Kamis, 20 Juni 2013

Wasiat Ucu Di Balik Frekuensi



Jangan pernah anda mengaku sebagai pecinta film kalau belum pernah nonton film “Di Balik Frekuensi”. Ya, ungkapan tersebut memang benar adanya saking pentingnya film tersebut bagi kita para pengguna frekuensi di Indonesia, khususnya pengguna televisi. Film ini adalah film dokumenter yang wajib sekali ditonton orang Indonesia agar apa yang sedang terjadi di balik layar televisi kita tidak lagi menjadi tanda tanya.
Film karya Ucu Agustin tersebut dapat membuat para pecandu televisi lebih cerdas lagi dalam menonton televisi. Bagaimana tidak? karena  film berdurasi 144 menit 27 detik ini mengungkapkan keadaan media di Indonesia saat ini yang dimanfaatkan oleh para pemilik media untuk kepentingan politik dan ekonominya masing-masing dengan menggunakan fasilitas publik tanpa memberi manfaat kepada publik. Ya, itulah yang sedang terjadi pada media di negeri kita yang telah dikemas dengan apik dalam film tersebut.
Namun sayangnya flm tersebut tersebut masih tergolong langka karena kepopulerannya masih belum sampai ke telinga-telinga orang awam. Buktinya film tersebut belum pernah diputar di bioskop-bioskop besar di Indonesia sejak pemutaran perdananya pada 24 januari 2012 di Blitz Megaplex, Grand Indonesia, Jakarta. Bahkan sampai saat ini di internet juga tak ada. Setelah lebih dari setahun, barulah di Samarinda saya berkesempatan untuk menontonnya pada 4 mei 2013 di sebuah acara mahasiswa di Universitas Mulawarman dalam pekan MayDay.
Sesuai dengan judul fimnya, “Di Balik Frekuensi” mengisahkan berbagai kejadian di balik saluran frekuensi layar televisi kita yang dapat membuat emosi kita meledak-ledak saat menontonnya. Ucu sangat mahir dalam memberi pengaruh sembari berkarya. Melalui kisah Lutviana seorang jurnalis MetroTV dan kisah Hari Suwandi korban lumpur lapindo, film ini mempelihatkan betapa banyak kepalsuan dan ketidakadilan akibat penguasaan media oleh para konglomerat pemilik media atau biasa disebut dengan istilah konglomerasi media.
Betapa malangnya nasib Lutviana, ia menjadi korban konglomerasi sehingga ia didiskriminasi di tempatnya bekerja, yakni di MetroTV. Saat menonton film ini, kisah kehidupan Lutvi sebagai jurnalis membuat penonton merasa prihatin dengan para jurnalis di Indonesia, terutama di daerah Jakarta. Lutvi diusir oleh satpam saat ia hendak bekerja. Ia dianggap sebagai musuh karena tindakannya melakukan aksi untuk membela para wartawan agar tak tunduk terhadap kuasa pemilik media yang  menyetir wartawan dalam meliput berita. Tindakan tersebut tidaklah salah, terlebih ia mendapat dukungan dari sesama wartawan. Namun janji palsu Surya Paloh yang didapat Lutvi di ujung kisah menimbulkan  kekecewaan bagi Lutvi dan menimbulkan rasa tak mau percaya terhadap janji penguasa pada diri penonton, terlebih saat Lutvi mendapat surat PHK.
Di lain kisah, Hari Suwandi juga menunjukkan semangat perjuangan untuk membela dan menuntut ganti rugi korban lumpur lapindo terhadap ARB. Bersama Harto Wiyono, aksi jalan kaki Hari Suandi sepanjang 800 km dari Sidoarjo-Jakarta selama satu bulan mendapat banyak dukungan dari orang-orang yang melihatnya melintas. Bahkan orang yang menonton ia di film juga terkagum-kagum. Namun, selalu saja kekuatan pemilik media dapat mengalahkan orang-orang pembela keadilan. Rasa kagum berubah menjadi kecewa, karena pak Hari mengecewakan semua pendukungnya. Ia tampak lunak setelah ia sampai di Jakarta. Air mata yang ia keluarkan di depan media televisi saat ia diwawancara pada siaran berita TVone membuat saya mengernyitkan dahi dan menggelengkan kepala sambil memendam rasa kecewa. Pak Hari menyatakan di depan TV bahwa ia menyesali tindakannya, dan menyatakan bahwa keluarga besar ARB mampu menyelesaikan masalah lumpur lapindo.
Entah apa yang terjadi di balik siaran televisi tersebut setelah pak Hari meninggalkan teman seperjuangannya Harto Wiyono di Jakarta untuk membeli susu. Tentu saja Harto Wiyono mendapati dirinya dalam kekecewaan yang mendalam saat ia mengetahui pak Hari teman seperjuangannya ada di siaran berita TVone yang saat itu menyatakan bahwa “ia (pak Hari) dimanfaatkan teman-temannya yang tidak bertanggung jawab untuk dijadikan tameng”. Kenapa ini bisa terjadi? Apa pak Hari disuap dengan uang sehingga ia menjadi lunak saat di depan TV? Tidak ada yang tahu, biarkan saja itu berlalu. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita menyikapinya.
Setelah penonton menyaksikan film ini, penonton tentu akan mengerti tantang isu apa yang coba Ucu angkat pada film tersebut. Kenyataan yang terjadi adalah zaman reformasi tidak lebih baik dari zaman orde baru. Orang akan berfikir bahwa semakin maju zaman maka semakin baik perkembangan pers di Indonesia. Namun setelah menonton film ini, kita akan mengerti bahwa pada kenyataannya kode etik penyiaran masih saja tidak diperdulikan. Pada zaman orde baru, pers memang seolah menjadi corong dari pemerintah sehingga para wartawan tidak bisa membuat berita lain tentang pemerintah, dan masyarakat tidak tahu apa-apa tentang pemerintah selain berita yang disetir oleh pemerintahan Soeharto. Sedangkan zaman reformasi, pers memang sudah tidak agi disetir oleh pemerintah, namun pers saat ini dikendalikan oleh para pemilik media yang masing-masing memiliki kepentingan politik dan ekonominya. Pada film tersebut diperlihatkan bahwa pada suatu tema berita yang sama, TVone memberitakan tentang korban lumpur lapindo yang menyatakan bahwa 9000 rumah yang menjadi korban lumpur sudah diganti dan 4000 lagi akan menyusul. Namun di TV lainnya memberitakan bahwa korban lumpur masih belum diganti rugi. Inilah yang dinamakan perang media massa. Mereka saling menjatuhkan dengan memberi berita negatif terhadap saingannya dan memberitakan berita positif bagi perusahaan medianya masing-masing. Coba tebak siapa yang jadi korbannya? Ya, lagi-lagi kita yang jadi korban. Sebagai masyarakat, sudah menjadi hak kita untuk memperolah informasi yang benar dan berimbang agar dapat meningkatkan kualitas hidup sebagai manusia. Tapi para penguasa media masih saja menggunakan perusahaan media miliknya untuk melancarkan kepentingan politik dan ekonominya sampai-sampai mereka melanggar kode etik penyiaran maupun kode etik jurnalistik televisi Indonesia kerena menyalahgunakan frekuensi rakyat.
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa tahta dan harta dapat membuat orang menjadi sadis dan membuat orang lain menjadi korban, seperti halnya yang dialami Lutvi. Disini saya sama sekali tidak bermaksud untuk membuat para pembaca berhenti menonton televisi, karena televisi adalah salah satu sumber hiburan dan informasi, sedangkan informasi dan pengetahuan sangatlah penting bagi kehidupan bermasyarakat. Lewat film “Di Balik Frekuensi” seolah Ucu berwasiat, bahwa kita harus membantu mensejahterakan media pers Indonesia dengan memperhatikan tayangan yang ditonton keluarga kita di rumah.

RAYMOND CHOUDA - 0902055219

Rabu, 12 Juni 2013

Serba Serbi Sarung Samarinda


        Apa anda mengenal ‘Sarung Samarinda’? Saya yakin bahwa anda tidak asing lagi dengan namanya, karena memang sarung samarinda adalah kerajinan tradisional Samarinda yang sudah terkenal sejak dulu. Namun, tahukah anda di mana sarung samarinda diproduksi dan bagaimana asal muasalnya?

        Belum lama ini (29/03/13) saya ikut serta dalam rombongan mahasiswa ilmu komunikasi-Universitas Mulawarman-Samarinda yang melakukan kunjungan dan pengamatan terhadap sarung samarinda dan obyek wisata yang berhubungan dengan sarung samarinda tersebut.
         Di seberang sungai Mahakam tepatnya di Samarinda Sebrang, terdapat sebuah pekampungan yakni kampung Pertenunan. Obyek wisata yang terletak di jalan Pangeran Bendahara gang Pertenunan ini adalah tempat diproduksinya sarung samarinda. Seperti namanya, kampung tersebut mayoritas warganya adalah penenun, merekalah yang telah turut mengharumkan nama Samarinda melalui karya mereka yang dikenal dengan sebutan sarung samarinda.

      Di sepanjang jalan kampung tersebut banyak terlihat para perempuan sedang asik menenun dengan alat tenunnya masing-masing di teras-teras rumah mereka. Kebanyakan dari mereka adalah dari kalangan ibu-ibu dan nenek-nenek. Tidak hanya itu, para remaja wanita mereka juga memiliki keahlian menenun, kerena kerajinan tenun tersebut merupakan warisan adat mereka yang terus diwariskan secara turun-temurun.

       Kerajinan sarung tenun tersebut awal mulanya dibawa oleh suku Bugis Sulawesi yang merupakan pendatang. Mereka mulai bermukim di daerah Samarinda Sebrang pada pertengahan abad ke-16 yang juga merupakan cikal bakal pendirian kota Samarinda. Berbekalkan keahlian tangan seni dan ilmu tenun, mereka menjalani keseharian sambil melakukan kebiasaan mereka, yaitu membuat sarung tenun untuk digunakan sendiri. Karena keindahan sarung tenun tersebut, akhirnya orang-orang yang melihat kemudian ikut menyukai keindahannya dan ingin juga memiliki sarung tenun tersebut. Hingga berujung menjadi barang yang diperdagangkan, lantas nama sarung samarinda pun terus melambung.
      Pak Mansyur, menantu dari pengelola para pengrajin yang menjadi pemandu kami menerangkan, bahwa sampai saat ini di sana terdapat sekitar 200 pengrajin. Keseluruhan dari pengajin itu adalah wanita, sedangkan para lelaki umumnya bekerja mencari nafkah di sungai Mahakam dengan menggunakan kapal kelotok untuk menyeberangkan penumpang. Para pengrajin biasanya membuat sarung tenun 2 – 3 minggu sekali, karena untuk menghasilkan sebuah sarung tenun bisa memakan waktu antara 15 – 20 hari.
      Proses pembuatan sarung samarinda ini berawal dari penggulungan benang yang telah diberi pewarna yang kemudian dimasukkan ke alat pemintal benang. Setelah selesai dipintal barulah hasilnya siap ditenun dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), maupun Gedokan (alat tenun tradisional). Setelah melewati tahapan menenun yang tidak mudah, kain tenun harus dijemur dahulu selama kurang lebih satu minggu. Nah, barulah hasilnya siap dipasarkan ke toko-toko maupun koperasi yang menyediakan tempat bagi sarung samarinda. Toko-toko tersebut kebanyakan berada di daerah samarinda sebrang.

