Senin, 12 Februari 2018

Asyiknya Membangun Kerajaan Transformers di Kamar Sendiri

KOLEKTOR Transformers di Kaltim masih langka. Apalagi di Sangatta, Kutim, benar-benar terbatas. Itu sebabnya kesabaran khusus dan kemandirian dibutuhkan dalam membangun kerajaan Transformers  bagi penggilanya.
Seperti yang dilakukan Gen-T Sangatta, membangun bersama para pencinta action figurelainnya. Mungkin memang, mengoleksi Transformers sendirian seolah terkesan sangat eksklusif.
Pengoleksi Transformers salah satu dari Gen-T Sangatta Teddy Raharjo menjelaskan, harga figur Transformers yang bikin kantong meringis mungkin menjadi pertimbangan seseorang untuk mengoleksinya. “Sebab perlu waktu untuk mengumpulkan mainan itu. Satu per satu dikumpulkan, perlu kesabaran. Sebab itu, diperlukan teman biar semangat,” ucap dia.
Dijelaskan, para penggiat  figur Transformers  di Kaltim jumlahnya bisa dihutung jari. Tidak karena penyukanya kurang, juga sebab kelangkaan barangnya. Sulit untuk didapatkan.
Bagi yang serius mengoleksi, lanjut dia, tentu dapat menilai bahwa figur "yang itu-itu saja" bisa membosankan. Sebab, dulunya Transformers masih bisa ditemui di beberapa toko. Tapi kini tidak lagi, semenjak adanya larangan oleh Kementerian Keuangan terhadap barang impor, sehingga dibatasi penjualannya.
"Sebenarnya cari di toko dalam negeri ada, tapi sulit menemukan barang yang sesuai selera. Apalagi yang versi kartun, sulit dicari stoknya," ungkap pria 37 tahun itu.
Diterangkannya, untuk mencari figur aksi Transformers  yang barangnya ready di Indonesia, sangat jarang. Mungkin sesekali bisa ditemui di toko online, seperti Tokopedia dan sejenisnya. Tapi bila ada barang yang ready, segera habis di pasaran, meskipun dengan harga tinggi. “Jadi, cara paling efektif adalah memesan barang dari luar negeri, melalui berbagai situs. Itu pun memerlukan waktu yang tak cepat. Jadi memang harus sabar,” sebutnya.
Dikatakannya, banyak Transformers  yang keren. Seperti Decepticon milik Irnanda, yakni Devastator yang merupakan gabungan enam figur. Bila sudah digabungkan Devastator, tingginya mencapai 50 sentimeter. Dulu, harganya Rp 4 juta. “Tapi lambat laun setiap figur aksi Transformers naik,” pungkasnya. (*)
http://kaltim.prokal.co/read/news/310405-meski-sulit-harus-bangkit.html

Sabtu, 10 Februari 2018

Neraka Kecil Mapolres Kutim Semakin Sesak

SANGATTA - Jajaran Polres Kutim terus rutin melakukan aksi penangkapan pelaku kejahatan. Begitu juga Kejaksaan Negeri Sangatta, para pelanggar hukum terus diadili. Sayang, penegak hukum masih terkendala sel tahanan yang sangat terbatas. Saat ini, para pelanggar hukum negara dari 18 kecamatan di kabupaten yang memiliki 139 desa itu, diganjar hukuman kurungan badan hanya di Mapolres Kutim. Ironis, jumlah tahanan saat ini sudah melebihi kapasitas hingga tiga kali lipat. Kapolres Kutim AKBP Teddy Ristiawan menjelaskan, sampai saat ini sudah terdapat sekira 170 orang tahanan yang dikurung di sel Mapolres Kutim. Jumlah itu, sangat mengkhawatirkan. Sebab jika ditinjau dari jumlah kapasitas sebenarnya, sel tahanan satu-satunya di Kutim itu hanya boleh menampung 50 orang. "Saya memang baru bertugas di Kutim, belum genap sebulan. Tapi saya sudah tahu kisah di Polres Kutim, bahwa sejak lama jumlah tahanan di sini over kapasitas. Hal ini sempat jadi masalah di institusi penegak hukum dulunya," ungkap dia, saat diwawancarai pada pekan lalu. Teddy mengaku, sempat melakukan tinjauan langsung ke dalam sel. "Saya sudah cek ke dalam sel, dan minta para tahanan untuk memperagakan bagaimana keadaan saat mereka tidur. Ternyata sungguh sesak, benar-benar tak layak," papar mantan kapolres Penajam Paser Utara (PPU) itu. Dia menjelaskan, dari jumlah 170 tahanan tersebut, cenderung lebih banyak tahanan dari Kejari Sangatta. Yakni, sekira 100 orang pelanggar hukum dari kejaksaan, dan sisanya merupakan tahanan kepolisian. Adapun tahanan dari kejaksaan, sebenarnya tidak permanen. Namun jumlahnya memang tidak sedikit. Tahanan Kejari Sangatta biasanya akan dioper ke Lapas Bontang jika proses peradilan hukumnya sudah dinyatakan cukup. Dia memaparkan, bentuk ruang sel tahanan Mapolres Kutim saat ini di tiap ruangnya adalah seluas sekira 5x5 meter persegi. Saat ini, tiap ruangan itu dihuni rata-rata sampai 20 orang. "Sebenarnya, jumlah penghuni sebuah ruangan di sel tahanan tersebut hanya sampai lima orang saja," ucap Teddy. Diketahui, berdasarkan kategori pelanggaran hukum, jumlah tahanan dari kepolisian yang mendominasi adalah tersangka pengedar dan pemakai narkoba. Sementara banyaknya kasus yang diungkap di Kutim sepanjang 2017 oleh Satresnarkoba yang dipimpin Iptu Abdul Rauf adalah sebanyak 122 kasus. Yakni, dengan barang bukti sitaan terbanyak dari jenis sabu-sabu dengan total seberat 274,84 gram sepanjang 2017. (*) Jumlah Tahanan di Mapolres Kutim: Tahanan di Sel 170 orang Tahanan Polres 70 orang Tahanan Kejaksaan 100 orang Kapasitas 50 orang Tiap Ruang Sel Dihuni 20 orang Kapasitas Ideal Ruang Tahanan 5 orang Luas Ruang Tahanan 5x5 m2

Jalan Muara Bengkal Kampungnya Chandra Idol Jadi Bubur Lagi

SANGATTA - Hujan yang mengguyur tanah Kutim sekira empat hari berturut belakangan ini, membuat jalanan berubah menjadi bubur di kampungnya Chandra Idol, Kecamatan Muara Bengkal, Kutim. Begitu juga kecamatan sekitarnya di Muara Ancalong, Long Mesangat, Batu Ampar, hingga Busang.
(baca juga berita lebih lengkapnya di harian Kaltim Post, edisi 12/2/2018)
Hal ini menjadi viral di jagat maya, beberapa netizen mengupload kebengisan jalanan di daerah yang jauh dari jangkauang pusat pemerintahan itu. Ada sebuah foto lucu yang beredar, sindiran warga terhadap pemerintah, mereka bercocok tanam di kubangan lumpur. Itu menjadi bahan tertawaan di sebuah grup Whatsapp.
Sementara di facebook, seorang netizen bernama akun Syamsul memposting gambar jalanan bubur ke sebuah grup jual-beli lokal, Jumat (9/2) pukul 16.44 Wita. Ratusan komentar dan like memenuhi postingan tersebut.
"Ini kondisi jalan menuju Muara Bengkal, Muara Ancalong, Long Mesangat, Batu Ampar, Busang. Kapan kami masyarakat dari pedalaman mendapat perhatian dari pemerintah," ucap netizen Syamsul dalam keterangan gambar yang dipostingnya.
Tampak pada foto yang diambil dengan kamera amatir tersebut, sebuah kendaraan alat berat jenis eksavator berwarna kuning sedang bekerja merapikan tanah agar bisa dilalui kendaraan lain. Beberapa warga dan pekerja terlihat sedang bekerja, dan ada pula yang istirahat. Sementara di sudut ujung ada warga berkendaraan motor dua tak yang sedang mengantre.
"Semoga lebih diperhatikan pemerintah. Kasihan kalau dalam keadaan darurat," ucap netizen Hasna Via Ardi dalam kolom komentar.
"Kalau ada yang sakit berat atau mau dirujuk ke Samarinda gimana ya kalau lagi ngantri gitu. Mencekam juga sih bayanginnya," ujar netizen bernama akun Irwan Fecho.
Warga net lainnya Bau Irawan menyatakan, status jalan tersebut merupakan milik sebuah perusahaan hutan tanaman industri (HTI). Lantas, perusahaan tersebut yang harus memperbaikinya. (*)



Jumat, 09 Februari 2018

Kapolres Kutim Akui Sulit Mengungkap Kasus Orangutan Tewas

SANGATTA - Sejauh ini, perkembangan tentang orangutan yang tewas tertembak 130 butir peluru senapan angin, belum ditemukan pelakunya. Mamalia yang ditemukan sekarat di danau Taman Nasional Kutai (TNK) di Desa Teluk Pandan, Kutim, Kaltim, pada Sabtu (3/7), masih penuh tanda tanya.
Tak hanya luka tembak. Tangannya juga terluka karena sabetan benda tajam. Dua matanya bahkan sampai buta. Dari 130 butir peluru senapan angin yang bersarang di primata berusia sekira 6–7 tahun itu, 74 di antaranya berada di kepala.
Berdasarkan hasil autopsi, luka tembak ada yang sudah lama. Tapi, tidak sedikit yang masih baru. Itu menunjukkan bahwa orangutan tersebut sering kali menjadi sasaran tembak, bukan pada waktu yang bersamaan.
Polres Kutim berupaya mengungkap kasus pembunuhan orangutan beberapa waktu lalu di Taman Nasional Kutai (TNK), Kecamatan Teluk Pandan, Kutim. Kapolres Kutim AKBP Teddy Ristiawan menegaskan, pihaknya memeriksa saksi terdekat dari tempat kejadian perkara (TKP) sebanyak-banyaknya. Sejauh ini, telah ada 15 saksi diperiksa. Pihaknya juga berupaya mengumpulkan berbagai barang bukti dan menelitinya.
“Dari 15 saksi yang diperiksa, beberapa pemilik kebun, pelapor pertama, dokter yang melakukan autopsi, pihak TNK, dan warga di sekitar TKP yang memiliki lahan. Namun, saksi yang mengetahui persis kejadian ini tidak ada,” ujarnya saat diwawancara pada Kamis (8/2).
Keterangan TNK yang dihimpun Teddy, TKP masuk dalam kawasan TNK dari seluas 120 ribu hektare lahan yang terhampar di Kutai Timur dan Kutai Kartanegara (Kukar). Namun, secara de facto, akhirnya dikuasai warga. Lahan TNK sebagian besar digunakan warga untuk perkebunan, di antaranya kebun sawit, nanas, dan tanaman kayu. Itulah yang menjadi alasan berbagai kalangan bisa keluar masuk hutan tersebut secara bebas. Tak ada pula perusahaan yang menguasai lahan di sekitarnya.
Hasil autopsi resmi, Teddy menjelaskan, 48 peluru yang mampu dikeluarkan oleh dokter terdiri dari 40 butir di bagian kepala dan 8 butir dari sekitar badan. Sisa peluru lainnya diketahui bakal dikuburkan bersama jasad satwa liar itu. Teddy menegaskan, pihaknya bakal melakukan penelitian senapan angin dan mencari tahu apakah ada unit yang memiliki kemampuan mengeluarkan banyak peluru dalam satu tembakan.
“Sebab belum dapat dipastikan, apakah kematian hewan tersebut disebabkan dalam satu kejadian penembakan oleh seseorang atau sekelompok orang atau mungkin terbunuh oleh banyak peluru dalam jangka waktu panjang. Hasil penembakan berkali-kali oleh pemburu yang berbeda,” ulasnya.
Ada pula kemungkinan lainnya. Teddy menduga seorang atau sekelompok manusia menembak hanya karena ingin mengusir. Atau bisa juga merupakan hasil perburuan yang gagal. “Banyak kemungkinan. Jadi, belum tentu terbunuh karena satu alasan ingin diburu,” terangnya.
“Tapi, berdasarkan keterangan saksi di lingkungan sekitar TKP, warga menyatakan tidak ada yang mendapat gangguan orangutan. Jadi, kecil kemungkinan penembakan dilakukan warga karena ingin mengusir,” imbuh dia.
Dinyatakannya kasus ini termasuk sulit diungkap karena minim saksi, sebab kejadian berada di dalam hutan sehingga sulit terpantau siapa saja. “Tembakan menggunakan senapan angin. Dari peluru yang kami lihat tersebut, tentu suatu tembakan yang tidak menimbulkan suara keras. Jadi, kemungkinan besar saat ditembakkan tidak ada saksi yang mendengarnya. Berbeda jika dilakukan dengan senjata api yang lebih gahar,” ungkap dia.
Adapun langkah konkretnya, ujar Teddy, Polres Kutim akan melakukan patroli rutin di kawasan TNK bersama petugas TNK dan warga guna mencegah terulangnya kejadian serupa. Sebab, berdasarkan hasil pantauan lapangan, terdapat sekira empat sarang orangutan di kawasan yang tak jauh dari TKP ditemukannya orangutan. Adapun beberapa kasus serupa yang terjadi di Kutim sebelumnya, dinyatakan Teddy, bukan orangutan yang dibunuh dengan sengaja. “Yang jelas, kami fokus dulu melakukan pengungkapan kasus ini sampai tuntas,” tandas mantan Kapolres Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tersebut. 
Matinya orangutan dengan 130 tembakan menambah panjang daftar konflik hewan dilindungi itu dengan manusia. Sejak 2012, Centre for Orangutan Protection (COP) mencatat, ada 27 kasus orangutan ditembak. Tujuh di antaranya terjadi di Kaltim. Sisanya tersebar di Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), Sumatra Utara (Sumut), dan Riau. (*)
http://kaltim.prokal.co/read/news/323769-bakal-dikubur-dengan-82-peluru-di-tubuh.html
http://kaltim.prokal.co/read/news/323854-susah-diungkap-15-saksi-diperiksa.html

Chandra dan Dukungan

SATU nama lagi dari Kaltim mencuat di kancah nasional, menyita perhatian seantero Indonesia. Chandra Wahyudi, penyanyi yang membawa nama Samarinda di ajang pencarian bakat idola di TV swasta itu, membuat bangga Samarinda. Di balik kepopuleran itu, dia mengecewakan sebagian warga Kutim.

*Sebuah Opini Lepas

RAYMOND CHOUDA, Sangatta

Diketahui, pemuda 24 tahun itu lolos dari babak audisi Indonesian Idol dengan kesuksesan lebih. Namanya viral di media sosial, karena berhasil membuat salah satu juri, Maia Estianty, menyatakan bahwa dirinya meleleh akibat tipe suara Chandra yang disebutnya jantan. Bahkan ditambahkan Ari Lasso dengan kata ‘merembes’.

Nama Chandra terus melejit. Video tentang dirinya sudah beredar luas di jagat maya, diulas habis-habisan di Youtube, dan memiliki jutaan viewers.

Chandra yang merupakan warga asli Kecamatan Muara Bengkal, Kutim, didukung oleh warga Kutim sampai ke Jakarta. Tertangkap kamera beberapa orang penting dari Kutim dan jajarannya berada di bangku penonton, meneriakkan dukungan di depan panggung acara TV swasta itu.

Sayangnya, dia membawa nama Samarinda. Padahal, para pendukungnya yang datang dari Kutim, sudah tampil dengan pakaian yang menonjolkan nama Kutim, yakni baju bergambar Sangkulirang Rock Arts. Tentu mereka bermaksud membawa nama pariwisata alam andalan Kutim yang berusia jutaan tahun tersebut sebagai karakter Kutim.

Di balik sorak-sorai di ibu kota negara, banyak warga Kutim yang menyatakan kekecewaannya, karena Chandra bernyanyi di panggung tersebut dengan membawa nama Samarinda. Sebab diketahui, setelah lolos audisi, lelaki berambut kribo itu langsung datang ke Sangatta, menemui Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang dan beberapa pejabat pemkab lain, lalu meminta “dukungan”. Tentu pemkab tidak tega jika hanya memberi dukungan moral, tentu dibarengi materi.

Tulisan ini bukan ingin membahas rasa kecewa warga Kutim terhadap drama panggung idola tersebut. Chandra pun tidak salah. Sebab, saya yang merupakan warga asli Samarinda tahu, bahwa dia cukup lama berkarier musik di ibu kota Kaltim. Bahkan beberapa kali, dia menjuarai kompetisi musik lokal.

Tetapi tidak dapat dimungkiri, dirinya yang meminta dukungan ke Pemkab Kutim dan telah mendapatkannya, sebenarnya diharap membantu mengangkat nama daerah. Hal ini kasuistik sekali.

Banyak contoh kasus, ketika para seniman mampu membawa nama dirinya ke kancah nasional, secara otomatis itu membukakan pintu untuk mengharumkan nama daerah. Semakin banyak putra daerah yang berkarya di Ibu Kota, semakin terdengung nama suatu daerah.

Katakan saja Jogjakarta, Bandung, Bali, atau Medan. Masih bagus lagi nama Papua dalam hal seni. Atau terdekat, Banjarmasin dan Balikpapan. Dua kota itu jauh lebih dikenal dibanding Samarinda maupun Kutim. Ketika semakin banyak orang Kaltim sukses, meningkat pula nama kota yang dibawanya.

Ini sebenarnya merupakan pengalaman yang patut jadi catatan khusus. Sebelumnya, ada kejadian, di mana saat band asal Samarinda, yakni ZerosiX Park berhasil menjadi runner-updi ajang pencarian bakal TV swasta lainnya, Rising Star Indonesia, Pemprov Kaltim buru-buru memberi dukungan, dipimpin seorang bakal calon gubernur yang masih menjabat sekprov Kaltim.

Padahal, sebelumnya tak ada dukungan seperti itu. Beruntung Chandra mendapat dukungan lebih dulu, tidak seperti ZerosiX Park yang sedikit terlambat didukung. Seandainya dukungan pemerintah daerah dipersiapkan jauh hari, tentu akan lebih banyak nama dari Samarinda, Kutim, dan daerah Kaltim lainnya.

Tidak perlu uang banyak. Pemerintah hanya perlu rutin menyiapkan panggung yang terkonsep dan rutin digelar, serta forum musisi yang terorganisasi. Lalu, target musisi yang akan dijadikan andalan, serta bimbing orang-orang yang berpotensi. Jadikan hal itu didukung masyarakat luas. Mudah-mudahan banyak Chandra Kaltim lainnya yang mengharumkan nama daerah.

Diketahui, Chandra sempat menyebutkan nama Sangatta --meski tidak dengan penegasan bahwa Kutim adalah daerah asalnya. Namun apapun itu, selayaknya putra daerah seperti Chandra, atau calon bintang lainnya, mendapat dukungan tambahan dari Pemprov Kaltim. Jadi, mau dari Kutim ataukah Samarinda, tetap nama Kaltim yang paling utama untuk dijunjung. (*)

http://kaltim.prokal.co/read/news/322297-chandra-dan-dukungan.html


Jago Merah Beraksi di Jalan Sulawesi Sangatta



SANGATTA – Jago merah kembali beraksi. Kali ini kebakaran menghanguskan satu rumah tunggal di Jalan Sulawesi RT 21, Sangatta Utara, Sabtu, 10 Februari 2017.

Belum diketahui penyebab kebakaran itu, namun warga sekitar menyebut kebakaran yang terjadi sekitar pukul 01.00 wita itu akibat lilin lantaran saat kejadian di kawasan itu terjadi pemadaman listrik. 

Untungnya, api yang membakar satu rumah tunggal yang disebut milik Andri salah satu karyawan PT Kaltim Prima Coal itu tidak memakan korban jiwa. Meksi saat kejadian Andri tidak ada di rumah, namun istri dan ketiga anaknya berhasil diselamatkan dengan bantuan pertama oleh warga sekitar.

"Api berasal dari ruang tamu dan sepertinya gara-gara lilin. Kita menyelamatkan anak-anak korban lewat jendela dan mencoba memadamkan api menggunakan air seadanya," ujar Sunan, salah satu warga sekitar.

Kebakaran yang berlangsung sekitar 30 menit itu baru berhasil dijinakkan setelah sejumlah armada dan petugas pemadam kebakaran dikerahkan. (*)


Siapa Bilang Sudah Kembali Semua, Sisa 10 Mobdin DPRD Dibawa yang Tak Berhak

SANGATTA - Sebanyak 28 mobil dinas (mobdin) anggota dewan yang telah dikembalikan, menjadi penyemangat bagi pemkab untuk mengejar mobdin lainnya yang belum kembali. Yakni, enam unit mobdin mantan anggota DPRD, empat unit mobdin pejabat Setwan, dan beberapa mobil operasional.

Sekretaris DPRD Kutim Suroto menerangkan, terdata sekira 10 mobdin yang belum dikembalikan, terdiri dari enam unit mobdin yang masih dibawa para mantan anggota dewan, dan empat unit dari mantan kepala bagian di sekretariat DPRD (setwan). Bahkan, ada lagi beberapa mobil yang berstatus kendaraan operasional setwan masih dibawa mantan kepala sub bagian setwan.

Dipaparkannya, dari enam unit kendaraan yang masih dibawa mantan dewan tersebut, sebagiannya masih berada di bengkel. Mobdin itu mangkrak. Jadi akan ditarik segera.

"Padahal, jelas mereka sudah ridak berhak lagi menggunakan jobil tersebut, karena mereka sudah tidak lagi bekerja di kantor DPRD Kutim," ujarnya.

Namun ditegaskannya, dirinya telah bersurat ke Pemkab Kutim, ke bupati dan BPKAD, sehingga tanggung jawab mobil negara tersebut beralih ke pemkab. "Kami sudah berupaya menagih ke mantan anggota dewan dan mantan pejabat setwan, tapi tak kunjung ada kemajuan signifikan. Makanya kami serahkan saja ke pemkab," urai dia.

Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang menyatakan, hal tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemkab. Menagih kendaraan tersebut perlu kesabaran. Yang jelas, kendaraan tersebut sudah diinventarisir, bakal ditagih segera.

Kasmidi mengakui, dirinya yang merupakan mantan anggota DPRD Kutim juga memiliki pernah memegang mobdin dari setwan. Dia juga mengakui bahwa dirinya baru mengembalikan mobdin tersebut pada momen pengembalian masal mobdin DPRD belum lama ini.

Diketahui, anggota DPRD Kutim yang memegang mobdin diminta mengembalikannya atas dasar peraturan pemerintah (PP) 18/2017 tentang Hak Administratif dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD. Yakni, sejak September 2017 hingga batas waktu pengembalian 31 Januari 2018.

Saat itu, 10 dari total 28 unit mobdin sempat terlambat dari deadline. Dari seluruh mobdin yang sudah dikembalikan, empat unit masih berada di bengkel. Sementara itu, puluhan proposal permintaan hibah kendaraan negara tersebut sudah masuk ke meja bupati, wabup, dan sekda Kutim.

Kasmidi menegaskan, jika kendaraan negara dari mantan dewan sudah kembali, bakal diperhitungkan untuk dilakukan dum alias lelang. "Sebab, kendaraan itu sudah tua juga. Tapi memang, berdasarkan aturan, kendaraan aset layak didum jika usianya sudah di atas lima tahun," ulas lelaki yang juga ketua partai berlambang pohon beringin itu. (*)

Kamis, 08 Februari 2018

Mantan DPRD dan Pejabat Masih Bawa Mobdin


SANGATTA - Meski telah diberi perpanjangan waktu, 10 anggota DPRD Kutim yang menggunakan mobil dinas (mobdin) belum mengembalikan kendaraan negara itu. Bahkan, mantan legislator dan mantan pejabat sekretariat DPRD Kutim juga masih membawa mobdin hingga mobil operasional meski tak lagi bertugas sesuai peruntukkannya.
Padahal, kendaraan itu sudah harus dikembalikan, menurut peraturan pemerintah (PP) 18/2017 tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota DPRD. Kendaraan tersebut digantikan dengan uang transpotasi Rp 11 juta per bulan.

Bupati Kutim Ismunandar menyatakan, mobdin tersebut akan ditarik pemkab karena berdasarkan PP 18/2017. Sanksi akn diberikan bagi mereka yang belum mengembalikan, yakni tak diberikan tunjangan transportasi Rp 11 juta per bulan oleh Sekretariat DPRD.


"Kami sudah koordinasikan dengan Sekwan (Sekretaris DPRD), agar pihaknya segera menginfentarisir mobdin yang sudah maupun belum dikembalikan, lalu dikirim ke kami melalui surat," ucap lelaki yang karib disapa Ismu itu.
Sedangkan mantan anggota DPRD yang masih membawa mobdin yang bukan haknya, ungkap Ismu, akan dilakukan dum alias lelang. "Itu akan terus dikejar untuk dum, supaya aset bisa bernilai," imbuhnya.
Sekretaris DPRD Kutim Suroto mengatakan, dari total 28 mobdin yang dipegang anggota DPRD tersisa 10 unit kendaraan yang belum kembali hingga kemarin pagi. Pihaknya pun menyerahkan penanganan penagihan mobdin DPRD kepada pemkab jika sampai Senin masih ada anggota dewan yang belum mengembalikannya. Akan dilayangkan surat resmi kepada bupati dan badan pengelola keuangan dan aset daerah (BPKAD) terkait hal itu.
"Tak hanya itu, kami juga akan mengirimkan surat tentang mobdin yang masih dibawa oleh beberapa mantan anggota DPRD Kutim. Meski mereka sudah jelas tak aktif lagi sebagai legislator, mereka belum mengembalikan mobdin yang dibawanya. Padahal sudah sering kami tagih," ungkap Suroto, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (1/2).
Dia mengaku, bukan perkara mudah untuk menagih barang bergerak tersebut kepada mantan dan anggota dewan aktif. Jadi, ketika surat sudah dikirim ke pemkab, itu menjadikan status mobdin aset BPKAD, bukan Sekretariat DPRD, penanganannya beralih ke pemkab.
Dijelaskannya, beberapa mantan anggota DPRD yang masih membawa mobdin tersebut adalah legislator sejak periode 2014. “Bahkan, mungkin ada pula dari periode yang lebih lama. Kendaraan itu statusnya masih milik negara, dan bernilai aset, sebab belum dum atau lelang," tegasnya.
Namun, Suroto maupun bagian umum di Sekretariat DPRD Kutim, enggan menyebut jumlah mobdin yang dibawa oleh mantan anggota DPRD Kutim yang dimaksud.
Diketahui, hari ini merupakan waktu terakhir pengembalian mobdin para anggota DPRD. Ini merupakan toleransi perpanjangan waktu dari deadline sebelumnya yang jatuh pada 31 Januari. Total mobdin yang sebelumnya diamanatkan kepada anggota DPRD yang aktif ada sebanyak 28 unit, yakni rata-rata tipe kendaraan berkapasitas kemampuan lintas daerah. Sampai Kamis (1/2), yang dikembalikan baru 18 unit. (mon)

Gara-Gara DPA Lambat, Gaji Telat

SANGATTA – Para pegawai negeri sipil (PNS) dan tenaga kerja kontrak daerah (TK2D) terus menjerit keras. Bahkan mereka tak ragu mengeluh langsung ke bupati melalui SMS.
Puluhan pesan singkat tersebut pun berebut masuk ke ponsel Bupati Kutim Ismunandar dan Wakil Bupati Kasmidi Bulang. Isinya mempertanyakan gaji yang tak kunjung cair.
Kalimat keluhan yang diterima Ismunandar dan Kasmidi yaitu tentang kesulitan PNS dan TK2D membeli kebutuhan pokok. Juga, isi pesan tentang uang sekolah anak maupun kebutuhan membayar kontrak rumah yang belum terbayar karena gaji tak kunjung cair.
Ismunandar mengaku telah menginstruksikan kepada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kutim, untuk menyegerakan pembayaran gaji. Terutama, gaji guru dan bidan serta staf pegawai di kecamatan.
Diketahui, gaji TK2D belum terbayar oleh pemkab sejak Desember 2017. Kini, gaji PNS juga ikut tertunda.
“Saya sudah instruksikan pembayaran yang harus didulukan, yaitu gaji guru dan tenaga medis, terutama yang bekerja di pedalaman," ungkap lelai yang karib disapa Ismu itu.
Dalam rapat koordinasi Senin (5/2), Ismu juga menyatakan, urusan gaji itu memang tidak tebang pilih keterlambatannya. "Jangankan TK2D dan PNS, saya sebagai bupati juga belum gajian," celetuknya.
Diterangkan, keterlambatan pembayaran gaji serta pembayaran lainnya, tidak hanya karena transfer pusat ke daerah belum masuk ke kas Pemkab Kutim. Tapi, juga karena penyusunan dokumen penggunaan anggaran (DPA) 2018 dari masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD) belum rampung.
Sementara pembayaran, baik utang maupun alokasi kegiatan baru, harus masuk dalam DPA 2018.
Kepala BPKAD Kutim Suriansyah yang didampingi sekretarisnya Hamdan mengungkapkan, dari beberapa OPD, baru empat kecamatan dan satu instansi yang sudah memasukkan DPA. Yakni, Kecamatan  Karangan, Sangkulirang, Bengalon, Kaliorang, dan Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP). 
“Untuk gaji dan tunjangan guru sudah masuk ke rekening Disdik (Dinas Pendidikan) Kutim. Sedangkan honor TK2D melekat di OPD. Termasuk gaji bidan juga sudah, untuk Operasional ADD (alokasi dana desa) pada 76 desa, sedang proses SP2D,” ungkap Suriansyah.
Menyikapi hal tersebut, Ismunandar maupun Kasmidi yang meminta agar DPA harus rampung pekan ini.
“Saya minta, DPA rampung secepatnya. Supaya pembayaran lancar. Para pegawai berteriak seolah-olah bupati dan wakil bupati yang salah. Padahal, penyusunan DPA yang lambat,” kata Kasmidi. (mon)