Senin, 28 Desember 2015

Bisnis Gelap di Nusantara

Bisnis gelap smartphone di Tanah Air berlangsung dengan terang-terangan. Kaltim juga termasuk pasar pebisnis gelap ini. Sejauh mana langkah pemerintah menindaknya? Bagaimana dampaknya terhadap pelaku bisnis resmi?

Meski hasilnya tak sempurna, akhirnya saya berhasil menggarap laporan khusus (lapsus) di Kaltim Post. Sebelumnya saya hanya sebagai reporter pembantu bila menggarap lapsus. Jauh sebelumnya, saya pernah gagal ketika diminta menjadi koordinator lapsus di halaman kota.

Dari kualitas berita, memang tidak memuaskan, karena kurang detail. Bahannya tidak kaya. Tapi, karena adanya tambahan data penelitian lapangan Tim Survei Kaltim Post, beritanya terlihat nyaman dipandang.

Saya sangat meminta maaf kepada rekan saya Roesita Ika Winarti, karena tak sempat menggabungkan dua berita lapsus ini dengan bahan liputan darinya. Padahal, kami menggarapnya berdua. Lapsus ini pun adalah ide Sita --sapaannya. Tapi ketika membahas lapsus beberapa hari ini kamu sulit sekali dihubungi Sitaa...

Jadi saya sengaja mengirimkan duluan bahan liputan ke Redaktur Pro Bisnis Kaltim Post Lauhil Machfud. Maksud saya agar Sita termotivasi untuk segera mengumpulkan bahan lapsusnya. Tapi, atasan sepertinya memiliki rencana lain, sehingga langsung menerbitkan lapsus hanya dari bahan liputan saya. Yasudah lah kalau begitu.

Di bawah ini adalah lapsus yng dimaksud. Selamat membaca...


Bisnis Gelap yang Terang

Nilai tukar dolar yang terus melejit ikut melambungkan harga barang impor, terutama gadget. Dorongan gaya hidup membuat produk asli yang dijual secara gelap pun kian diburu masyarakat dengan terang-terangan.

HANYAmelaluismartphone, siapa pun bisa terhubung dengan pasar. Bahkanuntuk mencari pasar barang gelap kini seperti membalikkan telapak tangan. Mudahnya bukan main.Kaltim Post pun telah mencobanya, memasukkan kata kunci “jual handphone black market” pada kolom pencarian di website Google. Hasilnya, beragam pilihan laman langsung tersedia.

Salah satu situs yang dikunjungi koran ini, website khusus gadged black market. Laman tersebut menyatakan harga handphone selalu update setiap hari. Lebih hebat lagi, jaminan garansi telah disediakan, tak kalah dari toko elektronik di tengah kota. Garansinya kurun waktu sebulan hingga setahun. Tak hanya barang asli dengan harga murah, mereka juga menjual barang replika kualitas super copy.

Sementara situs lainnya, dalam bentuk blog, mengaku menjual barang sitaan pihak bea cukai. Dia meminta agar para konsumen jangan heran dengan penawaran harganya yang miring banget. Alamat penjual tersebut berada di Batam, Riau.

Perempuan penjual barang black market itu menyatakan, jika dalam tiga hari barang yang diterima terdapat cacat produksi maka akan ditukarkan dengan unit baru. Dia menjamin, barang jualannya 100 persen produk asli. Dan, bila ada yang menjual lebih murah, dia meminta untuk diinfokan agar bisa memberikan harga yang lebih baik lagi.

Beberapasmartphoneberharga miring di beberapa situs tersebut rata-rata nilai jualnya antara lain, Samsung Galaxy S5 seharga Rp 4.020.000, dan terdapat barang replikanya juga dengan harga Rp 1.010.000. Padahal harga barang asli dengan kondisi baru mencapai Rp 5.250.000. Sementara iPhone enam S plus (6S+) kapasitas 128 giga byte (GB) dijual Rp 14.800.000, bandingan dengan ponsel barunya di toko resmi adalah seharga Rp 17.790.000. Nah, untuk Blackberry Q10, diberikan harga penawaran Rp 2.020.000, berbanding jauh dengan harga aslinya Rp 6.100.000.

Jika diamati, antara barang ilegal dengan barang legal, selisih harganya rata-rata dari sekira Rp 1 juta hingga kisaran Rp 4 juta per unit. Dengan kata lain, uang Rp 1 sampai Rp 4 juta tersebut bisa digunakan untuk membeli hingga dua unit smartphone ilegal tersebut. Katakanlah Blackberry Q10 di toko resmi seharga sekira Rp 6 juta sebanding dengan membeli tiga unit Blackberry Q10 di toko barang gelap online.

Cukup menghubungi nomor telepon atau alamat media sosial yang disediakan beberapa situs tersebut, siapa pun bisa memesannya.

BANYAK PINTU MASUK

Kualitas ilegal tak berbeda dengan barang legal. Bedanya, harga yang dijual lebih murah karena tak tersentuh pajak.Pengamat Perekonomian dari Universitas Mulawarman, Rachmad Budi Suharto mengatakan, saat ini daya beli masyarakat sedang turun. Nilai dolar belum bersahabat. Suku bunga bank meningkat mengikut BI rate di angka 7,5 persen lantaran menyesuaikan keadaan uang dunia pada bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed. Otomatis setiap barang terutama impor, harganya meningkat. Nah, akhirnya barang ilegal maupun barang KW (kualitas, alias tiruan) menjadi pilihan masyarakat.

“Kalau masyarakat sih tak peduli, mereka mencari yang termurah. Tak peduli legal atau tidak, garansi atau tidak, maunya yang instan. Sebab, kualitas barang ilegal tak berbeda dengan yang asli. Atau kalau barang tiruan, kualitasnya sudah banyak yang dibuat semirip mungkin. Sementara pihak pengusaha pasti merugi karena brand barang mereka jatuh akibat tanpa melewati bea cukai,” papar akademisi Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman ini.

Saat ini, terang lelaki yang akrab disapa RB ini, banyak pintu masuk barang impor selain bea cukai. Bisa melalui jalur udara, air, maupun ekspedisi abal-abal. Di sosial media (sosmed) tak kalah pula, banyak penawaran harga yang gila-gilaan.

"Kenapa pemerintah tak tertibkan saja di sosmed. Karena, masyarakat mana yang mau menolak barang murah dengan kualitas yang sama dengan aslinya,” ujarnya.

Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Samarinda Jannus Siahaan menerangkan, pihak instansi ini tidak diberikan kepercayaan menangani jalur impor barang elektronik. Adapun barang elektronik ditangani pihak Bea Cukai pusat di Jakarta. Di Samarinda, Bea Cukai hanya menangani masuknya barang di pelabuhan Samarinda, yang kebanyakan komoditas pangan.

“Sebagian besar Bea Cukai Samarinda menangani ekspor komoditas seperti hasil tambang batu bara maupun hasil kebun sawit. Sebab, Kaltim adalah daerah penghasil sumber daya alam yang selalu diekspor ke luar daerah maupun luar negeri,” ujarnya.(*/mon/lh/k18)



http://m.kaltimpost.co.id/berita/detail/253679-smartphone-black-market-bisnis-gelap-yang-terang.html

http://m.kaltimpost.co.id/berita/detail/253678-incar-harga-murah-malah-berakibat-parah-ini-cara-ketahui-smartphone-asli-atau-palsu.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar