Rabu, 27 Mei 2020

Idulfitri Berbeda dan Tradisi yang Tak Akan Tergantikan

Lebaran Idulfitri kali ini memang terasa berbeda. Wabah corona virus disease (covid-19) sudah membuat saya tidak pulang kampung menemui Bapak dan Mama di Samarinda. Kami hanya bisa bersilaturahim lewat video call whatsapp. 

RAYMOND CHOUDA, Sangatta

Pagi itu, Minggu (24/5/20) pagi, saat persiapan salat ied di kediaman Pak Noeh (mertua) di Munthe H-357 Sangatta, Kutai Timur, saya sudah bangun dan mandi junub untuk menyempurnakan sunnah Nabi Muhammad SAW. Takbir pun saya kumandangkan dengan setengah nyaring. Tidak merdu lantunan itu, yang penting terdengar orang-orang rumah saja, untuk memantik semangat Idulfitri, juga sebagai sunnah Nabi. 

Saat itu kami hanya berempat di rumah, yaitu saya, istri, dan kedua mertua. Saya sempatkan untuk bertakbir dengan sambil merekamnya di voice note whatsapp, lalu mengirimnya ke grup WA keluarga saya di Samarinda, Bahagia Berjamaah --mudahan nama grup ini adalah doa yang diijabah Allah.

Saya rasa, ini memang pengalaman Lebaran yang patut diceritakan ke anak-cucu nanti. Pandemi covid-19 membuat banyak hal berubah. Makanya catatan ini saya tulis, dengan harapan memori ini dapat diingat dengan mudah ketika melihatnya.

Beruntung sangat diri ini, karena sosok orang tua juga dapat didapat secara langsung dari mertua yang Alhamdulillah selalu bisa jadi panutan. Kami pun menyelesaikan salat ied dengan lancar, meski hanya berempat, di ruang tengah dalam rumah. Mengingat, Pemkab Kutim telah sepakat melarang pelaksanaan salat ied di lapangan maupun di masjid. Makanya Idulfitri kali ini sangat berbeda, karena kami harus salat ied "di rumah saja" untuk mencegah penyebaran wabah covid-19.

Selepas salat ied, dilanjut khotbah, ditambah kultum, kami saling bermohon maaf. Saya pun langsung malakukan panggilan whatsapp group ke orang tua dan saudara di Samarinda. Papa Mama dan Cia di rumah Air Hitam, baru saja selesai menggelar solat ied berjamaah. Sementara Ceceh dan Kak Aji bersama Nikolas dan Salim di Yellow House Handil Kopi. Sayangnya, saya tidak sempat screenshoot video call itu. 

Rasanya memang jauh dari mantap. Silaturahmi hanya lewat panggilan video call. Hanya bisa meminta maaf lahir dan batin, tanpa mampu menjabat tangan, apalagi cipika-cipiki. 

Sementara dari pihak keluarga di Sangatta, kami melakukan video call juga ke keluarga Mas Dean-Mbak Nita di Bontang dan keluarga Dennis-Ali di Lampung.

Namun, acara silaturahim tatap muka pada akhirnya tak dapat dicegah. Tamu berdatangan satu-persatu. Baik dari keluarga, maupun kerabat. Tapi tetap dengan mematuhi protokol kesehatan covid-19 yang sudah diatur pemerintah, yaitu menggunakan masker, dan menjaga kebersihan diri dengan rajin mencuci tangan, serta menjaga jarak.

Sampai hari kedua Idulfitri 1441 Hijriah tersebut, saya benar-benar tidak keluar dari rumah. Karena para tamu memang tidak datang bergerombol, tapi satu-persatu terus berdatangan silih-berganti. Saya yakin, masyarakat memang tidak tahan terus berada di rumah. Apalagi di hari yang fitri ini, tradisi silaturahmi ke rumah-rumah keluarga dan kerabat adalah seperti suatu keharusan.

Agenda silaturahmi semacam itu, membuat kami lekas melupakan adanya bahaya pandemi covid-19. Saya yakin, begitu juga yang terjadi di rumah-rumah masyarakat Indonesia kebanyakan, baik di Kaltim maupun di Pulau Jawa sekalipun. 

Sementara pemerintah, juga tidak dapat mencegah hal ini dengan serta-merta. Sebab, pelarangan salat ied di masjid dan lapangan saja, sudah memicu gejolak sebagian kalangan masyarakat. Apalagi mau melarang silaturahim tatap muka, tentu sulit direalisasikan. Masyarakat Indonesia memang gak takut corona.

Dari hal ini, saya dapat memetik hikmah dan fakta baru. Bahwa, masyarakat Indonesia lebih takut larangan yang sifatnya sosial, dibanding larangan spiritual. Agenda silaturahmi secara langsung bagi kita tidak bisa dilarang, sedangkan pelarangan kegiatan ibadah di masjid justru lebih diterima kebanyakan masyarakat. 

Pada dasarnya, ibadah bisa digantikan di rumah karena adanya suatu halangan. Tapi bukankah silaturahim juga bisa digantikan di rumah? Hehe. Ternyata, bagi kita masyarakat Indonesia, silaturahim tatap muka tidak bisa digantikan dengan via telepon selular atau WA, maupun media sosial. Silaturahim dengan smartphone ujung-ujungnya hanya digunakan untuk keluarga di luar kota.

Kita ini manusia sosial yang akan merasa lebih sehat jika dapat berjumpa dengan orang terkasih, keluarga, dan kerabat. Itu benar-benar lebih sehat dibanding berdiam diri di rumah. Apalagi, kita tahu bagaimana sedapnya makan hidangan Lebaran, di mana biasanya menu paling luar biasa --dari masakan tradisional Indonesia-- yang selalu disajikan. Belum lagi ditambah minuman bersoda ataupun jus buah. Ouh ya.. Insyaallah rasa itu tak dapat digantikan dengan makan di rumah sendiri, tanpa disertai canda tawa kerabat. 

Semoga banyak pelajaran yang mendidik manusia selama adanya pandemi covid-19. Semoga juga musim wabah ini segera berlalu di Indonesia dan dunia. 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah. Taqobbalallohuminnawaminkum. Mohon maaf lahir dan batin. (*) 

Jumat, 01 Mei 2020

Kejutan Corona di Awal Umrahku



Awalnya saya tak berniat menulis untuk perjalanan ibadah ini, karena takut riya. Tapi tulisan ini terpaksa saya buat karena sifatnya yang urgent. Tapi tetap, ini bukan untuk publikasi, dan hanya untuk konsumsi pribadi.

RAYMOND CHOUDA, Jakarta

Posisi saya saat ini masih di Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta. Sambil menunggu jadwal penerbangan, seorang rekan dari Kota Bontang, Veri, mengirim foto screenshoot ke whatsapp saya, yakni tentang isu corona yang saat ini sedang merebak di dunia.

Foto itu membuat saya cukup tersentak. Sebuah program televisi nasional sedang mengulas berita yang berjudul "Arab Saudi Hentikan Sementara Umrah".

"Aman aja kah partner?" tanya dia, pada pukul 10.34 WIB. 

Sejak saat itulah saya baru tahu tentang informasi tersebut, bahwa ibadah umrah hari ini adalah yang terakhir bagi umat Muslim Indonesia, sampai pada waktu yang ditentukan. Sementara pesawat saya akan terbang pukul 11.30 WIB. 

"InsyaAllah aman aja partner. Bismillah," jawabku dengan menunjukkan keyakinan penuh, padahal ada juga rasa getir sedikit (emot ketawa sambil nangis). 

Akhirnya, kami rombongan jamaah umroh dari travel Multazam Wisata Tour tetap berangkat. Niat ibadah ini tak mungkin dihentikan. Apalagi mengurus umrah bukanlah perkara mudah, harus bayar ini-itu, persiapan waktu, paspor dan visa, dan masih banyak lagi. 

Tanah Harom Mekkah, Arab Saudi, merupakan tempat berkumpulnya umat Muslim di seluruh dunia. Ibadah apapun yang dilakukan di Masjidil Harom akan dilipatgandakan ribuan kali lebih banyak dibanding ibadah di luar Mekkah dan Madinah. 

Rumah Allah itu, menurut dalilnya, tak akan bisa kita datangi secara langsung jika Allah tak memanggil kita. Artinya, ini insyaallah memang sesuai kehendak-Nya. 

Sementara virus corona yang katanya berasal dari Wuhan, China, kini dikabarkan telah menewaskan ribuan umat manusia yang sudah terinveksi.

Yang jadi perhatian sekaligus pertanyaan saya, umat Islam yang dikehendaki untuk dipanggil datang ke rumah Allah, akankah dari kaum yang juga terjangkit virus corona? Akankah Allah mempertemukan orang terinveksi virus tersebut dengan kaum Muslim lainnya? 

Secara penanganan, pemerintah China dan pemerintah di banyak negara se-dunia telah menyepakati untuk melakukan karantina atau isolasi terhadap orang yang telah terinveksi corona. 

Seperti jawaban saya di atas, bahwa "Bismillah". Apalagi sudah banyak dalil yang menegaskan bahwa di Masjidil Harom merupakan tempat yang paling mustajab untuk berdoa. Artinya, umat Muslim diberikan kesempatan untuk berupaya meminta kesehatan di sana. Apalagi ada air zam-zam yang memiliki khasiat luar biasa untuk kesehatan manusia, yang bersumber dari Arab Saudi. 

Termasuk saya. Saya juga sudah berencana meminta kesehatan dan kesembuhan di rumah Allah itu. Tapi sebaiknya tak perlu dibahas lebih lanjut di sini karena terlalu panjang. 

Akibat corona, akankah ibadah yang amat suci dan mulia ini menjadi suatu ketakutan umat Muslim? 

Beberapa bulan lalu, saya dan istri membekali diri dengan ilmu Alquran dan Alhadits tentang bab umrah. Diterangkan, bahwa di Tanah Harom semua yang doa akan sangat mudah terkabulkan, atau biasa disebut dengan mustajab. Segala perkataan dan prasangka pun, bisa segera terwujud seketika. 

Itu karena Tanah Haram adalah tempat yang mustajab. Satu-satunya di dunia adanya tempat mustajab untuk berdoa adalah di Tanah Harom. Sedangkan lokasi paling mustajab untuk berdoa di Mekkah adalah di Masjidil Harom, yakni di Multazam Kakbah, di belakang Makom Ibrohim, dan di atas bukit Sofa dan di atas bukit Marwah. Kemudian di Madinah, tempat paling mustajab untuk berdoa terletak di Raudoh, yakni di dalam Masjid Nabawi, tepatnya di antara rumah Nabi Muhammad SAW dengan tempat khotbah Nabi.

Alhamdulillah perjalanan umrah ini bisa terwujud. Saya benar-benar sangat bersyukur. (*)