Lebaran Idulfitri kali ini memang terasa berbeda. Wabah corona virus disease (covid-19) sudah membuat saya tidak pulang kampung menemui Bapak dan Mama di Samarinda. Kami hanya bisa bersilaturahim lewat video call whatsapp.
RAYMOND CHOUDA, Sangatta
Pagi itu, Minggu (24/5/20) pagi, saat persiapan salat ied di kediaman Pak Noeh (mertua) di Munthe H-357 Sangatta, Kutai Timur, saya sudah bangun dan mandi junub untuk menyempurnakan sunnah Nabi Muhammad SAW. Takbir pun saya kumandangkan dengan setengah nyaring. Tidak merdu lantunan itu, yang penting terdengar orang-orang rumah saja, untuk memantik semangat Idulfitri, juga sebagai sunnah Nabi.
Saat itu kami hanya berempat di rumah, yaitu saya, istri, dan kedua mertua. Saya sempatkan untuk bertakbir dengan sambil merekamnya di voice note whatsapp, lalu mengirimnya ke grup WA keluarga saya di Samarinda, Bahagia Berjamaah --mudahan nama grup ini adalah doa yang diijabah Allah.
Saya rasa, ini memang pengalaman Lebaran yang patut diceritakan ke anak-cucu nanti. Pandemi covid-19 membuat banyak hal berubah. Makanya catatan ini saya tulis, dengan harapan memori ini dapat diingat dengan mudah ketika melihatnya.
Beruntung sangat diri ini, karena sosok orang tua juga dapat didapat secara langsung dari mertua yang Alhamdulillah selalu bisa jadi panutan. Kami pun menyelesaikan salat ied dengan lancar, meski hanya berempat, di ruang tengah dalam rumah. Mengingat, Pemkab Kutim telah sepakat melarang pelaksanaan salat ied di lapangan maupun di masjid. Makanya Idulfitri kali ini sangat berbeda, karena kami harus salat ied "di rumah saja" untuk mencegah penyebaran wabah covid-19.
Selepas salat ied, dilanjut khotbah, ditambah kultum, kami saling bermohon maaf. Saya pun langsung malakukan panggilan whatsapp group ke orang tua dan saudara di Samarinda. Papa Mama dan Cia di rumah Air Hitam, baru saja selesai menggelar solat ied berjamaah. Sementara Ceceh dan Kak Aji bersama Nikolas dan Salim di Yellow House Handil Kopi. Sayangnya, saya tidak sempat screenshoot video call itu.
Rasanya memang jauh dari mantap. Silaturahmi hanya lewat panggilan video call. Hanya bisa meminta maaf lahir dan batin, tanpa mampu menjabat tangan, apalagi cipika-cipiki.
Sementara dari pihak keluarga di Sangatta, kami melakukan video call juga ke keluarga Mas Dean-Mbak Nita di Bontang dan keluarga Dennis-Ali di Lampung.
Namun, acara silaturahim tatap muka pada akhirnya tak dapat dicegah. Tamu berdatangan satu-persatu. Baik dari keluarga, maupun kerabat. Tapi tetap dengan mematuhi protokol kesehatan covid-19 yang sudah diatur pemerintah, yaitu menggunakan masker, dan menjaga kebersihan diri dengan rajin mencuci tangan, serta menjaga jarak.
Sampai hari kedua Idulfitri 1441 Hijriah tersebut, saya benar-benar tidak keluar dari rumah. Karena para tamu memang tidak datang bergerombol, tapi satu-persatu terus berdatangan silih-berganti. Saya yakin, masyarakat memang tidak tahan terus berada di rumah. Apalagi di hari yang fitri ini, tradisi silaturahmi ke rumah-rumah keluarga dan kerabat adalah seperti suatu keharusan.
Agenda silaturahmi semacam itu, membuat kami lekas melupakan adanya bahaya pandemi covid-19. Saya yakin, begitu juga yang terjadi di rumah-rumah masyarakat Indonesia kebanyakan, baik di Kaltim maupun di Pulau Jawa sekalipun.
Sementara pemerintah, juga tidak dapat mencegah hal ini dengan serta-merta. Sebab, pelarangan salat ied di masjid dan lapangan saja, sudah memicu gejolak sebagian kalangan masyarakat. Apalagi mau melarang silaturahim tatap muka, tentu sulit direalisasikan. Masyarakat Indonesia memang gak takut corona.
Dari hal ini, saya dapat memetik hikmah dan fakta baru. Bahwa, masyarakat Indonesia lebih takut larangan yang sifatnya sosial, dibanding larangan spiritual. Agenda silaturahmi secara langsung bagi kita tidak bisa dilarang, sedangkan pelarangan kegiatan ibadah di masjid justru lebih diterima kebanyakan masyarakat.
Pada dasarnya, ibadah bisa digantikan di rumah karena adanya suatu halangan. Tapi bukankah silaturahim juga bisa digantikan di rumah? Hehe. Ternyata, bagi kita masyarakat Indonesia, silaturahim tatap muka tidak bisa digantikan dengan via telepon selular atau WA, maupun media sosial. Silaturahim dengan smartphone ujung-ujungnya hanya digunakan untuk keluarga di luar kota.
Kita ini manusia sosial yang akan merasa lebih sehat jika dapat berjumpa dengan orang terkasih, keluarga, dan kerabat. Itu benar-benar lebih sehat dibanding berdiam diri di rumah. Apalagi, kita tahu bagaimana sedapnya makan hidangan Lebaran, di mana biasanya menu paling luar biasa --dari masakan tradisional Indonesia-- yang selalu disajikan. Belum lagi ditambah minuman bersoda ataupun jus buah. Ouh ya.. Insyaallah rasa itu tak dapat digantikan dengan makan di rumah sendiri, tanpa disertai canda tawa kerabat.
Semoga banyak pelajaran yang mendidik manusia selama adanya pandemi covid-19. Semoga juga musim wabah ini segera berlalu di Indonesia dan dunia.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah. Taqobbalallohuminnawaminkum. Mohon maaf lahir dan batin. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar