh dokter yang bekerja di RSUD Kudungga Sangatta itu. 

Meski pertama kali diselenggarakan, ungkap Marthen, kegiatan tersebut dikatakannya bakal dirutinkan setiap tahun. 

Acara tersebut turut dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr Bahrani. Pejabat yang juga dokter umum tersebut memberikan sambutan ringan. (*)

Gara-Gara Kurang Sosialisasi, "Jatah" PNS Tak Tersalur 10 Tahun

SANGATTA – Ternyata, di lingkungan Pemkab Kutim ada hal yang mengejutkan akibat kurang sosialisasi. Ini rentan bisa membuat marah para pegawai yang sudah mengabdi bertahun-tahun. Sebab, sejatinya ada jatah tabungan dan asuransi.

Faktanya, ada pegawai yang sudah 10 tahun mengabdi untuk Pemkab Kutim, namun benar-benar tidak tahu terkait hal tersebut. Hal tersebut sangat membuat pegawai negeri sipil (PNS) yang namanya enggan dikorankan tersebut sangat terkejut. Bahkan diketahui, ada PNS yang sudah meninggal, namun belum mengklaim jatahnya.

Kepala Taspen Samarinda Dadang Suhartono mengklaim, PNS di tiap daerah harusnya secara otomatis sudah terdaftar dalam program tabungan dan asuransi pegawai negeri (taspen). Meski sudah 10 tahun berlalu, uang tersebut dapat diklaim. “Orang-orang memang banyak tidak tahu," terangnya lelaki tersebut Senin (19/3).

Dia juga menyebut bahwa taspen berlaku bagi anggota keluarga yang ditangung seperti anak dan istri. Itu juga bisa diklaimkan jika terjadi kecelakaan, kematian, maupun ketika seorang PNS dipecat.

"Katakan saja ketika ada seorang PNS diberhentikan, dia bisa langsung mengklaimnya. Dalam 1 jam bisa langsung cair. Tapi terkadang ada orang yang malu. Namun itu boleh diwakilkan," beber Dadang.

Dia mengakui, selama ini sosialisasi di kalangan pemerintah tidak begitu gencar terkait taspen itu. Lantas, dia berharap kali ini PNS lebih bisa mengetahui haknya dan menginformasikan kepada rekan lain. Bahkan, program taspen itu ada beragam, hingga mencakup beasiswa juga. "Tiap bulan mobil layanan taspen akan berkantor di BKPP Kutim," katanya.

Kabid Mutasi BKPP Kutim Misliansyah menyatakan, seluruh PNS di Kutim sudah didaftarkannya ke program taspen. Namun, hanya PNS yang baru lulus dari pendidikan yang belum didaftarkan. "Di BKPP Kutim ada yang menangani itu secara khusus," terangnya.

Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang memerintahkan agar BKPP Kutim harus mengawal hal tersebut sejak dengan lebih ketat saat ini. Jadi, intansi tersebut ditugaskan bukan hanya untuk mengurusi kepegawaian maupun uang pensiun saja. “Kasihan pegawai di kecamatan yang jauh jika ada keluarga yang ditanggung meninggal, itu tidak tercover," sebut mantan anggota DPRD Kutim tersebut. (*)


Hampir 3 Bulan TAk Gajian, TK2D Tak Bisa Beli Susu Anak

SANGATTA – Sudah nyaris masuk tiga bulan gaji honorer Pemkab Kutim tidak cair. Betapa merana nasib tenaga kerja kontrak daerah (TK2D) Kutim, sampai-sampai ada seorang dari mereka yang mengeluh karena tak bisa membeli susu anak, lalu ucapan itu diupload di media sosial terbuka.

Dalam rapat kordinasi coffee morning di Kantor Bupati kemarin, hal itu menjadi pembahasan. Padahal, isu tersebut sudah lama beredar sebelum adanya seorang TK2D yang berani menulis keluhannya di facebook tersebut.

Ya, seorang TK2D dalam akun facebook-nya menuliskan kalimat keluhan. Isinya meminta agar Pemkab Kutim segera bisa mencairkan gajinya yang dari Januari 2018 hingga kini, karena tidak bisa lagi membeli susu anaknya.

Seorang TK2D lainnya yang namanya tak ingin disebutkan mengaku, tidak lagi mengandalkan gaji dari pemkab. “Itu tidak bisa lagi diharap. Saya harus mencari uang sampingan dari luar. Kalau tidak, mau dikasih makan apa anak dan istri,” ungkap lelaki itu.

Sekretaris Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kutim Hamdan menyatakan, pihaknya sudah menyiapkan uang untuk gaji TK2D. Hanya saja, belum ada kordinasi dari organisasi perangkat daerah (OPD) bersangkutan untuk meminta gaji honorer pemkab tersebut.

Wakil Bupati Kasmidi Bulang mengatakan, telah meminta kepada jajaran BPKAD dan Badan Kepegawaian, Pelatihan, dan Pendidikan (BKPP) Kutim agar menyelesaikan pembayaran honor TK2D itu. Dia menargetkan, pembayaran gaji TK2D yang jumlahnya rata-rata sekira Rp 1,2 juta tersebut bisa tersalurkan pekan ini.

Ditargetkannya, masalah itu sudah selesai ketika dilakukan rapat coffee morning pekan depan (19/3).
“Saya minta semua berkas dan verifikasi TK2D semuanya sudah selesai pekan ini. Jadi honor dari Januari-Februari langsung ditransfer,” ucap dia.

Kasmidi mengaku, dirinya merasa terusik dengan keterlambatan tersebut. “Masih ada pesan masuk di medsos whatsapp milik saya, yang mempertanyakan terkait gaji TK2D itu,” tegasnya.

Kasmidi meminta, agar masalah tersebut jangan sampai menjadi bumerang untuk pemkab. “Setiap tiga bulan ada penilaian absen dan kinerja, sehingga menjadi tolak ukur. Jika bagus SK pegawai yang bersangkutan dapat dilanjutkan, sedangkan yang dinilai kurang mungkin tidak diperpanjang. BPKAD dan BKPP harus satu kordinasi,” tambahnya.

Jasrin, kabag administrasi penatausahaan keuangan Setkab Kutim menuturkan, masih menyelesaikan penyeleksian tupoksi TK2D, supaya bisa disesuaikan jenjang pendidikannya masing-masing. “Secepatnya kami selesaikan pemberkasan. Ini sudah ditunggu BPKAD untuk pencairannya,” ungkap dia. (*)


Kajari Mengaku Tidak Pernah Panggil secara Lisan PDAM Kutim


SANGATTA - Pemeriksaan terhadap PDAM Tirta Tuah Benua Kutim oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Sangatta terus berlanjut. Sementara itu, pihak Kejari mengaku tidak pernah melakukan seperti apa yang disebutkan pihak PDAM kepada awak pers, yakni memanggil secara lisan.

"Saya tidak pernah melakukan pemanggilan suatu pihak dengan secara lisan. Itu tidak profesional, dan bukan hal yang dianjurkan oleh atasan," ungkap Kepala Kejari Sangatta Mulyadi --foto atas, kemarin (20/3).

Dia pun akan mencari tahu dari mana asal pemanggilan secara lisan tersebut. Sebab, dia mengakui, hal itu tidak profesional dalam penegakan hukum.

Diketahui, pihak PDAM Kutim sebelumnya mengaku telah dipanggil oleh Kejari Sangatta secara lisan pada Februari 2017. Namun, pada pemanggilan secara resmi melalui surat dilakukan pada Maret 2017.

Sejauh ini, sudah lebih 30 orang internal PDAM yang dimintai keterangan. Mulai dari direktur, hingga seluruh kepala bagian dan kepala sub bagian di keuangan. Juga, terhadap kepala cabang, dan seluruh kepala unit serta beberapa operator produksi IPA Kabo, IPA Sangatta Selatan, dan IPA Rantau Pulung yang menjabat pada 2015-2016.

Sedangkan dari eksternal PDAM yang juga dipanggil kejari, yaitu lima suplier solar dan satu suplier bahan kimia yang menyuplai pada 2015-2016.

Mulyadi menyatakan, pemeriksaan akan terus dilanjutkan. Itu sesuai dengan surat perintah tugas pemeriksaan terhadap PDAM Tirta Tuah Benua Kutim yang dimilikinya. “Namanya juga pemeriksaan, tentu akan dilanjutkan terus sampai ke tahap selanjutnya. Saya tidak mau berbicara banyak dulu saat ini. Nanti kalau ada hasilnya baru saya mau bicara,” ungkap dia.
Direktur PDAM Tirta Tuah Benua Kutim Aji Mirni Mawarni mengatakan, awal pemanggilan oleh kejari salah satunya untuk dimintai penjelasan berkaitan dengan rincian yang tertera pada tagihan pelanggan. Salah satunya yakni dana meter.
Biaya dana meter dalam tagihan pelanggan, terang perempuan yang karib disapa Mawar itu, merupakan biaya penggantian meter yang akan dipergunakan untuk penggantian meter air pelanggan setiap lima tahun sekali.
Mawar berjanji, akan menjalani pemeriksaan dengan kooperatif tanpa ada yang ditutupi. "Kami terus penuhi semua permintaan data, maupun aturan perundangan yang digunakan di lingkungan PDAM Tirta Tuah Benua untuk disampaikan kepada kejari," imbuh dia. (*)


Minggu, 18 Maret 2018

PDAM Kutim Diperiksa Kejari Terkait Rincian Tagihan Pelanggan

SANGATTA - PDAM Tirta Tuah Benua Kutai Timur akhirnya membenarkan adanya pemeriksaan dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Sangatta. Yakni, dimintai keterangan tentang rincian yang tertera pada tagihan pelanggan.

Direktur PDAM Tirta Tuah Benua Kutim Aji Mirni Mawarni mengatakan, awal pemanggilan oleh kejari bermula secara lisan pada Februari 2017. "Intinya, kami dimintai penjelasan berkaitan dengan rincian yang tertera pada tagihan pelanggan, salah satunya dana meter," ucap perempuan yang karib disapa Mawar itu.

Biaya dana meter dalam tagihan pelanggan, terang Mawar, merupakan biaya penggantian meter yang akan dipergunakan untuk penggantian meter air pelanggan setiap lima tahun sekali.

Dia melanjutkan, pihaknya dipanggil resmi melalui surat pemanggilan untuk dimintai keterangan pada Maret 2017. Dalam satu tahun ini, untuk internal PDAM sudah lebih 30 orang yang dimintai keterangan.

"Yaitu, mulai dari direktur, hingga seluruh kepala bagian dan kepala sub bagian di keuangan. Juga, terhadap kepala cabang, dan seluruh kepala unit serta beberapa operator produksi IPA Kabo, IPA Sangatta Selatan, dan IPA Rantau Pulung yang menjabat pada 2015-2016," ulasnya.

Pegawai yang diperiksa, ungkap Mawar, hampir semua sudah menandatangani berita acara pemeriksaan. Sedangkan yang dipanggil dari eksternal PDAM, yaitu lima suplier solar dan satu suplier bahan kimia yang menyuplai pada 2015-2016.

Dia berjanji, akan menjalani pemeriksaan dengan kooperatif tanpa ada yang ditutupi. "Kami terus penuhi semua permintaan data, maupun aturan perundangan yang digunakan di lingkungan PDAM Tirta Tuah Benua untuk disampaikan kepada kejari," imbuh dia.

Dikatakannya, seluruh kepala unit di kecamatan pun ketika mendapat panggilan langsung memenuhi untuk hadir dan membawa berkas yang diperlukan. "Bila ada yang kurang mereka bisa mengambil arsipnya di kantor pusat, dan kembali lagi esoknya. Kami hanya mengikuti waktu yang diberikan saja," terang Mawar.

Mawar menyatakan, tidak paham hal yang mendasari pemeriksaan tersebut. "Sebab, bukan dari temuan audit, baik dari laporan audit keuangan yang hasilnya diperiksa oleh BPK RI maupun audit kinerja oleh BPKP," imbuh dia.

Dari hasil pemeriksaan yang disoroti adalah dana pensiun/pesangon pegawai, rencana kerja dan anggaran perusahan (RKAP) pada 2015-2016, laporan keuangan pada 2015-2016. Serta, dana subsidi dari Pemkab Kutim pada 2015-2016.

Mawar mengklaim, penyusunan anggaran dan laporan keuangan serta pengelolaan dana sudah melalui prosedur. "Kami selalu meminta bimbingan dan konsultasi BPKP. Jika ada kesalahan dalam pelaporan administrasi, BPKP pasti akan menegur dan meminta kami memperbaiki," ucapnya.

Kepala Kejari Sangatta Mulyadi menuturkan, pemeriksaan memang telah dilakukan terhadap PDAM Tirta Tuah Benua sejak beberapa waktu lalu. Yakni, penyelidikan untuk suatu item, salah satunya pengadaan barang. "Pemeriksaan itu kami laksanakan sesuai surat perintah untuk penyelidikan," ungkap dia beberapa waktu lalu. (*)


PDAM Tirta Tuah Benua Kutim Diperiksa Kejari Sangatta:

- Sudah 30 orang internal PDAM yang diperiksa

- Internal PDAM yang diperiksa meliputi direktur, seluruh kepala bagian dan kepala sub bagian di keuangan, kepala cabang, dan seluruh kepala unit, dan beberapa operator produksi IPA Kabo, IPA Sangatta Selatan, dan IPA Rantau Pulung yang menjabat pada 2015-2016

- Ada pula eksternal PDAM yang diperiksa, yaitu 5 suplier solar dan 1 suplier bahan kimia yang menyuplai pada 2015-2016

- Pemanggilan secara lisan oleh Kejari Sangatta sejak Februari 2017, melalui surat resmi sejak Maret 2017

- Dimintai keterangan tentang rincian tagihan pelanggan, salah satunya biaya dana meter

Jumat, 16 Maret 2018

Calo KTP dan KK, 3 TK2D dan Tukang Pentol Diamankan

SANGATTA - Satgas Saber Pungli Kutim telah mengamankan empat oknum yang diduga calo ilegal di Dinas Kependudukan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kutim. Mereka melicinkan jalur kepengurusan dokumen sipil. Namun, statusnya masih ditetapkan sebagai saksi.

Ketua Satgas Saber Pungli Kutim Kompol Supriyanto menyatakan, pihaknya melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap petugas di Kantor Disdukcapil Kutim pada Rabu (14/3), karena banyak laporan dari masyarakat. Mereka yang mengambil pungutan liar (pungli) tersebut terdiri dari tiga pegawai honorer tenaga kerja kontrak daerah (TK2D) berinisial Ws, An, Sn, dan seorang pedagang daging pentol, Bs.

Anggota Tim Satgas Tindak Saber Pungli Kutim AKP Yuliansyah menjelaskan, saat dilakukan OTT Rabu itu, mereka kedapatan tengah melakukan aksinya. Ketika itu, mereka sedang membuat kartu keluarga.

Lelaki yang juga menjabat kasat reskrim Polres Kutim tersebut menerangkan, skema pungli dilakukan bermula dari Bs yang merupakan pedagang pentol yang biasa berkeliaran di sekitar Kantor Disdukcapil Kutim. Dia menerima konsumen yang ingin mengurus KTP dan KK secara cepat, dengan syarat harus ada pelicinnya, Rp 150 ribu.

Selanjutnya, terang Yuliansyah, Bs menyerahkan berkas permohonan dari masyarakat ke Sn, sehingga diteruskan kepengurusan kepad dua rekannya. An bertugas membuat KTP, sedangkan Ws membuat KK. "Uang Rp 100 ribu diberikan ke oknum TK2D Disdukcapil tersebut, sedangkan penjual pentol mengambil Rp 50 ribu," ulas dia.

Pada hari itu, papar dia, hasil OTT hanya mengungkap barang bukti berupa dua KTP dan dua KK yang telah dibuat secara ilegal. "Sejauh ini, mereka hanya mengaku melakukan aksi tersebut pada hari itu saja. Yakni, dengan barang bukti Rp 592 ribu hasil menerima pelicin dari empat berkas yang dibuatnya," ujar dia.

Padahal, lanjut Yuliansyah, laporan dari masyarakat menyatakan jumlah yang lebih banyak dari yang ditemukan Satgas Saber Pungli Kutim tersebut. Makanya, masih akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Anggota Satgas Penindakan Saber Pungli Iptu Abdul Rauf menambahkan, dari hasil OTT tersebut terdapat empat orang pemohon yang turut diperiksa. "Sejauh ini, data laporan dari masyarakat memang mengatakan cukup masif pungli yang diduga dari oknum TK2D tersebut. Namun belum ada data yang valid," ungkap lelaki yang juga Kanit Tipikor sekaligus Kasat Resnarkoba Polres Kutim tersebut.

Dia menyatakan, para oknum masih ditetapkan sebagai saksi, karena pihaknya masih perlu berkordinasi dengan Kejari Sangatta untuk menentukan pasal. Sebab, ada banyak pasal yang bisa dijerat kepada oknum yang diduga melakukan pungli tersebut. 
"Nanti secara resmi akan kami rilis jika sudah dinaikkan status mereka menjadi tersangka," ungkap Rauf. (*)


Terkena Operasi Tangkap Tangan di Disdukcapil Kutim:
-          3 honorer TK2D menarik Rp 150 ribu untuk tiap kepengurusan KTP atau KK, alasannya supaya cepat selesai
-          Bekerja sama dengan seorang pedagang daging pentol yang bertugas mencari konsumen
-          Masing-masing TK2D memiliki peran masing-masing, ada yang bertugas membuat KTP, ada pula yang membuat KK
-          Saat ini empat oknum tersebut masih ditetapkan sebagai saksi, dan direncanakan bakal naik jadi tersangka
-          Berdasarkan laporan masyarakat, jumlah KTP dan KK yang ditarik pungli tersebut lebih banyak

Kamis, 15 Maret 2018

Kapal Tenggelam di Tanjung Mangkalihat , 9 Nyaris Tewas

SANGATTA - Lagi-lagi, sebuah kapal tenggelam di laut Kutim. Yakni, di perairan Tanjung Mangkalihat, Kecamatan Sandaran. Padahal, sebelumnya sebuah kapal baru saja tenggelam di perairan tersebut awal Februari 2018.

Musibah tersebut dikabarkan oleh Danlanal Sangatta, Letkol Laut (P) Mulyan Budiarta kepada media ini, kemarin (15/3) sore. Terdapat sembilan anak buah kapal (ABK) dari Kapal KLM Bunga Harapan yang tenggelam kemarin (15/3) sekira pukul 00.30 Wita tersebut.

Saat itu, kapal tersebut sedang dalam perjalanan dari Pare-Pare Sulsel menuju Berau, dengah membawa 280 ton beras dan 218 ikat telur. Gelombang laut yang begitu dahysat membuat nahkoda kapal, Abdul Azis bersama delapam ABK-nya terguncang.

Lantas, ujar Mulyan, kapal tersebut mengalami kebocoran karena menabrak batu karang di sekitar 1 mil dari bibir pantai di Perairan Tanjung Mangkalihat. Sang nahkoda kehilangan kendali, sehingga kapal tersebut kemasukan banyak air, lalu perlahan terbalik. Kapal pun akhirnya tenggelam.

Menurut hasil pemeriksaan sejauh ini, Mulyan menjelaskan, kapal tersebut diperkirakan tenggelam pada kedalaman antara 150-200 meter.

Kronologis lebih rinci, belum dapat dijelaskan. Sebab, para korban masih dalam keadaan trauma berkecamuk. Keterangan masih dihimpun.

“Saat ini belum diperoleh keterangan penyebab tenggelamnya kapal, termasuk upaya penyelamatan karena komunikasi ke Tanjung Mangkaliat terkendala,” terang Danlanal.

Kapal tersebut diketahui merupakan milik seorang warga Pare-Pare yang dikenal dengan nama H Saleba. Korban selamat saat ini ditampung di rumah warga yang merupakan keluarga anggota Posal Tanjung Mangkalihat Sertu Arman, di Tanjung Mangkalihat, Sandaram.

ABK yang selamat yakni Risman, Usman, Suparno, Datri, Yusran, Abdul Kadir, Ruslan, dan Samula. “Semua korban yakni nakhoda dan ABK, kini ditampung di kediaman  warga dalam keadaan sehat, semetara petugas Posal Tanjung Mangkaliat sudah melakukan pendataan tempat kejadian,” terang Danlanal.

Mulyan menuturkan, tindakan yang dilakukan saat ini yaitu memperdalam data kronologis kejadian. Speed Posal Tanjung Mangkalihat sudah berada di TKP untuk memastikan posisi tenggelamnya KLM Bunga Harapan.

Sebelumnya di perairan Tanjung Mangkalihat juga telah terjadi peristiwa sama. Kapal Tawarani Baru yang membawa tujuh penumpang, yakni seorang nahkoda bersama dua ABK dan para pemancing asal Sangatta, tenggelam karena bertabrakan dengan kapal tugboat pengangkut tongkag kosong pada 11 Februari.

Dalam kejadian itu tiga orang selamat, yakni Sukri (57), Marten (63) dan Zakaria (56). Sementara empat lainnya hingga kini belum ditemukan yakni Kardi (45), Seno, Rustam, dan Razak. Pencarian empat korban dikerahkan di perairan Toli-Toli, Gorontalo, oleh Basarnas. Sementara dari Kutim melakukan pantauan dan kordinasi. (mon)

Tenggelam di Perairan Tanjung Mangkalihat :

~Nama Kapal : KLM Bunga Harapan

~Nakhoda : Abdul Azis

~Pemilik : H Saleba

~Alamat : Pare-Pare Sulawesi Selatan

~ABK :
1. Risman
2. H. Usman
3. Suparno
4. Datri
5. Yusran
6. Abdul Kadir
7. Ruslan
8. Samula

~Muatan :
- Beras : 280 ton
- Telur : 218 ikat

~Kapal berlayar dari Pare-pare dengan tujuan Berau

~Korban jiwa : Nihil

~Kerugian Material :
- Sebuah kapal an KLM Bunga Harapan
- Beras 280 ton
- Telur 218 ikat

Pemkab Kutim Diminta Kerja Cerdas Tangani Banjir

SANGATTA - Musim hujan belum berakhir. Kutim masih rentan terhadap banjir. Pemkab pun diminta untuk cerdas, dengan mendata semua lokasi genangan, terutama di wilayah keramaian.

Bahkan, belum lama ini Satlantas Polres Kutim turun langsung ke jalan yang berlubang di Jalan APT Pranoto, Sangatta Utara, lalu menambalnya. Yakni, dengan biaya sendiri. Padahal, itu merupakan tugas Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kutim.

Kapolres Kutim AKBP Teddy Ristiawan melalui Kasat Lantas AKP Eko Budiyatno mengatakan, pihaknya terpaksa melakukan penambalan jalan itu karena kondisinya sudah mengkhawatirkan. Jika hujan lubag itu bisa menjadi genangan, bila banjir maka sulit terlihat sehingga berbahaya bagi pengendara.

"Itu lubang jalannya sudah cukup besar, sehingga mengganggu pengendara," ungkapnya.

Dalam musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) terakhir di Kantor Kecamatan Sangatta Utara, pembangunan drainase untuk mengatasi banjir banyak diusulkan para kepala desa. Penambalan jalan berlubang juga banyak diusulkan.

Ketua G20 Mei Kutim Irwan mengatakan, saat ini banyak sekali lokasi genangan di Kutim, terkhususnya di Sangatta. Hal itu perlu ditangani dengan cermat, meski dengan anggaran daerah yang terbatas karena defisit yang melanda saat inu.

Pemkab, lanjut lelaki yang karib disapa Fecho itu, harusnya bisa mencoba dengan menyusuri tiap jalan. "Coba saja di Sangatta dulu. Biayanya murah. Saat menyusuri jalan, hitung saja jumlah lubang yang ada, lalu dicatat lokasinya di mana saja, serta berapa besar dan kedalamannya," ungkap Irwan saat ditemui Kaltim Post di teras musala Kejari Sangatta, beberapa waktu lalu.

Dia menerangkan, hasil pendataan lubang genangan tersebut nantinya dikumpulkan, lalu dijadikan bahan untuk rapat bersama. Yakni, antara Dinas PU, Kecamatan, Desa, RT, hingga mengundang pihak swasta.

"Nanti bisa dilihat, mana lubang yang terparah, sehingga bisa diprioritaskan untuk ditindaklanjuti. Sebab, saat ini musim hujan. Kalau tidak diatasi, genangan akan semakin banyak," tukas dia.

Pun begitu, Irwan menekankan, agar pemkab fokus dalam penyelesaian masalah. "Kalau mau tangani genangan, mak fokus urusi itu. Jangan nanti belum selesai, malah mau ngurus yang lain lagi yang tidak jelas. Jadi, kerjakan yang jelas saja," pungkasnya.

