SANGATTA - Pada era digitali ini semua orang dengan mudah mewartakan bahkan mengomentari kendala di daerah melalui media sosial. Kritik dan saran pun berseliweran bebas. Pemkab dituntut bekerja lebih keras, namun masyarakat justru balik diminta untuk berkomentar adil.
Bupati Ismunandar mengatakan hasil pencapaian dari sudut pemerintah bisa saja berbeda dengan warga seperti layaknya seorang fortografer yang mengambil angel dari berbagai sisi. Tapi yang jelas pemerintah tidak berpangku tangan melihat permasalahan yang dilaporkan dan dihadapi masyarakat.
Lelaki yang karib disapa Ismu itu membeberkan, pada awal masa kepemimpinannya bersama Wabup Kasmidi Bulang, Kutim tengah diterpa defisit. Pada 2015, APBD yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 137 Tahun 2015 sekira Rp 3,4 triliun untuk kebutuhan pada 2016. Lalu itu dipangkas sehingga menyisakan kurang lebih Rp 1,9 triliun, berdasarkan Perpres Nomor 66 Tahun 2016.
"Itu ibarat uang Rp 100 ribu yang dipersiapkan untuk list berbelanja, tapi kenyataanya hanya diberi Rp 60 ribu. Pada 2016, kami hadapi dengan kebijakan berdasarkan utang," tuturnya.
Dia juga mengungkapkan bahwa kewajiban Pemkab Kutim pada pihak ketiga atau utang mencapai Rp 320 miliar. Namun yang perlu diketahui bahwa pembayaran utang juga telah dilaksanakan sekira Rp 485 miliar pada 2016 hingga 2017. Lalu pada 2018 masih menyisakan Rp 287 miliar berserta kewajiban lain yaitu pembebasan lahan yang mencapai angka Rp 155 miliar.
"Saya optimis pada 2018 ini bisa diselesaikan (utang)," tegasnya, saat memaparkan ekspose capaian pembangunan Pemkab Kutim 2016-2017 tentang konsultasi publik dan forum perangkat daerah dalam rangka penyusunan rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) 2019, kemarin.
Wakil Bupati Kasmidi Bulang mengatakan, masyarakat boleh saja menyoroti kinerja pemerintah daerah. Apalagi, saat ini era digital, memudahkan segala komunikasi melalui media sosial. "Kami tahu, masyarakat menilai kinerja kami. Mereka mendesak agar kinerja diperbaiki. Padahal, kami sudah berupaya, namun hanya terkendala defisit anggaran," ucap Kasmidi.
Kasmidi meminta, agar masyarakat tidak hanya sekedar mengkritik, namun juga memberi solusi. Dia menyatakan, Pemkab Kutim juga memiliki sejumlah prestasi yang perlu diingat. Bukan hanya keburukan, sebab saat ini memang di mana-mana terjadi perlambatan ekonomi global.
"Seperti sangkulirang rock arts milik Kutim yang dinobatkan sebagai pariwisata terpopuler dan terfavorit oleh API (anugrah pesona Indonesia) 2017. Rekor MURI tari jepen masal, juga meraih WTP dari BPK RI pada 2017. Jangan hal negatif terus yang disebut tanpa mengingat yang positif," ucap dia. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar