Jumat, 17 September 2021

Mengenang Perjuangan Melawan Tumor Otak dengan Dukungan Moral Keluarga-Sahabat


Sudah lama aku gak menginjakkan kaki ke Rumah Sakit Haji Darjad Samarinda, mungkin bertahun-tahun sudah. Tapi hari ini, Jumat 17 September 2021, aku memberanikan diri kembali ke tempat aku dulu "dilaundry" sebelum menjalani operasi pengangkatan tumor otak, April 2012 lalu.

Hari ini, sebenarnya bukan untuk urusan check up penyakit yang sampai sekarang aku rasa belum sembuh itu (kaki kiri belum berfungsi normal, mirip penderita stroke). Melainkan untuk meminta surat keterangan sebagai pasien yang belum boleh menerima vaksinasi covid-19. Sebab adanya gejala kejang-kejang yang masih datang dan pergi, tentu itu menandakan tubuh ini tidak boleh divaksin begitu saja.

Intinya, aku cuma mau minta surat supaya bisa berangkat ke luar kota naik pesawat tanpa harus divaksin. Dan, aku harus menghadap ke dr Arie Ibrahim, dokter bedah syaraf yang dulu menangani operasi tumor otakku.


Ketika aku duduk menunggu kedatangan sang dokter, menjelang pukul 16.00 Wita, memori lamaku terputar kembali dengan kencang. Pengalaman mahal yang cukup menyiksa namun penuh nostalgia. Di mana saat itu, adalah era peralihan zaman jahiliyah Raymond Chouda menuju pintu taubat, dengan harapan diberi kesembuhan dan ampunan. Saat itu aku menganggap, perbuatanku di masa muda yang tak terkontrol akhirnya membuat aku terkena musibah penyakit ini.

Bau rumah sakit ini, seketika mengingatkanku betapa keluarga dan teman-temanku sangat perduli terhadapku. Saat aku dirawat, setelah mengalami muntah-muntah dan lumpuh separuh badan, RS H Darjad langsung dipenuhi oleh teman-temanku. Sampai-sampai katanya banyak orang heran, mengapa rumah sakit ini begitu penuh oleh anak muda? Memangnya siapa yang sedang dijenguk? Padahal ternyata hanya seorang Raymond Chouda, mahasiswa Ilkom Fisip Unmul yang juga gak seberapa, namun memiliki teman-teman yang selalu solid. 

Mereka, bahkan hampir semua teman-teman di kelasku, datang untuk memberi dukungan. Aku yang sebenarnya menghindar agar teman-temanku tidak mengetahui keadaanku yang kritis, malah seakan menampar wajahku. Bahwa sebenarnya dukungan mereka sangat penting untuk kesembuhanku.

Aku yang meringis dan tersiksa sendiri, secara eksklusif dirawat oleh ayah-ibu, berubah menjadi ceria kembali lantaran guyonan receh kawan-kawan. Semangat hidup pun kembali meningkat. Hal ini menyadarkanku, bahwa tak ada seorangpun dapat hidup dengan baik di dunia ini tanpa adanya dukungan dari keluarga dan kerabat, atau lingkungan sekitar.

Kisah ini yang aku rasa amat penting untuk aku ingat selalu, sehingga hari ini aku bisa terus hidup dengan lebih baik. Semoga aku bisa membalas kebaikan kalian semua. (*)