Pantauan Kaltim Post, beberapa kawasan yang kerap tergenang air ketika hujan di Sangatta Utara antara lain, Jalan Soekarno Hatta, Jalan APT Pranoto sampai Kampung Kajang, Jalan Karya Etam, Jalan Dayung, Jalan Yos Sudarso III-IV sampai Simpang Telkom. Sementara di Sangatta Selatan hampir setiap tempat kerap tergenang banjir. (mon)

Rabu, 14 Maret 2018

Penanganan Kasus Penembakan Orangutan di TNK Mentok


SANGATTA - Setelah sekian lama melakukan serangkaian pemeriksaan, olah tempat kejadian perkara (TKP), hingga upaya lainnya, akhirnya Polres Kutim menyatakan kasus pembunuhan orangutan di Taman Nasional Kutai (TNK) sudah sampai ujung. Tak ada penambahan tersangka, baik kasus tersebut, maupun kasus sebelumnya.

Diketahui, orangutan di TNK tersebut dibunuh dengan cara ditembak menggunakan senapan angin, pada 3 Februari. Ditemukan 130 butir peluru senapan angin bersarang ditubuhnya, sehingga hewan yang dilindungi tersebut dinyatakan tewas pada 6 Februari. Lima orang warga di TNK Kecamatan Teluk Pandan, Kutim, ditetapkan sebagai tersangka.

Kapolres Kutim AKBP Teddy Ristiawan --foto atas-- mengatakan, hasil penyidikan sejauh ini sudah tidak ada lagi perkembangan kasus tersebut. Meski diakui, pihaknya berharap adanya keterkaitan para tersangka maupun saksi di sekitar TKP tersebut terhadap kasus pembunuhan orangutan sebelumnya pada 2016.'

"Ya, sejauh ini sudah mentok. Hanya sampai lima tersangka itu saja," ucap Teddy kepada Kaltim Post, Selasa (13/3).

Terkait kasus pembunuhan orangutan pada Mei 2016 yang tak jauh dari TKP kasus terakhir itu, Teddy menyatakan, sangat minim saksi. "Lagi pula, kasus yang sudah lama itu sudah jauh hilang jejaknya. Sulit mencarinya, karena sudah tidak terlalu diperdulikan lagi oleh orang-orang," imbuh dia, dalam wawancara terpisah pada waktu yang berbeda sebelumnya.

Kasat Reskrim AKP Yuliansyah menambahkan, saat ini kasus pembunuhan orangutan di TNK tersebut masih dalam pemberkasan. Sebelumnya, sudah melalui tahapan rekonstruksi, dan penambahan beberapa saksi. Diperkirakan, kasus bakal naik ke tahap I pada pekan depan.

"Bakal segera kami urus untuk segera dinaikkan lagi ke tahap II, diserahkan ke Kejari Sangatta," ucap mantan kasat reskrim Polres Kukar itu.

Perkembangan dalam pemeriksaan saksi-saksi, ungkap Yuliansyah, yaitu telah menetapkan istri dari tersangka Muis (36) menjadi saksi. Dalam keterangan perempuan tersebut, dia hanya mengakui berada di TKP saat terjadi aksi penembakan orangutan. Tidak dinaikkan menjadi tersangka karena pembiaran.

"Dia melihat mereka melakukan penembakan. Tapi hanya sebatas itu. Jadi dia hanya kami jadikan saksi. Adapun bagaimana kelanjutannya nanti, tergantung hasil di persidangan," ungkap Yuliansyah.

Diketahui, lima tersangka penembakan orangutan tersebut antara lain, Muis (36), Nasir (55), Andi (37), Rustam (37), dan He (13). Nasir merupakan ayah dari Rustam, mertua bagi Andi, sekaligus kakek dari He. Hanya He yang diberikan keringanan, karena merupakan siswa SMP yang masih di bawah umur. (mon)


Sejauh Apa Penanganan Kasus Penembakan Orangutan di TNK:

- Dalam proses pemberkasan, telah melalui rekonstruksi dan penambahan beberapa saksi
- Istri tersangka Muis ditetapkan sebagai saksi. Perempuan itu melihat kejadian penembakan
- Sudah mentok, tidak ada lagi perkembangan yang mengarah ke penambahan tersangka maupun pengungkapan kasus pembunuhan orangutan pada 2016
- Diperkirakan pemberkasan bakal naik ke tahap I pada pekan depan