Apa anda mengenal ‘Sarung Samarinda’? Saya yakin bahwa anda tidak asing lagi dengan namanya, karena memang sarung samarinda adalah kerajinan tradisional Samarinda yang sudah terkenal sejak dulu. Namun, tahukah anda di mana sarung samarinda diproduksi dan bagaimana asal muasalnya?
Belum lama ini (29/03/13) saya ikut
serta dalam rombongan mahasiswa ilmu
komunikasi-Universitas Mulawarman-Samarinda yang melakukan kunjungan dan
pengamatan terhadap sarung samarinda dan obyek wisata yang berhubungan dengan
sarung samarinda tersebut.
Di seberang sungai Mahakam tepatnya di
Samarinda Sebrang, terdapat sebuah pekampungan yakni kampung Pertenunan. Obyek
wisata yang terletak di jalan Pangeran Bendahara gang Pertenunan ini adalah
tempat diproduksinya sarung samarinda. Seperti namanya, kampung tersebut mayoritas warganya adalah penenun,
merekalah yang telah turut mengharumkan nama Samarinda melalui karya mereka
yang dikenal dengan sebutan sarung samarinda.
Di sepanjang jalan kampung tersebut
banyak terlihat para perempuan sedang asik menenun dengan alat tenunnya
masing-masing di teras-teras rumah mereka. Kebanyakan dari mereka adalah dari
kalangan ibu-ibu dan nenek-nenek. Tidak hanya itu, para remaja wanita mereka
juga memiliki keahlian menenun, kerena kerajinan tenun tersebut merupakan
warisan adat mereka yang terus diwariskan secara turun-temurun.
Kerajinan sarung tenun tersebut awal
mulanya dibawa oleh suku Bugis Sulawesi yang merupakan pendatang. Mereka mulai
bermukim di daerah Samarinda Sebrang pada pertengahan abad ke-16 yang juga
merupakan cikal bakal pendirian kota Samarinda. Berbekalkan keahlian tangan
seni dan ilmu tenun, mereka menjalani keseharian sambil melakukan kebiasaan
mereka, yaitu membuat sarung tenun untuk digunakan sendiri. Karena keindahan
sarung tenun tersebut, akhirnya orang-orang yang melihat kemudian ikut menyukai
keindahannya dan ingin juga memiliki sarung tenun tersebut. Hingga berujung
menjadi barang yang diperdagangkan, lantas nama sarung samarinda pun terus
melambung.
Pak Mansyur, menantu dari pengelola
para pengrajin yang menjadi pemandu kami menerangkan, bahwa sampai saat ini di
sana terdapat sekitar 200 pengrajin. Keseluruhan dari pengajin itu adalah
wanita, sedangkan para lelaki umumnya bekerja mencari nafkah di sungai Mahakam
dengan menggunakan kapal kelotok untuk menyeberangkan penumpang. Para pengrajin
biasanya membuat sarung tenun 2 – 3 minggu sekali, karena untuk menghasilkan
sebuah sarung tenun bisa memakan waktu antara 15 – 20 hari.
Proses pembuatan sarung samarinda ini
berawal dari penggulungan benang yang telah diberi pewarna yang kemudian dimasukkan
ke alat pemintal benang. Setelah selesai dipintal barulah hasilnya siap ditenun
dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin
(ATBM), maupun Gedokan (alat tenun
tradisional). Setelah melewati tahapan menenun yang tidak mudah, kain tenun
harus dijemur dahulu selama kurang lebih satu minggu. Nah, barulah hasilnya
siap dipasarkan ke toko-toko maupun koperasi yang menyediakan tempat bagi
sarung samarinda. Toko-toko tersebut kebanyakan berada di daerah samarinda
sebrang.
Pak Mansyur menjelaskan bahwa sarung
samarinda memiliki kualitas yang baik karena benang yang digunakan adalah
benang sutra spunsik yang diimpor dari Cina, sedangkan pewarnanya dari India.
Selain sarung tenunnya, alat tenun yang digunakan para pengrajin tersebut juga
merupakan karya seni. Terang saja, karena alat-alat tenun tersebut juga mereka
buat sendiri dengan tangan seniman mereka. Alat-alat tenun itu kini telah
berumur rata-rata 20 tahun. Alat-alat tenun itu masih tetap kokoh karena ia
terbuat dari kayu ulin yang juga dikenal dengan sebutan kayu besi dan melewati
proses selama kurang lebih 20 hari. Sebab prosesnya yang tidak mudah, jangan
heran jika sarung samarinda memiliki nilai jual yang tinggi di pasaran.
Pada masa-masa kejayaannya, sarung
samarinda begitu diminati di semua kalangan, tak terkecuali orang-orang yang
memiliki nama besar. Sampai-sampai beberapa nama corak sarung samarinda diambil
dari nama-nama orang besar tersebut, yang tak lain adalah Hatta, Soeharto, dan
Pertiwi.
Seperti yang dikutip dari ‘Catatan tentang Sarung Samarinda-11^111’,
bahwa pada tahun 1949, Bung Hatta mantan
wakil presiden RI pergi ke samarinda sebrang. Ketika beliau diperkenankan
untuk memilih salah satu corak yang ada, beliau memilih corak kotak besar yang
diapit persegi panjang hitam yang dilintasi garis merah, biru, dan hitam yang
pada saat itu bernama corak kemumu. Setelah saat itu corak kemumu diganti
namanya menjadi corak hatta. Begitu juga dengan presiden RI kedua yakni Pak
Soeharto yang nyaris selalu memilih corak kotak-kotak yang lebih kecil dengan
warna yang berbeda saat beberapa kali beliau pergi ke Samarinda. Akhirnya corak
tersebut dinamai corak soeharto. Namun berbeda dengan istri Wahab Syahranie
mantan gubernur Kalimantan Timur, beliau sendirilah yang telah menciptakan
corak pertiwi yang biasanya digunakan untuk seragam pertiwi.
Seiring berjalannya waktu, kesohoran
sarung samarinda kian memudar bersamaan dengan maraknya penjualan sarung samarinda
‘aspal’ (asli tapi palsu) buatan Gresik. Hal ini yang menjadi salah satu
penyebab utama pudarnya sarung samarinda. Kenapa disebut ‘asli tapi palsu’?
karena pada sarung samarinda bajakan itu juga terdapat cap “sarung samarinda
asli”. Akibatnya banyak orang-orang yang keliru saat bermaksud hendak membeli sarung
samarinda yang asli, namun tanpa sengaja membeli sarung samarinda aspal
tersebut karena tidak memiliki pengetahuan tentang sarung samarinda yang asli.
Sarung samarinda aspal sangat mirip dengan sarung samarinda yang aslinya,
sehingga banyak orang yang sulit untuk membedakannya. Terlebih lagi sarung
samarinda aspal tersebut dijual dengan harga yang miring.
Pada majalah 'Tempo, 22 juni 1985’ menerangkan bahwa “ada sekitar 110 pengrajin
kain di Gresik, terutama terutama di desa Cerme dan sekitar jalan Malik Ibrahim
memang memproduksi kain yang 90% bermotif Samarinda. Mereka mulai mengenal
motif Samarinda tahun 1950-an.” Hingga sampai saat ini praktik peniruan
besar-besaran ini masih terus berjalan. Bahkan sarung samarinda aspal kini
sudah terkenal sampai ke Mancanegara, salah satu contohnya seperti negara Arab.
Sama halnya seperti batik Indonesia
yang dibajak Malaysia, tak ada yang dapat menghentikanya walau dikecam
bagaimanapun. Tak ada peraturan yang melarangnya, dimana-mana orang bisa
membuat batik maupun sarung samarinda tanpa ada yang melarang. Kerajinan
tradisional tidak dapat dipatenkan. Lantas bagaimana kita menyikapinya?
Untuk melestarikan kerajinan
tradisional yang satu ini, anda boleh mengikuti 4 langkah (4M) berikut ini yang
telah disiapkan oleh penulis,
yaitu :
1.
Mengenali.
Anda perlu mengenali sarung samarinda yang asli dan
ciri khasnya. Antara sarung samarinda yang asli dan yang aspal sulit dibedakan
baik dari kain maupun dari penampilannya, karena sarung aspal juga ada cap
“sarung samarinda asli”. Jadi, kita bisa menggunakan dua cara mudah berikut
untuk membedakannya. Cara yang pertama adalah dengan memperhatikan model
jahitannya. Sarung samarinda yang asli dijahit di bagian tengahnya sebagai
sambungan, sedangkan yang palsu tidak. Lebar alat tenun tidak cukup untuk
membuat satu kain sekaligus, sehingga dua kain harus disambung menjadi satu
untuk menghasilkan selembar sarung tenun. Kemudian cara yang kedua adalah
dengan memperhatikan cap pada sarung. Sarung samarinda yang asli mencantumkan
cap “sarung tenun asli Samarinda” beserta alamat pembuatnya, sedangkan sarung
samarinda yang aspal hanya cap “sarung samarinda asli” tanpa alamat pembuatnya.
2.
Membeli.
Tidak cukup jika kita hanya mengenalinya, kita juga
harus membeli sarung samarinda yang asli. Memang benar bahwa harga sarung samarinda
yang asli tidaklah murah. Namun jika kita masih saja membeli sarung samarinda
aspal lantaran tergoda harganya yang murah, itu sama saja kita telah
melestarikan sarung samarinda yang palsu, bukan yang asli! Anda bisa berkunjung
ke toko-toko yang menjual sarung samarinda yang asli. Kebanyakan mereka berada
di Samarinda Sebrang, di sana anda bisa mendapat banyak pilihan dengan kualitas
yang original untuk melengkapi koleksi anda. Dengan begitu kita bisa melestarikannya.
3.
Menggunakan.
Apabila anda memiliki sarung samarinda yang asli,
sering-seringlah untuk
menggunakannya. Variasikanlah dengan model-model pakaian anda yang lain
secara serasi. Jangan menganggap bahwa sarung samarinda hanya dibuat dalam
bentuk sarung / tapih. Sarung Samarinda juga banyak dibuat dalam bentuk lainnya
seperti baju kemeja, celana, peci / kopiah, dan pakaian wanita. Jika kita
sering terlihat menggunakan produk sarung samarinda yang asli, artinya kita
telah mempromosikannya.
4.
Mengajak.
Ajaklah keluarga maupun teman-teman anda untuk membeli
dan menggunakannya bersama. Sarung samarinda juga bisa anda jadikan sebagai
suatu bingkisan, hadiah lomba, kado ulang tahun, maupun oleh-oleh untuk
keluarga dan kerabat anda di luar samarinda. Anda juga bisa menjadikan sarung
samarinda sebagai pakaian komunitas anda. Hal ini akan memperkuat ikatan
kebesamaan sekaligus menambah kecintaan kita terhadap kerajinan lokal.
Saat ini
Pemerintah Samarinda juga tengah membangkitkan kembali kejayaan sarung samarinda.
Pak Syahrie Ja’ang, Walikota Samarinda sangat
memberikan perhatiannya kepada sarung samarinda dan para pengrajinnya, bahkan
tak jarang beliau terlihat sedang mengenakan busana sarung samarinda.
Pak
Mansyur sempat bercerita bahwa dulu Pak Walikota pernah berjanji kepadanya akan
memperhatikan kerajinan sarung samarinda, dan ternyata itu terwujud. Pak
mansyur mengaku tidak sulit dalam mengutarakan pendapatnya dan memiliki
keakraban dengan Pak Ja’ang karena ternyata mereka dulu pernah bersekolah di
SMA yang sama.
Kabarnya
tahun depan Pemerintah Samarinda akan merenovasi sebuah rumah adat (rumah
panggung) yang berada di depan gang Pertenunan tersebut dan akan dijadikan
sebagai salah satu obyek wisata Samarinda. Jelas ini akan mendukung daya tarik
kampung Pertenunan. Rumah adat tersebut adalah rumah
peninggalan suku Bugis yang diakui sebagai pendiri Kota Samarinda dan sudah
berusia hampir 300 tahun. Walaupun usianya sudah setua itu, kenyataannya masih
banyak penduduk asli Samarinda yang belum mengetahui rumah adat tersebut. Jika
benar renovasi tersebut akan direalisasikan tahun depan, tentu daya tariknya akan membantu menarik perhatian
masyarakat terhadap kampung Pertenunan dan sarung samarinda.
Tak hanya
itu, ada lagi satu obyek wisata yang sering disangkut pautkan dengan suku Bugis
para pengrajin tersebut (Bugis Wajo). Masjid Sirathal Mustaqiem, ia adalah
masjid tertua di Samarinda yang terletak
di Kelurahan Masjid Samarinda Seberang. Saya sempat mengunjungi pada hari yang
sama setelah selesai mengelilingi kampung Pertenunan. Masjid ini adalah masjid
tertua di Samarinda sejak ia didirikan pada tahun 1881. Saat suku Bugis Wajo
berhijrah dari Sulawesi ke Samarinda, pertama kali kampung yang menjadi
kediaman mereka adalah di daerah masjid ini. Masjid inilah yang menjadi tempat
beribadah mereka, termasuk juga para pengrajin. Sebab mayoritas agama mereka
adalah Islam dan memang suku Bugis terkenal taat dalam beragama. Jika anda
berkunjung atau beribadah ke masjid ini terutama pada hari-hari besar Islam,
tentu anda akan melihat banyak orang-orang warga setempat beribadah dengan
menggunakan sarung samarinda. Tidak perlu heran, karena sejatinya memang
merupakan kebiasaan orang-orang Islam di Indonesia beribadah dengan menggunakan
sarung. Terlebih di daerah masjid tersebut, penduduk yang kebanyakaan termasuk
keluarga dan kerabat para pengrajin gemar menggunakan sarung samarinda
kebanggaan mereka.
Jadi,
jika anda ingin mengetahui pembuatan sarung samarinda secara langsung, cara
yang terbaik adalah dengan mengunjungi kampung pertenunan tersebut. Selain bisa
menyaksikan pembuatannya secara langsung, anda juga bisa mengetahui langsung
kehidupan para pengrajin yang hidupnya bergantung pada hasil penjualan sarung
tenun tersebut. Penghasilan yang mereka miliki tidaklah banyak, namun mereka
masih saja tetap teguh meneruskan kerajinan tradisional mereka. Mengetahui
keadaan tersebut membuat hati menjadi prihatin kepada mereka, karena kenyataannya
dari kita masih banyak yang tidak perduli dan malah gemar membanggakan
produk-produk luar. Di sini penulis hanya sebatas memberi gambaran saja,
berbeda sekali jika anda langsung berada di sana. Dengan begitu anda akan dapat
menghayati suasana kampung pertenunan secara langsung. Kemudian anda bisa
mengambil pelajaran dari sana, bahwa “jika tidak ada mereka lagi, lantas siapa
yang akan memproduksi dan meneruskan perjalanan sarung samarinda di mata
dunia?”.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar