Sabtu, 23 November 2019

Beralih ke Blog Lagi, Terapi Menulis


Ini bukan tulisan yang kudedikasikan untuk dibaca publik. Ini cuma artikel biasa, catatan harianku sebagai diriku sendiri, bukan sebagai wartawan atau apalah itu namanya.

Sangatta, Minggu 24 Nov 2019

Pagi ini aku bangun lebih pagi dari biasanya, tapi lebih siang dari kebanyakan mereka yang solat subuh berjamaah di masjid. Aku melanjutkan aktivitas yang lebih produktif dari hari-hari sebelumnya.

Mulai jalan santai keliling komplek gak pake sandal, liat-liat pohon mangga tetangga siapa tau ada buah yg jatoh, bantu-bantu mertua bersihkan rumah, cuci motor, dan... ini sekarang aku menulis.

Hari ini entah apa yang merasukiku, aku lebih rajin aja dari biasanya. Bosan tidur pagi. Maunya nikmati hidup aja, apa aja itu. Mungkin aku baru sadar bahwa hidup ini gak bisa dinikmati kalau kita tidur. Ambyarrr... Kok baru nyadar, umur dah tuek, 28 tahun. Ahh...

Aku mau merutinkan menulis di blog lagi. Seperti dulu kala ketika aku gak pernah rutin nulis di blog. Maafkan ketidakjelasan ini. Tapi sebenarnya dulu emang sering nulis di buku catatan harian yg juga gak setiap hari ditulis. Ya... bukunya ditulis kalau lagi galau aja.

Bukunya itu selalu kusembunyikan di suatu tempat. Bahkan istriku sendiri gak kubolehkan buka buku itu. Soalnya keramat. 

Ngomong-ngomong, website liputanraymond.com yang kugagas tahun lalu sudah habis masa. Tulisan-tulisan tentang traveling dan perjalanan kuliner yang kuwacanakan di web itu sulit direalisasikan. Penyebabnya karena banyak hal, gak bisa kusebut kan. Nanti lah kubahas di artikel lainnya. 

Karena blog ini akan kupublikasikan, yang artinya boleh dibaca publik, biar seru aja, jadi aku mungkin akan berekspresi di sini aja. Tanpa ketegangan apa-apa, karena ini bukan chanel berita yang membawa nama perusahaan yang harus dipertanggungjawabkan. Tapi tetap, aku sama sekali gak berharap tulisan ini dibaca dan viral. Gak mau... 

Tentang foto di atas, itu cuma testing aja. Karena blog ini sudah lama kuvakumkan, dan waktu itu kucoba upload foto tapi gak bisa muncul. Makanya ini kucoba aja lagi. 

Tentang Foto di Atas

Ya sedikit cerita, foto di atas itu adalah saya bersama teman-teman wartawan Sangatta AJKT, ketika menghadiri undangan makan siang bersama Dandim 0909 Sangatta Letkol Czi Pabate. Itu kami berfoto bersama Pak Kasdim Mayor Inf Jon Young Saragi. Beliau dekat dengan wartawan. Saya, juga termasuk orang yang dekat dengan beliau.

Biar kujelaskan sedikit. Di foto itu, di baris depan dari kanan itu saya, lalu Kasdim, Bang Sukri, dan Mbak Angie. Di barisan belakang itu ada Amri (muka Amri cuma keliatan sebelah matanya aja karena ketutupan saya dan Kasdim), lalu Ardan, Bang Ramli, dan yang paling belakang itu yang mukanya nyempil sedikit itu Rezki. 

Kembali ke laptop. 

Jadi di artikel kali ini, memang gak akan menjelaskan tentang apa-apa. Cuma sekedar nulis-nulis biasa aja. Karena menulis ini sebenarnya dari dulu sebelum aku jadi wartawan, selalu kujadikan media untuk semacam terapi. 

Anda barang kali perlu tahu lebih jauh tentang ini. Menulis itu bisa bikin tenang. Ketika kita menumpahkan isi pikiran dan unek-unek di hati, itu bisa bikin tenang. Apalagi kalau artikel random seperti artikel ini. Mungkin beberapa orang menilai gak ada faedahnya. Tapi bagi si penulis, saya, ini dampaknya menenangkan pikiran. Silahkan dicoba. 

Saya sebagai orang yang sehari-hari bertugas membuat berita untuk dipublikasikan di media, sering dibuat tegang kalau menulis. Karena saya harus selalu menjaga etika jurnalistik dalam liputan dan dalam penulisan. 

Tau kan, wartawan itu akan berhadapan dengan masalah hukum jika pekerjaannya bermasalah. Sebaliknya, jika tulisannya sukses, dampaknya bisa membuat citra orang lain meningkat, atau mampu mengungkapkan keburukan/kejahatan di masyarakat sehingga salah satu pihak terpaksa harus mengalami kerugian. Bahkan ada senior saya yang tulisannya itu pernah berdampak membuat orang masuk ke penjara. 

Nah, tapi tidak pada artikel semacam blog ini. Ini hanya platform biasa dan pribadi bagi saya. Di sini saya bebas mau menulis apa saja, mau bikin kesalahan penulisan bagaimana saja, baik salah EYD maupun salah ketik/typo. Gak ada yang marah. Yg baca pun g4k bol3h m4r4h. Suk4-suk4 aku don9. 

Ya sudah itu aja.

Eh, sebentar dulu. Ngomong-ngomong, beberapa artikel di blog ini pernah kuposting dulu, waktu masih kerja di koran, waktu itu aku baru belajar nulis di online. Blog ini sudah dibikin sejak zaman kuliah dulu. Lama betul sudah, 2 hari sebelum Masehi (yg ini waluh). 

Ya sudah itu aja. 

Senin, 21 Januari 2019

LDII Kutim Sukses Gelar Iktibar, 140 Peserta Setor Hafalan Alquran

SANGATTA - Ikhtibar tingkat kabupaten sukses dilaksanakan DPD LDII Kutai Timur di Komplek Masjid Ulul Albaab, Jalan Permai Raya, Kecamatan Sangatta Utara, Kutim, pada Minggu (20/1). Kegiatan tersebut merupakan program pembinaan generasi penerus (generus) LDII Kutim bidang hafalan Alquran.

Iktibar kali ini melibatkan 140 peserta dan 173 pendaftar, mulai dari usia dini sampai dewasa, dari Kecamatan Kaubun sampai Sangatta Selatan. Hafalan Ayat Quran yg di-iktibar-kan bervariasi, mulai dari ayat pada juz 30, 29 dan 1.

Ketua DPD LDII KH Muflihun mengatakan, tujuan diselenggarakannya iktibar tersebut adalah untuk mengukur jumlah hafalan tholib dan tholibah atau hafidz dan hafidzah warga LDII. Baik secara kuantitas maupun kualitas hafalan bacaan Alquran. Diharap mampu menerapkan bacaan sesuai dengan kaidah.

"Kami berharap semua warga LDII termotivasi meningkatkan hafalan dan pemahaman isi makna Alquran. Tapi, ini bukan sekedar ajang menunjukkan kemampuan dalam menghafal ayat Alquran, peserta kami ingatkan terus agar jangan mengesampingkan niat utama yaitu untuk mencari rohmat Alloh," ungkap Muflihun.

Dia berharap, ke depannya semakin banyak bermunculan penghafal yang memahami isi dan kandungan ayat Alquran. InsyaAllah, iktibar berikutnya akan digelar pada Juni 2019.

"Pesan kami kepada seluruh pembina dan guru tahfidz, mari lebih semangat dalam memberikan ilmu dan kemampuan kita kepada anak didik kita, dengan dilandasi niat mukhlis karena Allah semata, sehingga bisa jadi amalan andalan, dan lahan pahala jariyah," ungkap lelaki yang juga dewan penasihat MUI Kutim itu. (*)