Awalnya saya tak berniat menulis untuk perjalanan ibadah ini, karena takut riya. Tapi tulisan ini terpaksa saya buat karena sifatnya yang urgent. Tapi tetap, ini bukan untuk publikasi, dan hanya untuk konsumsi pribadi.
RAYMOND CHOUDA, Jakarta
Posisi saya saat ini masih di Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta. Sambil menunggu jadwal penerbangan, seorang rekan dari Kota Bontang, Veri, mengirim foto screenshoot ke whatsapp saya, yakni tentang isu corona yang saat ini sedang merebak di dunia.
Foto itu membuat saya cukup tersentak. Sebuah program televisi nasional sedang mengulas berita yang berjudul "Arab Saudi Hentikan Sementara Umrah".
"Aman aja kah partner?" tanya dia, pada pukul 10.34 WIB.
Sejak saat itulah saya baru tahu tentang informasi tersebut, bahwa ibadah umrah hari ini adalah yang terakhir bagi umat Muslim Indonesia, sampai pada waktu yang ditentukan. Sementara pesawat saya akan terbang pukul 11.30 WIB.
"InsyaAllah aman aja partner. Bismillah," jawabku dengan menunjukkan keyakinan penuh, padahal ada juga rasa getir sedikit (emot ketawa sambil nangis).
Akhirnya, kami rombongan jamaah umroh dari travel Multazam Wisata Tour tetap berangkat. Niat ibadah ini tak mungkin dihentikan. Apalagi mengurus umrah bukanlah perkara mudah, harus bayar ini-itu, persiapan waktu, paspor dan visa, dan masih banyak lagi.
Tanah Harom Mekkah, Arab Saudi, merupakan tempat berkumpulnya umat Muslim di seluruh dunia. Ibadah apapun yang dilakukan di Masjidil Harom akan dilipatgandakan ribuan kali lebih banyak dibanding ibadah di luar Mekkah dan Madinah.
Rumah Allah itu, menurut dalilnya, tak akan bisa kita datangi secara langsung jika Allah tak memanggil kita. Artinya, ini insyaallah memang sesuai kehendak-Nya.
Sementara virus corona yang katanya berasal dari Wuhan, China, kini dikabarkan telah menewaskan ribuan umat manusia yang sudah terinveksi.
Yang jadi perhatian sekaligus pertanyaan saya, umat Islam yang dikehendaki untuk dipanggil datang ke rumah Allah, akankah dari kaum yang juga terjangkit virus corona? Akankah Allah mempertemukan orang terinveksi virus tersebut dengan kaum Muslim lainnya?
Secara penanganan, pemerintah China dan pemerintah di banyak negara se-dunia telah menyepakati untuk melakukan karantina atau isolasi terhadap orang yang telah terinveksi corona.
Seperti jawaban saya di atas, bahwa "Bismillah". Apalagi sudah banyak dalil yang menegaskan bahwa di Masjidil Harom merupakan tempat yang paling mustajab untuk berdoa. Artinya, umat Muslim diberikan kesempatan untuk berupaya meminta kesehatan di sana. Apalagi ada air zam-zam yang memiliki khasiat luar biasa untuk kesehatan manusia, yang bersumber dari Arab Saudi.
Termasuk saya. Saya juga sudah berencana meminta kesehatan dan kesembuhan di rumah Allah itu. Tapi sebaiknya tak perlu dibahas lebih lanjut di sini karena terlalu panjang.
Akibat corona, akankah ibadah yang amat suci dan mulia ini menjadi suatu ketakutan umat Muslim?
Beberapa bulan lalu, saya dan istri membekali diri dengan ilmu Alquran dan Alhadits tentang bab umrah. Diterangkan, bahwa di Tanah Harom semua yang doa akan sangat mudah terkabulkan, atau biasa disebut dengan mustajab. Segala perkataan dan prasangka pun, bisa segera terwujud seketika.
Itu karena Tanah Haram adalah tempat yang mustajab. Satu-satunya di dunia adanya tempat mustajab untuk berdoa adalah di Tanah Harom. Sedangkan lokasi paling mustajab untuk berdoa di Mekkah adalah di Masjidil Harom, yakni di Multazam Kakbah, di belakang Makom Ibrohim, dan di atas bukit Sofa dan di atas bukit Marwah. Kemudian di Madinah, tempat paling mustajab untuk berdoa terletak di Raudoh, yakni di dalam Masjid Nabawi, tepatnya di antara rumah Nabi Muhammad SAW dengan tempat khotbah Nabi.
Alhamdulillah perjalanan umrah ini bisa terwujud. Saya benar-benar sangat bersyukur. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar