Sabtu, 28 November 2015

Perbedaan Pahlawan dan Relawan

Seperti cerita fiksi dalam Marvel Comics maupun DC Comics, suatu negara memiliki superhero. Katakanlah Spiderman yang menjadi pahlawan di Amerika Serikat. Atau tak usah jauh-jauh ke Hollywood, di Malaysia memiliki tokoh yang diidolakan, yaitu Boboboi, film kartun 3D. Bagaimana dengan di Indonesia? Tentu kita juga punya.

RAYMOND CHOUDA, Samarinda

PADA Minggu (4/10), jago merah mengamuk di kompleks Perumahan Dikbud, Jalan Juanda 4, Kelurahan Air Hitam, Samarinda Ulu. Dalam musibah tersebut, tiga rumah dan dua motor menjadi arang.

Cuaca saat itu panas sekali. Serasa matahari akan jatuh. Dari Tepian Mahakam di Jalan RE Martadinata, terlihat kabut asap di wilayah Samarinda Seberang. Itu menandakan benarnya isu bahwa kebakaran hutan mencemari lingkungan.

Nah, pada hari yang sama, pukul 13.30 Wita lewat, saya dan ayah saya akan pergi berobat ke alternatif di Samarinda Seberang. Hal tersebut adalah jadwal rutin setiap pekan. Setengah perjalanan, terlihat dari Jalan AW Sjahranie asap kebakaran itu baru saja mengepul dan menghitamkan langit. Suara sirene pemadam kebakaran langsung jadi musik pengiring pada siang yang terik itu.

Karena adanya pengerjaan proyek flyover yang membuat simpang Air Hitam ditutup, saya dan ayah mencari jalur lain agar terhindar macet. Saya yakin, sebagian besar penduduk Samarinda tahu, lokasi pembangunan jalan layang itu macet luar biasa –polisi lalu lintas dan Dinas Perhubungan mengurusnya setiap hari.

Tiba-tiba dari arah Jalan Letjen Soeprapto muncul mobil pemadam kebakaran lain. Di atas mobil itu ada beberapa lelaki yang berteriak lantang tanpa pengeras suara. Dia meminta pengguna jalan untuk “minggir”. Saya dan ayah yang berada tepat di tengah tempat berputar arah jalan yang macet itu, segera menepi ke bibir Jalan Anggur.

Pada saat bersamaan, lelaki tersebut melemparkan air mineral kemasan gelas sembari kembali berteriak meminta dibukakan jalan. Saya tak mengada-ada, lemparan itu kencang, sekitar 15 meter dari saya. Saat itu, waktu seakan berputar lambat seperti yang terjadi di film The Matrix bila pemeran utamanya Keanu Reeves menghindari tembakan musuhnya.

Air mineral tersebut hanya mengenai ban depan motor matic kami, sehingga setang motor ikut terguncang. Saat itu, penjoki motor adalah ayah saya yang kini berusia 54 tahun. Gluk… kaget, kami menolehkan ke arah mobil pemadam itu sambil meneguk liur. Begitu juga pengendara motor dan mobil lain di tengah macet itu. Kami semua tidak balik meneriaki, apalagi balas melempar air mineral.

Sedikit cerita, pada 19 April 2012, saya menjalani operasi pengangkatan tumor otak. Dilanjutkan operasi kedua untuk mengembalikan tulang batok kepala yang tadinya dipotong segi empat, 40 hari setelahnya. Hingga kini, luka dalamnya belum sembuh, sebagian kepala saya masih lunak, bergerak-gerak bersamaan nadi, mirip kepala bayi yang baru lahir karena tulangnya belum mengeras.

Lantas saya membatin, jika lemparan tadi menghantam kepala saya, apa yang akan terjadi? Atau jika ada bayi di tengah kemacetan itu, bagaimana kelanjutan kisahnya? Atau seandainya, ada lansia di sana, lalu lemparan tadi mengenainya. Mungkin lansia itu langsung tutup usia.

Ketika mereka berhasil melewati kami, saya melihat terpampang tulisan “RELAWAN” di mobil pemadam itu. Saya tak tahu, apakah lelaki tersebut memang dilatih melempar air mineral kemasan gelas untuk mengurai kemacetan saat ada kebakaran? Saya pun tak tahu, apakah dia berhasil memadamkan apinya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), relawan adalah sukarelawan, orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela, tidak karena diwajibkan atau dipaksakan. Dengan kata lain, relawan adalah mereka yang bekerja secara ikhlas dengan hati.

Sesampainya di Jalan Pasundan, setelah melepaskan diri dari kemacetan tadi, muncul mobil pemadam pemerintah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Tak berbeda, mereka berteriak tanpa pengeras suara meminta masyarakat menepi. Sementara itu, sering dijumpai para mahasiswa yang menuntut berbagai kebijakan pemerintah berteriak dengan pengeras suara.

Saya pikir, baiknya pengeras suara itu dipinjamkan saja kepada para pemadam kebakaran sebagai wujud gerakan mahasiswa. Jadi, ke depan para pemadam kebakaran tak lagi berteriak ketika ada kemacetan.

Tentu masyarakat bertanya-tanya, bagaimanakah konsep pemerintah mengatur petugas pemadam kebakaran dalam bekerja melayani dan menolong masyarakat. Juga, apakah ada pengaturan bentuk kerja sama pemadam yang dibawahi pemerintah dengan para relawan. Tentu masyarakat juga bertanya, apa mereka diajarkan cara bersikap kepada masyarakat?

Tulisan ini hanya sebagai refleksi di tengah peliknya musim kemarau yang melanda di berbagai daerah. Kebakaran terjadi di mana-mana dengan mudah. Terlebih kebakaran hutan yang menyebabkan kabut asap menjadi penyakit kota. Kalau sering terjadi kebakaran, apa akan sering juga terjadi lemparan air mineral kemasan gelas itu?

Para petugas pemadam kita bukan 911. Bukan pula salah satu karakter superhero dalam Marvel Comics. Kita semua juga tahu bahwa Spiderman maupun Superman tak pernah melempar air mineral kemasan gelas dalam aksinya. Namun, jika bukan mereka, siapa lagi yang akan melakukannya. (*/kri/k8)

*Catatan ini adalah karya tulis saya yang diterbitkan di harian Kaltim Post, 11 Oktober 2015. Tepatnya, sepekan setelah saya kembali dari izin cuti untuk menyelesaikan kuliah.