          Pak Mansyur menjelaskan bahwa sarung samarinda memiliki kualitas yang baik karena benang yang digunakan adalah benang sutra spunsik yang diimpor dari Cina, sedangkan pewarnanya dari India. Selain sarung tenunnya, alat tenun yang digunakan para pengrajin tersebut juga merupakan karya seni. Terang saja, karena alat-alat tenun tersebut juga mereka buat sendiri dengan tangan seniman mereka. Alat-alat tenun itu kini telah berumur rata-rata 20 tahun. Alat-alat tenun itu masih tetap kokoh karena ia terbuat dari kayu ulin yang juga dikenal dengan sebutan kayu besi dan melewati proses selama kurang lebih 20 hari. Sebab prosesnya yang tidak mudah, jangan heran jika sarung samarinda memiliki nilai jual yang tinggi di pasaran.
      Pada masa-masa kejayaannya, sarung samarinda begitu diminati di semua kalangan, tak terkecuali orang-orang yang memiliki nama besar. Sampai-sampai beberapa nama corak sarung samarinda diambil dari nama-nama orang besar tersebut, yang tak lain adalah Hatta, Soeharto, dan Pertiwi.
        Seperti yang dikutip dari ‘Catatan tentang Sarung Samarinda-11^111’, bahwa pada tahun 1949, Bung Hatta mantan wakil presiden RI pergi ke samarinda sebrang. Ketika beliau diperkenankan untuk memilih salah satu corak yang ada, beliau memilih corak kotak besar yang diapit persegi panjang hitam yang dilintasi garis merah, biru, dan hitam yang pada saat itu bernama corak kemumu. Setelah saat itu corak kemumu diganti namanya menjadi corak hatta. Begitu juga dengan presiden RI kedua yakni Pak Soeharto yang nyaris selalu memilih corak kotak-kotak yang lebih kecil dengan warna yang berbeda saat beberapa kali beliau pergi ke Samarinda. Akhirnya corak tersebut dinamai corak soeharto. Namun berbeda dengan istri Wahab Syahranie mantan gubernur Kalimantan Timur, beliau sendirilah yang telah menciptakan corak pertiwi yang biasanya digunakan untuk seragam pertiwi.
         Seiring berjalannya waktu, kesohoran sarung samarinda kian memudar bersamaan dengan maraknya penjualan sarung samarinda ‘aspal’ (asli tapi palsu) buatan Gresik. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab utama pudarnya sarung samarinda. Kenapa disebut ‘asli tapi palsu’? karena pada sarung samarinda bajakan itu juga terdapat cap “sarung samarinda asli”. Akibatnya banyak orang-orang yang keliru saat bermaksud hendak membeli sarung samarinda yang asli, namun tanpa sengaja membeli sarung samarinda aspal tersebut karena tidak memiliki pengetahuan tentang sarung samarinda yang asli. Sarung samarinda aspal sangat mirip dengan sarung samarinda yang aslinya, sehingga banyak orang yang sulit untuk membedakannya. Terlebih lagi sarung samarinda aspal tersebut dijual dengan harga yang miring.
        Pada majalah 'Tempo, 22 juni 1985’ menerangkan bahwa “ada sekitar 110 pengrajin kain di Gresik, terutama terutama di desa Cerme dan sekitar jalan Malik Ibrahim memang memproduksi kain yang 90% bermotif Samarinda. Mereka mulai mengenal motif Samarinda tahun 1950-an.” Hingga sampai saat ini praktik peniruan besar-besaran ini masih terus berjalan. Bahkan sarung samarinda aspal kini sudah terkenal sampai ke Mancanegara, salah satu contohnya seperti negara Arab.
      Sama halnya seperti batik Indonesia yang dibajak Malaysia, tak ada yang dapat menghentikanya walau dikecam bagaimanapun. Tak ada peraturan yang melarangnya, dimana-mana orang bisa membuat batik maupun sarung samarinda tanpa ada yang melarang. Kerajinan tradisional tidak dapat dipatenkan. Lantas bagaimana kita menyikapinya?
   Untuk melestarikan kerajinan tradisional yang satu ini, anda boleh mengikuti 4 langkah (4M) berikut ini yang telah disiapkan oleh penulis, 
yaitu :
    1.    Mengenali.
Anda perlu mengenali sarung samarinda yang asli dan ciri khasnya. Antara sarung samarinda yang asli dan yang aspal sulit dibedakan baik dari kain maupun dari penampilannya, karena sarung aspal juga ada cap “sarung samarinda asli”. Jadi, kita bisa menggunakan dua cara mudah berikut untuk membedakannya. Cara yang pertama adalah dengan memperhatikan model jahitannya. Sarung samarinda yang asli dijahit di bagian tengahnya sebagai sambungan, sedangkan yang palsu tidak. Lebar alat tenun tidak cukup untuk membuat satu kain sekaligus, sehingga dua kain harus disambung menjadi satu untuk menghasilkan selembar sarung tenun. Kemudian cara yang kedua adalah dengan memperhatikan cap pada sarung. Sarung samarinda yang asli mencantumkan cap “sarung tenun asli Samarinda” beserta alamat pembuatnya, sedangkan sarung samarinda yang aspal hanya cap “sarung samarinda asli” tanpa alamat pembuatnya.
    2.    Membeli.
Tidak cukup jika kita hanya mengenalinya, kita juga harus membeli sarung samarinda yang asli. Memang benar bahwa harga sarung samarinda yang asli tidaklah murah. Namun jika kita masih saja membeli sarung samarinda aspal lantaran tergoda harganya yang murah, itu sama saja kita telah melestarikan sarung samarinda yang palsu, bukan yang asli! Anda bisa berkunjung ke toko-toko yang menjual sarung samarinda yang asli. Kebanyakan mereka berada di Samarinda Sebrang, di sana anda bisa mendapat banyak pilihan dengan kualitas yang original untuk melengkapi koleksi anda. Dengan begitu kita bisa melestarikannya.
    3.    Menggunakan.
Apabila anda memiliki sarung samarinda yang asli, sering-seringlah untuk menggunakannya. Variasikanlah dengan model-model pakaian anda yang lain secara serasi. Jangan menganggap bahwa sarung samarinda hanya dibuat dalam bentuk sarung / tapih. Sarung Samarinda juga banyak dibuat dalam bentuk lainnya seperti baju kemeja, celana, peci / kopiah, dan pakaian wanita. Jika kita sering terlihat menggunakan produk sarung samarinda yang asli, artinya kita telah mempromosikannya. 
    4.    Mengajak.
Ajaklah keluarga maupun teman-teman anda untuk membeli dan menggunakannya bersama. Sarung samarinda juga bisa anda jadikan sebagai suatu bingkisan, hadiah lomba, kado ulang tahun, maupun oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat anda di luar samarinda. Anda juga bisa menjadikan sarung samarinda sebagai pakaian komunitas anda. Hal ini akan memperkuat ikatan kebesamaan sekaligus menambah kecintaan kita terhadap kerajinan lokal.
Saat ini Pemerintah Samarinda juga tengah membangkitkan kembali kejayaan sarung samarinda. Pak Syahrie Ja’ang, Walikota Samarinda sangat memberikan perhatiannya kepada sarung samarinda dan para pengrajinnya, bahkan tak jarang beliau terlihat sedang mengenakan busana sarung samarinda.
Pak Mansyur sempat bercerita bahwa dulu Pak Walikota pernah berjanji kepadanya akan memperhatikan kerajinan sarung samarinda, dan ternyata itu terwujud. Pak mansyur mengaku tidak sulit dalam mengutarakan pendapatnya dan memiliki keakraban dengan Pak Ja’ang karena ternyata mereka dulu pernah bersekolah di SMA yang sama.     
Kabarnya tahun depan Pemerintah Samarinda akan merenovasi sebuah rumah adat (rumah panggung) yang berada di depan gang Pertenunan tersebut dan akan dijadikan sebagai salah satu obyek wisata Samarinda. Jelas ini akan mendukung daya tarik kampung Pertenunan. Rumah adat tersebut adalah rumah peninggalan suku Bugis yang diakui sebagai pendiri Kota Samarinda dan sudah berusia hampir 300 tahun. Walaupun usianya sudah setua itu, kenyataannya masih banyak penduduk asli Samarinda yang belum mengetahui rumah adat tersebut. Jika benar renovasi tersebut akan direalisasikan tahun depan, tentu daya tariknya akan membantu menarik perhatian masyarakat terhadap kampung Pertenunan dan sarung samarinda.

Tak hanya itu, ada lagi satu obyek wisata yang sering disangkut pautkan dengan suku Bugis para pengrajin tersebut (Bugis Wajo). Masjid Sirathal Mustaqiem, ia adalah masjid tertua di Samarinda yang terletak di Kelurahan Masjid Samarinda Seberang. Saya sempat mengunjungi pada hari yang sama setelah selesai mengelilingi kampung Pertenunan. Masjid ini adalah masjid tertua di Samarinda sejak ia didirikan pada tahun 1881. Saat suku Bugis Wajo berhijrah dari Sulawesi ke Samarinda, pertama kali kampung yang menjadi kediaman mereka adalah di daerah masjid ini. Masjid inilah yang menjadi tempat beribadah mereka, termasuk juga para pengrajin. Sebab mayoritas agama mereka adalah Islam dan memang suku Bugis terkenal taat dalam beragama. Jika anda berkunjung atau beribadah ke masjid ini terutama pada hari-hari besar Islam, tentu anda akan melihat banyak orang-orang warga setempat beribadah dengan menggunakan sarung samarinda. Tidak perlu heran, karena sejatinya memang merupakan kebiasaan orang-orang Islam di Indonesia beribadah dengan menggunakan sarung. Terlebih di daerah masjid tersebut, penduduk yang kebanyakaan termasuk keluarga dan kerabat para pengrajin gemar menggunakan sarung samarinda kebanggaan mereka.
Jadi, jika anda ingin mengetahui pembuatan sarung samarinda secara langsung, cara yang terbaik adalah dengan mengunjungi kampung pertenunan tersebut. Selain bisa menyaksikan pembuatannya secara langsung, anda juga bisa mengetahui langsung kehidupan para pengrajin yang hidupnya bergantung pada hasil penjualan sarung tenun tersebut. Penghasilan yang mereka miliki tidaklah banyak, namun mereka masih saja tetap teguh meneruskan kerajinan tradisional mereka. Mengetahui keadaan tersebut membuat hati menjadi prihatin kepada mereka, karena kenyataannya dari kita masih banyak yang tidak perduli dan malah gemar membanggakan produk-produk luar. Di sini penulis hanya sebatas memberi gambaran saja, berbeda sekali jika anda langsung berada di sana. Dengan begitu anda akan dapat menghayati suasana kampung pertenunan secara langsung. Kemudian anda bisa mengambil pelajaran dari sana, bahwa “jika tidak ada mereka lagi, lantas siapa yang akan memproduksi dan meneruskan perjalanan sarung samarinda di mata dunia?”.