Selasa, 29 Desember 2015

Kisah yang Mengungkap Fakta Agama di Indonesia

Pada siatu hari....

A (orang kristen) : “Kenapa kalian selalu ngikutin kami?”
B (orang muslim) : “Ngikutin apa? Kami tidak merasa ngikutin kalian?”
A : “Gak merasa? Coba diperhatikan, kami merayakan Hari Ulang Tahun Yesus (atau Maulidnya Nabi Isa), lalu kalian ikut2an merayakan Maulid Nabi Muhammad?!
Kami juga merayakan hari kenaikan Isa al Masih (diangkatnya Nabi Isa ke langit), kalian ikut2an merayakan hari Isra Mi’raj (naiknya Nabi Muhammad ke langit)?!
Kami merayakan Tahun Baru Masehi milik kami, kalian juga merayakan tahun baru hijriyah milik kalian?!
Kami beribadah dengan bernyanyi dan bermain alat musik, kalian juga sekarang mulai beribadah dengan bernyanyi-nyanyi membaca shalawat/dzikir dengan alunan musik?!
C (orang Hindu) : “Iya nih…! Kalian (orang muslim) juga banyak yang ngikutin perayaan acara kami…”
A : “Lho…lho…apalagi ini? Siapa yang ngikutin?”
C : “Lihat saja, acara nujuh bulanan bagi wanita yang hamil itu kan asalnya dari kami orang Hindu. Begitu juga Tahlilan atau Selamatan Kematian hari ke 7, 40, 100 s/d 1000 hari itu semua adalah acara kami, lalu kalian mengikutinya. Kalo gak percaya, sini ikut saya, saya kasih buktinya!”
B : “Enak saja ngaku2! Yang ngikutin itu kalian semua, orang Kristen dan orang Hindu pada ngikutin kami ..!!”
A : “Eh…Kalo bicara pake otak! Emang duluan siapa agamanya?
Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad baru ada sekitar 1400 tahun yang lalu.
sedangkan agama kami Nasrani sudah ada sekitar 2000an tahun yang lalu. Gak masuk akal kalo kami yang ngikutin kalian!”
C : “Hehehe…apalagi agama saya. Agama kami lebih dulu dari agama kalian. Agama kami sudah ada sejak 2500 tahun sebelum masehi, jadi sudah ada sekitar 4500 tahun yang lalu. Sedangkan di Indonesia, agama kami lah yang paling tua dan pertama. Gak masuk akal kalo kami yang malah mengikuti agama kalian, apalagi yang namanya Islam kejawen, sama persis dengan kami…hehehe.”
A:"Betul…betul…betul…Belum lagi kalian umat islam banyak yang berpartisipasi merayakan hari perayaan agama kami, seperti merayakan Tahun Baru Masehi, Hari Valentine, Hari Ulang Tahun, Hari Hallowen, Hari April Mop, hari Ibu, dll.”
B : (garuk2 kepala)…
D (ahlusunnah wal jamaah) : “Ambil semua acara2 kalian, kami tidak butuh acara2 seperti itu. Karena kami sudah punya acara sendiri yang tidak mengikuti agama2 kalian,dan bahkan menyelisihi acara2 kalian.
Bahkan acara2 seperti itu tidak pernah dilakukan oleh orang Muslim yang berpedoman dgn Qur'an hadits Jama'ah seperti kami ini, insya Allah. Dalam golongan kami tidak ada perayaan Maulid Nabi, perayaan Isra Mi’raj, perayaan Tahun Baru Hijriyah, perayaan nujuh bulan, Selamatan Kematian (Tahlilan), dll.”
A & C : “Lho…kalian B dan D kan sama2 muslim, koq saling berbeda?
Yang B merayakan acara2 itu sedangkan yang D tidak merayakan? Aneh sekali, satu agama tapi beda2.”
D : “Kenapa kalian heran dengan kami?
Bukankah kalian sendiri juga memiliki banyak perbedaan dan perpecahan?
Agama Nasrani memiliki banyak sekte, seperti Protestan, Katholik, Advent, dll.
Bahkan dalam agama kami disebutkan bahwa kaum Nasrani terpecah belah menjadi 72 golongan.
Begitu juga dengan agama Hindu yang memiliki banyak sekte dan juga warna (kasta).
Tidakkah kalian tahu tentang itu? Sedangkan agama Islam terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali 1 yaitu Jamaah
Jadi, menurut pemahaman kami (QHJ)kami tidak boleh tasyabbuh (mengikuti) orang2 kafir dalam ciri khas mereka, seperti acara2 yang kalian sebutkan tadi. Maka itu golongan kami tidak pernah melakukan dan mengadakan acara2 seperti itu.
Jika ada sebagian dari kaum muslimin yang melakukan atau mengadakan acara2 itu, maka itu adalah oknum atau karena ketidaktahuannya akan hal itu.”
A & C : “Kami juga tahu itu semua. Hanya saja tadi kami ingin mengetes si B (muslim tp ahli bid'ah) apakah dia punya alasan tentang itu? Rupanya dia tidak punya alasan dan gak tau apa2 tentang agamanya. Bisanya cuma ikut2an saja.”
B : “Hmmmm…berarti saya ini oknum ya? kalo begitu saya tidak mau jadi oknum lagi ah…saya mau ngikutin si D aja, biar gak jadi oknum!!!”
D : “Hmmm juga…kamu masih
jadi oknum akhi, karena kamu masih ikut2an, yaitu ngikutin saya.”
B : “Berarti saya harus ngikutin siapa donk?”
D : “Biar kamu gak jadi oknum, kamu harus ngikutin Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam beserta para sahabat2nya. Dan menetapi Qur'an Hadits Jama'ah.
Dan untuk mewujudkan itu semua, maka hendaknya kamu mengaji Qur'an dan hadits dengan benar, dgn cara yang benar(manqul,musnad,muttashil) sebab kita harus berilmu sebelum berkata dan mengamalkan

Semoga bermanfaat...

*Pembaca Tidak Akan Bisa Menafsirkan Qur'an Hadits Jamaah Jika Belum Mengaji Hadits Pendukungnya dari Mubaligh. Jadi, Jangan Asal Menafsirkan. Kisah Ini Hanya Untuk Mengingatkan Bahwa Agama Itu Tidak Boleh NALAR, atau IKUT-IKUTAN.

Senin, 28 Desember 2015

Pesan dari Bung Karno

Saya sangat bersyukur, tulisan berjudul Pesan Dari Bung Karno ini mendapat respon positif banyak orang. Mereka menyatakan suka terhadap catatan saya yang diterbitkan di harian Kaltim Post edisi 27 Desember 2015. Ada juga teman yang mengkritik. Saya tetap berterimakasih karena sudah mau membacanya.

RAYMOND CHOUDA, Samarinda 

HARI Ibu sudah berlalu. Tapi, hari ini, apa kita mau melupakan banyak hal tentang ibu? Seolah kelelahan, karena sudah habis-habisan memberi kasih sayang paling pol sehari penuh, 22 Desember lalu. Hei, bukan itu tujuan Bung Karno menetapkan Hari Ibu.

Saya sadar, tulisan ini terlambat diturunkan. Namun, ini memang sengaja, agar bisa memberi sudut pandang berbeda dari pembahasan yang sama. Bila tulisan ini diturunkan pada Hari Ibu atau sehari kemudian, tentu hasilnya tak sama. Pada Hari Ibu sajakah muncul kasih sayang raksasa, seolah tiada perempuan selain ibu? Lalu, sepekan kemudian kembali menyepelekan ibu.

Oke, mari mulai ceritanya.

AKHIR 2014, AWAL 2015
Nyaris setiap hari saya bangun kesiangan. Pulang kerja selalu larut malam. Padahal, kalau dihitung, waktu efektif bekerja saya tak sampai sehari penuh. Hanya kurang dari delapan jam; 4 jam liputan, 4 jam lagi menyusun berita. Sisanya leha-leha.

Sosok yang selalu meneriakkan nama belakang saya dengan panjang, "Moooon", untuk membangunkan tidur adalah ibu. Hampir setiap pagi, adegan yang sama berulang. Pertanyaan yang itu-itu saja. "Mon, sudah kamu uruskah kuliahmu? Skripsimu sudah sampai mana? Kapan kamu lulus? Kapan kamu nikah? Bla bla bla…" Juga, beberapa pertanyaan lain dari ibu yang bisa membuat lubang pendengaran saya ditutupi sendiri oleh daun telinga secara otomatis.

Ekspresi wajah saya selalu datar. Bahkan, kadang ditambah dahi yang mengerut karena belum bisa memberi jawaban yang diharapkan. "Ya, nanti Ma. Saya masih mengurusnya. Dosen itu sulit ditemui. Nanti nikahnya kalau sudah lulus kuliah," jawab saya membela diri. Saya kerap menyalahkan pihak lain agar ibu kehabisan pertanyaan.

Enam tahun berjibaku dengan bangku kuliah sejak 2009, akhirnya saya lulus 31 Juli 2015. Ibu kini hanya memiliki satu pertanyaan pamungkas, "Kapan nikah?" Saya jawab, "Tunggu setelah wisuda”. Akhirnya, wisuda pun berlalu pada 12 Desember. Saya semakin tersudut.

19 APRIL 2012
Sebulan sudah saya tak hadir perkuliahan. Lumpuh separuh tubuh ini ternyata bukan karena gangguan makhluk halus seperti dugaan para orang pintar yang coba mengobati. Itu karena tumor sebesar pentol bakso di ujung otak kanan saya, yang tergolong jinak. Namun, menyerang saraf motorik.

Wajah ibu terlihat tak karuan, seolah akan menghadapi kiamat. Pagi itu, pukul 07.00 Wita, ibu membantu memasangkan pakaian khusus operasi berwarna hijau, karena tangan kiri saya sedang lumpuh. Jadi, dalam hampir segala aktivitas, saya perlu dibantu. Ibu adalah sosok yang selalu hadir untuk saya.

Entah kenapa, seketika rasa syukur memenuhi dada. Merasa tak pernah sebahagia ini, karena baru sadar hebatnya kasih sayang orangtua. Saya yang sudah sangat lama tidak menangis akhirnya mengucurkan air mata. Terharu. Ibu pun tertular tangisan itu. Saya tak menyangka, ada adegan seperti ini.

Berbulan-bulan, bahkan menahun, saat menderita penyakit ini. Saya dirawat ibu dan ayah dengan sangat. Ibu tak pernah sedikit pun menyepelekan penderitaan saya. Beliau rela pergi mencari daun sirsak di pekarangan rumah tetangga yang jauh, juga mencari bawang tiwai, dan bermacam eksplorasi obat herbal, saran keluarga dan kerabat, ataupun Mbah Google.

Ibu memaksa dan terus mengingatkan saya untuk meminum obat, walau kadang saya memuntahkannya karena sangat pahit. Ayah pun terus menyemangati saya agar tak berkecil hati. Hingga tiba saatnya, operasi pengangkatan tumor oleh dokter spesialis bedah saraf Arie Ibrahim. Sangat menegangkan. RSUD AW Sjahranie seketika menjadi planet Mars. Para perawat terlihat seperti alien. Maaf, ini lebay.

Selama delapan jam operasi berlangsung. Kepala saya dibelah. Batok tengkorak kepala saya digergaji. Otak saya diutak-atik. Tumor itu diangkat sedikit demi sedikit. Jelas, ini antara hidup dan mati. Mungkin malaikat kematian saat itu ikut menonton jalannya operasi. Bila memang saatnya, nyawa saya bakal dicabut.

Di luar ruang operasi, ibu dan ayah menunggu. Teman-teman ibu ikut menemani, sembari memperkeruh suasana. Mereka berkata, operasi di bagian otak kerap membuat nyawa melayang. Bila gagal atau paling tidak membuat hilang ingatan. Ibu tambah tak tenang.

Akhirnya, saya terbangun di ruang ICU. Tiga perawat berada di hadapan. Ingin bertanya, saya sedang berada di mana? Tapi, suara saya tak bisa keluar karena tenggorokan kering karena dinginnya ruang operasi. Juga, karena sedang puasa sebagai syarat operasi.

Perawat meminta agar tidak menggerakkan kepala sama sekali, karena ada pipa kecil di belakang bagian kiri kepala saya yang harus membuang cairan kimia. Hanya tangan kanan yang bisa saya gerakan. Kaki, keduanya diinfus. Saat itu, pendengaran saya menjadi berlebihan peka, sehingga risih bila ada yang berbicara.

Tak lama kemudian, suara ayah dan ibu terdengar dari kejauhan. Mereka berbicara kepada perawat, ingin menengok. Saat mendekat, secara refleks saya kibaskan tangan, bermaksud meminta mereka menjauh. Saya saat itu menganggap suara mereka mengganggu. Juga, karena faktor masih tegang pascaoperasi.

Terlihat, saya seakan mengusirnya. Ibu, wajahnya datar, dihiasi senyum kecil, bahkan teramat kecil, sehingga tampak sangat sedih. Mirip langit mendung yang akan menurunkan hujan paling deras. Mereka mengira saya lupa ingatan, tak kenal lagi dengan orangtua sendiri.

Lalu, ayah menarik tangan ibu, mengajak keluar dari ruangan. Beberapa langkah getir menuju pintu keluar, tapi ibu menoleh kembali ke arah saya. Anak lelaki satu-satunya di antara dua saudara perempuan tersebut langsung mengangkat tangan. Mengacungkan jempol, mengisyaratkan masih punya ingatan dan akan baik-baik saja. Mereka terlihat lega.

Selanjutnya, ibu terus merawat saya di rumah sakit. Menyediakan makanan sehat sehari-hari. Menyiapkan segala keperluan dan mempermudah kesulitan saya. Untuk membuang air kecil, saya memerlukan bantuan ayah dan ibu. Betapa sulitnya masa itu. Saya menjadi kembali seperti bayi. Ini terus berlangsung hingga berbulan-bulan, bahkan setahun lebih. Sampai akhirnya saya bisa mandiri.

SEKARANG
Saya sudah sehat. Walau memang, terkadang lupa dengan penderitaan yang menyiksa fisik dan mental saya dulu. Bahkan kini, saya tak jarang berselisih pendapat dengan ibu. Sampai-sampai, beberapa kali mengecewakan dan melawannya. Itu khilaf yang begitu hebat. Padahal, hanya untuk membela keinginan bodoh, yang ujung-ujungnya demi menghibur diri saya sendiri. Tak akan saya sebutkan di sini.

Ibu. Mungkin ibu bukan sosok sempurna. Hari Ibu, 22 Desember itu bukan hari yang dahsyat dibanding hari lain. Sahabat sekaligus guru saya, Ustaz Gianto, mengatakan lewat akun Facebook. "Bagiku tidak ada Hari Ibu. Setiap hari adalah Hari Ibu, supaya kita selalu berbakti kepada ibu. Rasulullah bersabda, kalian berbuat baiklah pada ibumu, ibumu, dan ibumu, lalu ayahmu. Surga berada di bawah telapak kaki ibu. Hari Ibu ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada 22 Desember sebagai koreksi bagi kita. Apa yang telah dilakukan selama satu tahun terakhir kepada ibu. Hari Ibu adalah koreksi bagi diri kita. Love you forever, Mom," tulis nya. (*)


Artikel di atas telah terbit juga di Kaltim Post :

http://m.kaltimpost.co.id/artikel/detail/253572-pesan-dari-bung-karno.html

Bisnis Gelap di Nusantara

Bisnis gelap smartphone di Tanah Air berlangsung dengan terang-terangan. Kaltim juga termasuk pasar pebisnis gelap ini. Sejauh mana langkah pemerintah menindaknya? Bagaimana dampaknya terhadap pelaku bisnis resmi?

Meski hasilnya tak sempurna, akhirnya saya berhasil menggarap laporan khusus (lapsus) di Kaltim Post. Sebelumnya saya hanya sebagai reporter pembantu bila menggarap lapsus. Jauh sebelumnya, saya pernah gagal ketika diminta menjadi koordinator lapsus di halaman kota.

Dari kualitas berita, memang tidak memuaskan, karena kurang detail. Bahannya tidak kaya. Tapi, karena adanya tambahan data penelitian lapangan Tim Survei Kaltim Post, beritanya terlihat nyaman dipandang.

Saya sangat meminta maaf kepada rekan saya Roesita Ika Winarti, karena tak sempat menggabungkan dua berita lapsus ini dengan bahan liputan darinya. Padahal, kami menggarapnya berdua. Lapsus ini pun adalah ide Sita --sapaannya. Tapi ketika membahas lapsus beberapa hari ini kamu sulit sekali dihubungi Sitaa...

Jadi saya sengaja mengirimkan duluan bahan liputan ke Redaktur Pro Bisnis Kaltim Post Lauhil Machfud. Maksud saya agar Sita termotivasi untuk segera mengumpulkan bahan lapsusnya. Tapi, atasan sepertinya memiliki rencana lain, sehingga langsung menerbitkan lapsus hanya dari bahan liputan saya. Yasudah lah kalau begitu.

Di bawah ini adalah lapsus yng dimaksud. Selamat membaca...


Bisnis Gelap yang Terang

Nilai tukar dolar yang terus melejit ikut melambungkan harga barang impor, terutama gadget. Dorongan gaya hidup membuat produk asli yang dijual secara gelap pun kian diburu masyarakat dengan terang-terangan.

HANYAmelaluismartphone, siapa pun bisa terhubung dengan pasar. Bahkanuntuk mencari pasar barang gelap kini seperti membalikkan telapak tangan. Mudahnya bukan main.Kaltim Post pun telah mencobanya, memasukkan kata kunci “jual handphone black market” pada kolom pencarian di website Google. Hasilnya, beragam pilihan laman langsung tersedia.

Salah satu situs yang dikunjungi koran ini, website khusus gadged black market. Laman tersebut menyatakan harga handphone selalu update setiap hari. Lebih hebat lagi, jaminan garansi telah disediakan, tak kalah dari toko elektronik di tengah kota. Garansinya kurun waktu sebulan hingga setahun. Tak hanya barang asli dengan harga murah, mereka juga menjual barang replika kualitas super copy.

Sementara situs lainnya, dalam bentuk blog, mengaku menjual barang sitaan pihak bea cukai. Dia meminta agar para konsumen jangan heran dengan penawaran harganya yang miring banget. Alamat penjual tersebut berada di Batam, Riau.

Perempuan penjual barang black market itu menyatakan, jika dalam tiga hari barang yang diterima terdapat cacat produksi maka akan ditukarkan dengan unit baru. Dia menjamin, barang jualannya 100 persen produk asli. Dan, bila ada yang menjual lebih murah, dia meminta untuk diinfokan agar bisa memberikan harga yang lebih baik lagi.

Beberapasmartphoneberharga miring di beberapa situs tersebut rata-rata nilai jualnya antara lain, Samsung Galaxy S5 seharga Rp 4.020.000, dan terdapat barang replikanya juga dengan harga Rp 1.010.000. Padahal harga barang asli dengan kondisi baru mencapai Rp 5.250.000. Sementara iPhone enam S plus (6S+) kapasitas 128 giga byte (GB) dijual Rp 14.800.000, bandingan dengan ponsel barunya di toko resmi adalah seharga Rp 17.790.000. Nah, untuk Blackberry Q10, diberikan harga penawaran Rp 2.020.000, berbanding jauh dengan harga aslinya Rp 6.100.000.

Jika diamati, antara barang ilegal dengan barang legal, selisih harganya rata-rata dari sekira Rp 1 juta hingga kisaran Rp 4 juta per unit. Dengan kata lain, uang Rp 1 sampai Rp 4 juta tersebut bisa digunakan untuk membeli hingga dua unit smartphone ilegal tersebut. Katakanlah Blackberry Q10 di toko resmi seharga sekira Rp 6 juta sebanding dengan membeli tiga unit Blackberry Q10 di toko barang gelap online.

Cukup menghubungi nomor telepon atau alamat media sosial yang disediakan beberapa situs tersebut, siapa pun bisa memesannya.

BANYAK PINTU MASUK

Kualitas ilegal tak berbeda dengan barang legal. Bedanya, harga yang dijual lebih murah karena tak tersentuh pajak.Pengamat Perekonomian dari Universitas Mulawarman, Rachmad Budi Suharto mengatakan, saat ini daya beli masyarakat sedang turun. Nilai dolar belum bersahabat. Suku bunga bank meningkat mengikut BI rate di angka 7,5 persen lantaran menyesuaikan keadaan uang dunia pada bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed. Otomatis setiap barang terutama impor, harganya meningkat. Nah, akhirnya barang ilegal maupun barang KW (kualitas, alias tiruan) menjadi pilihan masyarakat.

“Kalau masyarakat sih tak peduli, mereka mencari yang termurah. Tak peduli legal atau tidak, garansi atau tidak, maunya yang instan. Sebab, kualitas barang ilegal tak berbeda dengan yang asli. Atau kalau barang tiruan, kualitasnya sudah banyak yang dibuat semirip mungkin. Sementara pihak pengusaha pasti merugi karena brand barang mereka jatuh akibat tanpa melewati bea cukai,” papar akademisi Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman ini.

Saat ini, terang lelaki yang akrab disapa RB ini, banyak pintu masuk barang impor selain bea cukai. Bisa melalui jalur udara, air, maupun ekspedisi abal-abal. Di sosial media (sosmed) tak kalah pula, banyak penawaran harga yang gila-gilaan.

"Kenapa pemerintah tak tertibkan saja di sosmed. Karena, masyarakat mana yang mau menolak barang murah dengan kualitas yang sama dengan aslinya,” ujarnya.

Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Samarinda Jannus Siahaan menerangkan, pihak instansi ini tidak diberikan kepercayaan menangani jalur impor barang elektronik. Adapun barang elektronik ditangani pihak Bea Cukai pusat di Jakarta. Di Samarinda, Bea Cukai hanya menangani masuknya barang di pelabuhan Samarinda, yang kebanyakan komoditas pangan.

“Sebagian besar Bea Cukai Samarinda menangani ekspor komoditas seperti hasil tambang batu bara maupun hasil kebun sawit. Sebab, Kaltim adalah daerah penghasil sumber daya alam yang selalu diekspor ke luar daerah maupun luar negeri,” ujarnya.(*/mon/lh/k18)



http://m.kaltimpost.co.id/berita/detail/253679-smartphone-black-market-bisnis-gelap-yang-terang.html

http://m.kaltimpost.co.id/berita/detail/253678-incar-harga-murah-malah-berakibat-parah-ini-cara-ketahui-smartphone-asli-atau-palsu.html

Minggu, 13 Desember 2015

Traveling Hidup ini

Traveling adalah hal yang menyenangkan. Sebab, pengalaman ke luar kota bukan rutinitas. Dari sana, mengenali kebudayaan daerah wisata dan menjadikannya sebagai karya jurnalistik adalah hal terbaik dari berlibur, menurut saya. Dan, hidup ini adalah traveling yang terus berlanjut.

Sebelum hari ini, sudah lama saya tidak naik pesawat. Kira-kira sembilan tahun lalu, saat keberangkatan saya ke Jakarta untuk dijadikan model oleh seorang manajer yang kini entah di mana. Cukup tegang, apa lagi saat pesawat lepas landas, lalu menukik ke atas. Beragam berita kecelakaan pesawat pun langsung memenuhi ruang otak. Saya spontan berpegang erat pada apa pun yang ada di sekitar. Tentu saja tangan saya tidak sembarangan pegang ke tubuh penumpang perempuan di sebelah saya. Tentu tidak.

8 November 2015, tercatatkan dalam sejarah hidup saya sebagai hari keberangkatan saya kembali ke Kalsel. Ya, dulunya saat masih bayi saya bertempat tinggal di sana, tepatnya di Jalan Veteran, Banjarmasin. Ini adalah tugas liputan sekaligus liburan bagi saya. Bank Indonesia mengadakan pelatihan wartawan ekonomi dan mengundang seluruh perwakilan media di Kalimantan. Lantas, Pemred Kaltim Post Rizal Juraid menunjuk saya untuk diberangkatkan. Oh, senangnya...

Saat posisi pesawat terbang, otak saya memutar kembali rekaman pengalaman selama di Jakarta sembilan tahun lalu, tanpa sengaja. Itu pengalaman yang menyenangkan, sekaligus memilukan. Waktu itu manajer saya Bang Litto menjanjikan untuk mengikutsertakan saya dan sekitar 10 teman lain untuk mengikuti kontes foto model Majalah Aneka Yess.

Tapi selama sebulan persinggahan, kami terombang-ambing di sebuah hotel Balikpapan, tanpa kepastian. Para calon foto model rontok satu per satu, tak ingin tertinggal waktu sekolah. Jadi mereka yang kesemuanya adalah anak sekolah dijemput orang tua masing-masing. Tersisa sedikit makhluk di hotel, dengan biaya sewa kamar yang menunggak. Bodoh kan?

Bang Litto berdalih mengurus pencairan uang dari Bupati Kukar kala itu, Pak Syaukani. Tapi lelaki berambut gondrong itu tak kunjung datang hingga sebulan. Saat datang, dia ingin langsung terbang ke Jakarta. Dan, hanya saya yang diajaknya saat itu. Teman yang lain diminta menunggu di hotel. Nah, saat itulah kali pertama saya naik pesawat di usia remaja saya. Rasanya sama seperti naik pesawat ke Kalsel kali ini.

Setengah bulan di Jakarta bersama Bang Litto, saya belajar mengenali kebudayaan ibu kota negara itu. Dunia di sana sungguh bebas, dalam hal pergaulan. Jauh lebih bebas dan mengarah ke budaya Barat. Sebagian lagi, adalah budaya khas Betawi : bajaj, dan segala pernak-pernik kota. DKI adalah kota jasa yang sangat berkembang. Sangat banyak investasi di sana. Jalan rayanya pun sangat lebar. Tapi masalahnya, jumlah kendaraannya juga sama banyaknya dengan penduduknya. Sehingga budaya macet Jakarta adalah ciri yang paling kuat di antara budaya lainnya.

Sekira setengah bulan di Jakarta, kemudian dua teman saya yang terlantar di sebuah hotel Balikpapan menyusul kami. Sampai sekira seminggu mereka bersama kami di sana, tetap tak ada kegiatan modelling yang dijanjikan. Sampai akhirnya mereka, Tyson dan Jeffi, pulang lagi ke Balikpapan. Dan, sampai sekira tiga hari saya pergi ke Cirebon karena ada kegiatan lomba model Majalah Aneka Yess, juga tak ada janji sang manajer terbukti.

Saya diam saja. Di pikiran saya, hanya ingin jalan-jalan dan bersenang-senang. Saya yang masih duduk di bangku SMP kelas tiga waktu itu, terlampau lugu. Sepanjang perjalanan kami hanya bersenang-senang seakan tak ada tujuan hidup. Sampai hampir sebulan, akhirnya datanglah rasa rindu kepada rumah saya di Samarinda. Merindukan kedua orang tua, kakak-adik, dan kehidupan saya di Kota Tepian.

Akhirnya, ayah saya kebetulan ada kegiatan urusan pekerjaan di Jakarta. Saya langsung berkomunikasi dengan beliau. Singkat cerita, ayah mengajak saya ikut pulang bersamanya setelah dua hari kegiatan pekerjaannya. Akhirnya, kami pulang, naik pesawat tentunya. Saya menyadari saat ini, saya di masa muda selalu memikirkan kesenangan diri sendiri. Padahal, orang tua saya selalu disibukkan oleh beragam tingkah bodoh saya.

Saat di Kalsel, saya meratapi kembali kehidupan. Saya hanya mengingat, saat masih usia bayi dulu saya hidup di kota tersebut. Saya pun bertanya dalam hati, "apa yang dulu dikerjakan orang tua saya untuk menghidupi saya? Apa yang ada di pikiran mereka?"

Berdasarkan cerita dari ibu, saya dulunya tinggal di Kalsel dengan keadaan menyewa rumah. Keluarga saya itu finansialnya terbatas, namun untungnya selalu berkecukupan. Dan, hidup ini berputar begitu cepat. Saya pun melakukan tugas liputan di Banjarbaru, Banjarmasin, hingga Martapura, dalam tiga hari. Sebanyak mungkin tulisan saya buat dari jalan-jalan di kampung halaman Kalsel itu.

Saat itu, orang tua saya juga berlibur ke Kalsel. Berbeda hotel, ayah dan ibu seperti bulan madu di masa tua, di sebuah hotel biasa yang pengap udara. Lalu berpindah ke penginapan Guest House di Martapura, pada hari kedua mereka di Kalsel. Sementara saya menginap di Novotel Banjarbaru, hotel bintang empat atau lima, mungkin. Sangat mewah. Saya dan kedua orang tua pun sempat berjalan-jalan di Banjarmasin. Lalu akhirnya kebetulan pulang pada hari yang sama dalam satu maskapai penerbangan, pada 11 November, pukul 11.00 Wita.

                                                  *****

Hari ini, 12 Desember 2015, saya baru saja mengikuti wisuda kloter IV tahun ini di Universitas Mulawaraman. Enam tahun satu bulan masa pendidikan saya di kampus pelat merah itu. Ayah dan ibu terlihat senang. Akhirnya anak mereka yang lelaki satu-satunya ini lulus. Babak baru hidup saya pun dimulai. Saya tahu, saya harus segera mencari pasangan untuk menikah, sebagaimana ibu menagih saya untuk segera menikah seperti para sepupu yang sudah memiliki momongan.

Cukup berat. Saya harus siap tidak hanya pada keuangan dan jaminan pekerjaan yang baik. Tapi juga harus siap mental, jiwa, kesehatan, dan tentunya batin.

Traveling hidup saya sudah sejauh ini. Usia saya kini 24 tahun. Teman-teman SMA sudah hampir semuanya menikah --mungkin hanya tersisa dua atau tiga orang lagi. Apakah saya sudah siap dan kuat? Iya, saya siap dan kuat karena masih ada bantuan orang tua. Tapi, satu hal yang selalu jadi penganggu saya : kesehatan. Semoga saja saya selalu mendapat pertolongan Allah.

Pada hakikatnya, traveling hidup ini mesti berlanjut ke jenjang yang lebih baik. Tak boleh seperti treatmill : jalan di tempat. Bismillah.

Sabtu, 28 November 2015

Perbedaan Pahlawan dan Relawan

Seperti cerita fiksi dalam Marvel Comics maupun DC Comics, suatu negara memiliki superhero. Katakanlah Spiderman yang menjadi pahlawan di Amerika Serikat. Atau tak usah jauh-jauh ke Hollywood, di Malaysia memiliki tokoh yang diidolakan, yaitu Boboboi, film kartun 3D. Bagaimana dengan di Indonesia? Tentu kita juga punya.

RAYMOND CHOUDA, Samarinda

PADA Minggu (4/10), jago merah mengamuk di kompleks Perumahan Dikbud, Jalan Juanda 4, Kelurahan Air Hitam, Samarinda Ulu. Dalam musibah tersebut, tiga rumah dan dua motor menjadi arang.

Cuaca saat itu panas sekali. Serasa matahari akan jatuh. Dari Tepian Mahakam di Jalan RE Martadinata, terlihat kabut asap di wilayah Samarinda Seberang. Itu menandakan benarnya isu bahwa kebakaran hutan mencemari lingkungan.

Nah, pada hari yang sama, pukul 13.30 Wita lewat, saya dan ayah saya akan pergi berobat ke alternatif di Samarinda Seberang. Hal tersebut adalah jadwal rutin setiap pekan. Setengah perjalanan, terlihat dari Jalan AW Sjahranie asap kebakaran itu baru saja mengepul dan menghitamkan langit. Suara sirene pemadam kebakaran langsung jadi musik pengiring pada siang yang terik itu.

Karena adanya pengerjaan proyek flyover yang membuat simpang Air Hitam ditutup, saya dan ayah mencari jalur lain agar terhindar macet. Saya yakin, sebagian besar penduduk Samarinda tahu, lokasi pembangunan jalan layang itu macet luar biasa –polisi lalu lintas dan Dinas Perhubungan mengurusnya setiap hari.

Tiba-tiba dari arah Jalan Letjen Soeprapto muncul mobil pemadam kebakaran lain. Di atas mobil itu ada beberapa lelaki yang berteriak lantang tanpa pengeras suara. Dia meminta pengguna jalan untuk “minggir”. Saya dan ayah yang berada tepat di tengah tempat berputar arah jalan yang macet itu, segera menepi ke bibir Jalan Anggur.

Pada saat bersamaan, lelaki tersebut melemparkan air mineral kemasan gelas sembari kembali berteriak meminta dibukakan jalan. Saya tak mengada-ada, lemparan itu kencang, sekitar 15 meter dari saya. Saat itu, waktu seakan berputar lambat seperti yang terjadi di film The Matrix bila pemeran utamanya Keanu Reeves menghindari tembakan musuhnya.

Air mineral tersebut hanya mengenai ban depan motor matic kami, sehingga setang motor ikut terguncang. Saat itu, penjoki motor adalah ayah saya yang kini berusia 54 tahun. Gluk… kaget, kami menolehkan ke arah mobil pemadam itu sambil meneguk liur. Begitu juga pengendara motor dan mobil lain di tengah macet itu. Kami semua tidak balik meneriaki, apalagi balas melempar air mineral.

Sedikit cerita, pada 19 April 2012, saya menjalani operasi pengangkatan tumor otak. Dilanjutkan operasi kedua untuk mengembalikan tulang batok kepala yang tadinya dipotong segi empat, 40 hari setelahnya. Hingga kini, luka dalamnya belum sembuh, sebagian kepala saya masih lunak, bergerak-gerak bersamaan nadi, mirip kepala bayi yang baru lahir karena tulangnya belum mengeras.

Lantas saya membatin, jika lemparan tadi menghantam kepala saya, apa yang akan terjadi? Atau jika ada bayi di tengah kemacetan itu, bagaimana kelanjutan kisahnya? Atau seandainya, ada lansia di sana, lalu lemparan tadi mengenainya. Mungkin lansia itu langsung tutup usia.

Ketika mereka berhasil melewati kami, saya melihat terpampang tulisan “RELAWAN” di mobil pemadam itu. Saya tak tahu, apakah lelaki tersebut memang dilatih melempar air mineral kemasan gelas untuk mengurai kemacetan saat ada kebakaran? Saya pun tak tahu, apakah dia berhasil memadamkan apinya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), relawan adalah sukarelawan, orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela, tidak karena diwajibkan atau dipaksakan. Dengan kata lain, relawan adalah mereka yang bekerja secara ikhlas dengan hati.

Sesampainya di Jalan Pasundan, setelah melepaskan diri dari kemacetan tadi, muncul mobil pemadam pemerintah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Tak berbeda, mereka berteriak tanpa pengeras suara meminta masyarakat menepi. Sementara itu, sering dijumpai para mahasiswa yang menuntut berbagai kebijakan pemerintah berteriak dengan pengeras suara.

Saya pikir, baiknya pengeras suara itu dipinjamkan saja kepada para pemadam kebakaran sebagai wujud gerakan mahasiswa. Jadi, ke depan para pemadam kebakaran tak lagi berteriak ketika ada kemacetan.

Tentu masyarakat bertanya-tanya, bagaimanakah konsep pemerintah mengatur petugas pemadam kebakaran dalam bekerja melayani dan menolong masyarakat. Juga, apakah ada pengaturan bentuk kerja sama pemadam yang dibawahi pemerintah dengan para relawan. Tentu masyarakat juga bertanya, apa mereka diajarkan cara bersikap kepada masyarakat?

Tulisan ini hanya sebagai refleksi di tengah peliknya musim kemarau yang melanda di berbagai daerah. Kebakaran terjadi di mana-mana dengan mudah. Terlebih kebakaran hutan yang menyebabkan kabut asap menjadi penyakit kota. Kalau sering terjadi kebakaran, apa akan sering juga terjadi lemparan air mineral kemasan gelas itu?

Para petugas pemadam kita bukan 911. Bukan pula salah satu karakter superhero dalam Marvel Comics. Kita semua juga tahu bahwa Spiderman maupun Superman tak pernah melempar air mineral kemasan gelas dalam aksinya. Namun, jika bukan mereka, siapa lagi yang akan melakukannya. (*/kri/k8)

*Catatan ini adalah karya tulis saya yang diterbitkan di harian Kaltim Post, 11 Oktober 2015. Tepatnya, sepekan setelah saya kembali dari izin cuti untuk menyelesaikan kuliah.

Rabu, 09 September 2015

Pembangga Jurusan Mungil Unmul


HANYA karena kelihatannya keren, akhirnya pada 2009 silam, saya memilih untuk menempuh pendidikan S1 di program studi yang saat itu masih segar di Universitas Mulawarman, "Ilmu Komunikasi".

Ilkom, singkatannya begitu, dilahirkan pada 2004. Belum ada presiden maupun pemimpin daerah, atau kepala SKPD pemerintahan kota lahir dari kampus saya itu. Saya sendiri bukan siapa-siapa.

Sampai menit ini (pukul 00.44 Wita, 10 September 2015), saya masih belum ditakdirkan untuk memiliki ijazah S1 Ilmu Komunikasi, walau pendadaran skripsi saya sudah dilakukan sebulan lalu. Hampir setiap hari juga saya ditagih (tentu saja bukan karena terlilit hutang di bank), Ibu saya meminta agar segera lulus kuliah. Dan, menikah. Padahal beliau mengetahui bahwa saya seorang jomblo akut. Hiks...Hiks... Sudah cukup ma, saya malu... T.T

---OK, SKIP. Bukan kejombloan yang mau saya bahas di sini---

Hanya beberapa mahasiswa saja yang kerap dibanggakan para dosen Ilkom. Saya tak termasuk hitungan, karena untuk masuk prodi Ilkom sendiri pun saya hanya tebak-tebakan dengan feeling. Padahal itu menentukan masa depan saya. Mengenai beberapa mahsiswa itu, di antaranya adalah Dragono Halim, redaktur pelaksana di perusahaan koran harian Samarinda Pos. Lelaki ini adalah seorang penulis handal. Tanpa perlu ditelusuri jauh-jauh, saya bisa menebak, bakat menulisnya yang baik dan keuletannya membuatnya tak perlu berlama-lama menunggu naik jabatan. Hanya sekira dua sampai tiga tahun.

Lalu ada Raeza Febrina Sari, seorang Duta Wisata Samarinda 2011 yang juga terpilih sebagai Puteri Pariwisata Kaltim 2013. Echa, sapaannya, juga sempat mewakilkan nama Kaltim di 10 besar Puteri Pariwisata Indonesia pada akhir 2014 lalu. Perempuan bertubuh semampai ini juga adalah rekan kerja saya di perusahaan koran harian, Kaltim Post. Echa adalah wartawati halaman XpResi, kolom bacaan khusus anak muda.

Sebelum saya menulis artikel ini, tadi siang saya sedang mem-browsing nama dosen beserta gelarnya untuk saya tuliskan di skripsi saya. Ketika membuka website: ilkom.fisip-unmul.ac.id, bukan hanya nama dosen yang saya dapat. Melainkan artikel tentang kedua orang tersebut. Kebetulan saya cukup akrab dengan keduanya. Nah, untuk bang Dragon, sapaan Dragono Halim, saya terus membaca artikel tentang dirinya, bahkan artikel-artikel yang dia posting di blognya. Ternyata benar, dia penulis yang aktif dan hebat.

Bukan hanya terkagum-kagum dengan gaya penulisannya yang mudah dicerna dan atraktif, saya justru menjadi panas. Membaca tulisannya membangkitkan kembali gairah menulis saya. Sudah lama saya tidak menulis untuk di-posting, karena saya cuti untuk menyelesaikan kuliah sejak Mei 2015.

---Kembali ke Ilkom---

Untuk masalah gedung, di prodi Ilkom saat ini masih belum jelas. Belum ada tulisan besar yang terpampang di depan sebuah gedung besar: Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Mulawarman. Mahasiswanya pun jadi ikut-ikutan tak jelas saat hendak memulai kuliah, ruangan mana yang akan mereka datangi. Lagi-lagi mereka harus berdiskusi dengan dosennya untuk menentukan ruangan dari gedung Fisipol mana lagi yang akan mereka pinjam.

Sekali lagi, mata kuliah mereka lebih menjurus untuk menjadi seorang Public Relation. Memang, belum banyak yang bisa dilakukan Rektorat maupun jajaran Dekanat Fisipol Unmul, karena prodi Ilkom sendiri baru berdiri 2004 lalu, alias 10 tahun. Padahal, jika Ilkom Unmul adalah sebuah fakultas (bukan sebuah jurusan seperti sekarang), maka akan ada banyak jurusan atau program studi bercabang di bawahnya. Contohnya seperti jurnalistik, broadcasting, dan lain sebagainya.

Jika Ilkom Unmul adalah seorang anak manusia, pada usia 10 tahun, maka saat ini sudah bisa berlari liar karena anak itu adalah seorang bocah kelas lima SD. Di Jepang, anak kelas lima SD sudah terbiasa membuat robot. Tapi kalau di Indonesia, anak kelas lima SD (zaman sekarang) kebiasaannya adalah menggunakan robot bebek atau matic buatan Jepang untuk kebut-kebutan di jalan raya. Karena, mereka adalah cabe-cabean. Lalu, apa di Ilkom Unmul mahasiswanya banyak yang cabe-cabean? Entahlah.

Dulunya, Ilkom memang memiliki gedung sendiri. Dua tingkat dengan lima ruangan, tapat di hadapan gedung Administrasi Negara Fisipol. Sebenarnya ada enam ruangan, tapi yang satu dikhususkan untuk menyimpan peralatan broadcasting.

Seorang dosen perempuan muda yang dianggap banyak mahasiswanya cantik, Rina Juwita (usianya masih kepala dua), pernah meminta agar mahasiswanya menyerahkan berbagai piagam maupun piala yang dimiliki sebagai bahan pendukung meningkatkan akreditasi kampus. Kini, Ilkom Unmul memiliki akreditasi "B".

Saat itu saya sempat berpikir, apakah piala juara band di berbagai festival yang saya miliki di rumah bisa digunakan? Lalu saya menampik pikiran saya itu, dan menganggap tak ada hubungannya antara band dengan akademik. Kini saya berpikir, apakah bila ada seorang alumni Ilkom Unmul menjadi Wali Kota Samarinda, atau Gubernur Kaltim sekalipun, prodi yang berusia 10 tahun itu bisa memiliki akreditasi "A", lalu dihadiahkan sebuah gedung Fakultas khusus Ilkom.

Jawabannya, bisa iya, bisa juga tidak. Iya, bisa terwujud bila sang alumnus sukses itu mengupayakannya. Dengan menggunakan kewenangan dan kekuatannya sebagai Wali Kota atau Gubernur, tentu bukan hal yang sulit. Tidak terwujud juga bisa terjadi, jika upayanya kurang, atau bahkan dia ternyata kacang lupa kulitnya.

Waduh, sekarang saya jadi teringat hal yang menarik dan jenaka. Tentang seorang teman sesama wartawan satu angkatan di Kaltim Post. Dia mencalonkan diri menjadi Wali Kota Samarinda periode 2015-2020. Dia adalah Ibrahim, adik tingkat fakultas dua tahun di bawah saya, seorang mahasiswa prodi Ilmu Pemerintahan angkatan 2011. Sangat lucu ketika mendengar kabar dia mencalonkan diri itu. Sebab, saya langsung teringat wajahnya yang ceking.

Hanya saya mengapresiasi keberanian di usianya yang muda itu. Tak semua orang mampu melakukannya, dan mampu menahan malu atas banyak cemoohan publik. Kemunculan kabarnya mencalonkan sebagai wali kota Samarinda tersebut mendapay BULLY di sana-sini usai temannya sendiri menerbitkan postingan di grup publik media facebook, Bubuhan Samarinda (Busam). Untung saja Ibrahim bukan mahasiswa Ilkom. Saya bersyukur akan hal itu. Just kidding, him.

Saat ini, jurusan Ilkom Unmul semakin populer. Pertumbuhan mahasiswa baru yang terdaftar semakin tinggi. Saya berharap, semoga kelak lahir seorang yang berkedudukan penting di pemerintahan atau perpolitikan dari Ilkom Unmul. Semoga juga, sesorang itu nantinya membantu kesejahteraan kampus yang membesakannya itu.

Sabtu, 15 Agustus 2015

Manfaat Semut Jepang dan Cara Mendapatkannya

Seperti judul di atas, saya akan membahasnya semudah mungkin agar tidak sulit dicerna. 

Saat ini, dunia kesehatan di Indonesia sedang demam obat herbal. Mulai dari kulit manggis, obat herbal dalam kemasan, hingga semut jepang. Nah, semut Jepang bisa dikatakan sebagai obat anti kimia karena mengadung zat enzim yang alami yang dapat membantu meringankan hingga menyembuhakan beberapa penyakit. Manfaat yang dapat diperoleh dari semut negeri sakura tersebut antara lain adalah:

1. Mengatur kadar kolesterol
Kolesterol memang dibutuhkan oleh tubuh kita tetapi tidak sedikit dari kita yang mengkonsumsi kolesterol terlalu berlebihan. Seperti mengkonsumsi makanan – makanan bersantan ataupun makanan laut. Semut Jepang dapat membantu mengaturnya baik bagi penderita kolesterol tinggi maupun normal.

2. Meringankan penyakit jantung
Semut Jepang juga dipercaya dapat mengobati penyakit jantung. Penyakita yang dapat menyerang berbagai usia ini memang penyakit yang menyeramkan karena dapat menghilangkan nyawa seseorang secara tiba-tiba.

3. Meringankan Diabetes
Semut memang senang sekali dengan gula tetapi semut Jepang diyakini dapat membantu mengatur jumlah gula dalam tubuuh kita khususnya bagi penderita penyakit gula alias Diabetes. Mereka akan menghilankan gula dalam darah yang berelebihan.

4. Mengatur tekanan darah
Manfaat lainnya adalah mengatur tekanan darah dalam tubuh. Zat enzim dalam semut Jepang akan membantu mengatur tekanan darah seperti tekanan darah tinggi yang akan berlanjut ke penyakit lainnya.

5. Memberi tambahan visalitas
Untuk anda yang memiliki aktivitas yang padat misalnya membutuhkan energi ekstra dalam berkegiatan rutin, semut jepang dapat menjadi vitamin dalam tubuh yang menambah vitalitas baik pria ataupun wanita. Sehingga akan menambah stamina dan kekuatan dalam tubuh.

6. Meringankan penyakit hati
Penderita penyakit hati seperti liver juga dapat mengkonsumsi semut Jepang sebagai obat. Semut Jepang dipercaya dapat meringankan penyakit hati atau setidaknya tidak membuat penyakit hati kambuh lebih sering.

7. Mengatasi penyakit asam urat
Orang dewasa banyak sekali yang mengalami penyakit asam urat seiring bertambahnya usia. Asam urat disebabkan oleh berbagai faktor dan yang paling dominan adalah karena pola hidup. Semut Jepang akan mengatasi penyakit yang satu ini juga dan membuat penderitanya akan jarang merasa sakit di bagian sendi yang terkena asam urat.

8. Membantu mengobati Stroke
Semut Jepang juga memiliki manfaat untuk membantu mengobati penyakit Stroke. Tentunya tergantung dengan tingkat keseriusan penyakit Stroke sendiri. Bila Stroke telah masuk ke dalam tingkatan tinggi, bisa saja semut Jepang tidak dapat mengobati hanya meringankan.

Pun begitu, periksalah terlebih dahulu ke dokter setempat mengenai penyakit yang diderita. Sebab, semut Jepang hanya sebagai obat alternatif yang dapat anda coba. 

Efek Samping Semut Jepang
Efek sampingnya sampai saat ini belum pernah ada yang menjelaskan tetapi kemungkinan adanya gangguan pencernaan bisa saja terjadi. Dan yang paling penting adalah bagaimana kondisi tubuh kita masing – masing.
Bagaimana Mengkonsumsi Semut Jepang ?
Untuk bentuk ini tentu mudah dikonsumsi dengan cara meminumnya layaknya obat kapsul lain dengan takaran khusus sesuai tujuan memakan semt Jepang.
Untuk Stroke
Misalnya untuk mengobati penyakit Stroke, penderita penyakit ini dapat meminum kapsul sebanyak tiga kali dengan isi semut masing – masing kapsul 2 sampai 3 ekor.
Untuk Diabetes
Untuk penyakit Diabetes dapat meminum kapsul sebanyak dua kali sehari dengan jumlah semut 2 sampai 3 ekor.
Untuk Vitalitas
Sementara itu untuk penambah vitalitas cukup dua kapsul di pagi dan malam hari dengan isi semut 1 sampai 2 ekor.

Cara Konsumsi Semut Jepang
Cara mengkonsumsi lainnya dapat menggunakan bantuan media makanan lain. Contohnya menggunakan buah seperti pisang atau juga pepaya.
Cara 1.
Masukan semut ke tengah-tengah buah kemudian kunyah bersama buah tersebut agar rasa semut tidak begitu terasa. Cara konsumsi yang satu ini bisa dipakai bila anda tidak ingin menggunakan kapsul yang terbuat dari rumput laut. Pastinya semut lebih cepat hancur karena telah dikunyah terlebih dahulu dimulut.
Cara 2.
Ada cara yang lain untuk mengkonsumsi semut Jepang. Cara tersebut adalah dengan menyeduh semut Jepang dengan air hangat. Biarkan beberapa menit sampai air menjadi lebih dingin. Tetapi cara yang ini akan sangat terasa bahwa anda sedang menelan beberapa semut ke perut anda.
Kesimpulannya, Manfaat semut Jepang memang dipercaya dapat membantu mengobati beberapa penyakit. Sesuai asalnya, semut Jepang hidup di iklim Jepang yaang berbeda dengan iklim Indonesia. Tetapi kembali lagi kesehatan ada di tangan anda sendiri. Lebih baik mencegah bukan dari pada mengobati? Sedikit saran, anda lebih baik berkonsultasi terlebih dahulu ke pada dokter atau orang yang ahli apakah tubuh anda cocok untuk mengkonsumsi semut Jepang.

Cara Mendapatkan Semut Jepang
Caranya gampang, belilah di toko herbal yang tersedia di kota anda. Pilihan lainnya, belanja online. Kebetulan saya juga menjual semut jepang secara online. Anda bisa menghubungi saya di:
HP: 082251003550
BBM: 7CC7C5E8
ID-Line: jr-team

Minggu, 24 Mei 2015

Hujan Untuk Minggu

Kemarin, Minggu (25/5), hujan turun lagi. Tepat saat aku hendak pergi berobat ke Jalan Harun Nafsi, Samarinda Seberang, yang dijadwalkan tiap pekan. Hujannya deras. Air dari langit itu sudah turun sejak sekira pukul 13.00 Wita, usai aku naik panggung festival band bersama Ibnu (gitar), Eko (drum), Yudi (gitar), dan Tari (vokal).