Siang yang terik, akhir 2014, saya baru saja berkenalan dengan sejumlah jurnalis desk kriminal di Polres Balikpapan. Satu di antara mereka, Margaret Sarita alias Angie, wartawan senior Tribun Kaltim yang nampak luwes di lingkungan kepolisian.
Waktu itu, saya yang masih bekerja di koran Kaltim Post baru pertama kali melihat ada wartawan perempuan yang sangat lincah bergerak di lapangan ketika liputan. Caranya melangkah amat lekas, mengejar berita seperti mengincar hewan buruan.
Bahkan jujur, maaf sebelumnya, teman-teman wartawan laki-laki yang cenderung santai, sering kalah pergerakannya. Jadi, saya selalu tidak bisa tenang ketika melihat ada Mbak Angie muncul di tempat kejadian perkara (TKP).
Seperti saat Ustaz Guntur ditahan di Polres Balikpapan karena kasus penipuan. Mbak Angie menjadi salah satu orang yang getol meminta Kapolres Balikpapan untuk melakukan konferensi pers dan menghadirkan Guntur.
Mulai dari situ pula, saya selalu tanpa sengaja diam-diam mencuri ilmu Mbak Angie. Dari gaya mencari narasumber, meminta wawancara kepolisian, bahkan cara memasuki ruangan perwira. Tidak ada ragu-ragu dalam melangkahnya, sehingga teman-teman kerap mengekor di belakangnya.
Saya acap kali secara diam-diam berlomba dengan Mbak Angie meliput berbagai peristiwa. Dari kejadian sejumlah WNA yang dideportasi, pelarian bandar narkoba dari rumah tahanan Balikpapan, hingga liputan terduga teroris. Saya selalu disalip dan kalah. Waktu itu beliau memang sedang lincah-lincahnya.
Beberapa kali, narasumber eksklusif yang saya pikir tidak ada yang tahu, ternyata sudah diwawancarai duluan oleh Mbak Angie. Meski sudah menempuh jarak dan akses yang tak mudah, lagi-lagi saya keduluan dari Mbak Angie. Bikin geleng-geleng kepala.
Hari berganti pekan, bulan berganti tahun. Saya yang mulai bertugas di Kutai Timur pada Maret 2017, ternyata kembali bertemu dengan Mbak Angie. Saat bertemu di Kantor Bupati Kutim, Angie langsung membahas tas yang saya pakai.
"Wah keren tasnya. Beli di mana," ujarnya.
Percakapan yang tidak begitu penting, tapi saya gak akan lupa. Sebab dari situ saya tahu, Angie selalu memperhatikan teman-teman dari hal-hal yang kadang remeh sekalipun.
Begitulah beliau, orangnya menggemari fashion. Saya perhatikan, tasnya kadang ganti-ganti. Saya tidak hapal. Namun yang saya tidak akan pernah lupa, tas yang digunakan Mbak Angie selalu yang ukuran cukup besar dan multifungsi. Tas sebesar itu menjadi andalan untuk membawa berbagai kuliner. Kadang makanan ringan, kadang juga nasi kotak. Hehe..
Mbak Angie orangnya efektif. Gak mau boros meskipun dia punya uang yang lebih. Sampai akhir hayatnya, akhirnya saya tahu, hal itu dilakukannya untuk memperjuangkan biayai kehidupan dan ongkos sekolah kedua anaknya, Nanda dan Didi.
Inilah momen yang tidak bisa saya lupa. Semoga Nanda dan Didi bisa mendapatkan keberhasilan hidup sebagaimana yang diharapkan Mbak Angie.
Suatu waktu, usai pulang dari Pulau Lombok, mbak Angie menghampiri saya ketika kami berada di rapat Coffee Morning. Ia perlahan mengeluarkan dompet besar dari tas ranselnya. Dompet bermotif batik tradisional berwarna dasar merah tua.
"Mon, ini oleh-oleh untuk istrimu ya. Tapi jangan bilang-bilang sama yang lain, karena cuma kamu yang kukasih ini," ucap Mbak Angie waktu itu.
Saya langsung terkesan, karena ternyata beliau memberikan perhatian khusus kepada juniornya ini. Tangan saya segera mengembat dompet itu dengan cepat agar tak dilihat yang lain, untuk menjaga amanatnya. Saya meyakini, beliau memberi ke teman-teman semua tidak dalam barang yang sama jenis.
Selama bertugas di Kutim, saya juga kerap memerhatikan berbagai tekniknya dalam mengembangkan bisnis media. Seperti ketika menawarkan jasa iklan, saya jamin tidak ada trik khusus yang digunakannya. Mbak Angie hanya menawarkan secara biasa, namun aura dirinya yang selalu membuat relasi sangat sulit menolak.
Ilmu seperti itu yang selalu saya serap diam-diam. Mungkin teman-teman lain juga menyaksikannya. Mbak Angie selalu memerhatikan momentum yang tepat dan sudah mengantongi informasi tentang relasi yang dituju.
Ketika dia sudah dekat dan mampu mengambil hati relasi, maka praktik jurnalistik Angie tidak dapat dihambat. Baik dalam wawancara berita, maupun ketika mengurus bisnis media.
Sudah cukup banyak juga wartawan perempuan muda yang berkembang setelah rajin ikut Mbak Angie liputan. Ia menjadi sosok yang disayang banyak sahabatnya.
Sangat banyak kenangan bersama Angie yang tak dapat saya uraikan seluruhnya. Harapan saya, semoga talenta beliau bisa menjadi teladan bagi teman-teman. (*)