Selasa, 29 Desember 2015

Kisah yang Mengungkap Fakta Agama di Indonesia

Pada siatu hari....

A (orang kristen) : “Kenapa kalian selalu ngikutin kami?”
B (orang muslim) : “Ngikutin apa? Kami tidak merasa ngikutin kalian?”
A : “Gak merasa? Coba diperhatikan, kami merayakan Hari Ulang Tahun Yesus (atau Maulidnya Nabi Isa), lalu kalian ikut2an merayakan Maulid Nabi Muhammad?!
Kami juga merayakan hari kenaikan Isa al Masih (diangkatnya Nabi Isa ke langit), kalian ikut2an merayakan hari Isra Mi’raj (naiknya Nabi Muhammad ke langit)?!
Kami merayakan Tahun Baru Masehi milik kami, kalian juga merayakan tahun baru hijriyah milik kalian?!
Kami beribadah dengan bernyanyi dan bermain alat musik, kalian juga sekarang mulai beribadah dengan bernyanyi-nyanyi membaca shalawat/dzikir dengan alunan musik?!
C (orang Hindu) : “Iya nih…! Kalian (orang muslim) juga banyak yang ngikutin perayaan acara kami…”
A : “Lho…lho…apalagi ini? Siapa yang ngikutin?”
C : “Lihat saja, acara nujuh bulanan bagi wanita yang hamil itu kan asalnya dari kami orang Hindu. Begitu juga Tahlilan atau Selamatan Kematian hari ke 7, 40, 100 s/d 1000 hari itu semua adalah acara kami, lalu kalian mengikutinya. Kalo gak percaya, sini ikut saya, saya kasih buktinya!”
B : “Enak saja ngaku2! Yang ngikutin itu kalian semua, orang Kristen dan orang Hindu pada ngikutin kami ..!!”
A : “Eh…Kalo bicara pake otak! Emang duluan siapa agamanya?
Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad baru ada sekitar 1400 tahun yang lalu.
sedangkan agama kami Nasrani sudah ada sekitar 2000an tahun yang lalu. Gak masuk akal kalo kami yang ngikutin kalian!”
C : “Hehehe…apalagi agama saya. Agama kami lebih dulu dari agama kalian. Agama kami sudah ada sejak 2500 tahun sebelum masehi, jadi sudah ada sekitar 4500 tahun yang lalu. Sedangkan di Indonesia, agama kami lah yang paling tua dan pertama. Gak masuk akal kalo kami yang malah mengikuti agama kalian, apalagi yang namanya Islam kejawen, sama persis dengan kami…hehehe.”
A:"Betul…betul…betul…Belum lagi kalian umat islam banyak yang berpartisipasi merayakan hari perayaan agama kami, seperti merayakan Tahun Baru Masehi, Hari Valentine, Hari Ulang Tahun, Hari Hallowen, Hari April Mop, hari Ibu, dll.”
B : (garuk2 kepala)…
D (ahlusunnah wal jamaah) : “Ambil semua acara2 kalian, kami tidak butuh acara2 seperti itu. Karena kami sudah punya acara sendiri yang tidak mengikuti agama2 kalian,dan bahkan menyelisihi acara2 kalian.
Bahkan acara2 seperti itu tidak pernah dilakukan oleh orang Muslim yang berpedoman dgn Qur'an hadits Jama'ah seperti kami ini, insya Allah. Dalam golongan kami tidak ada perayaan Maulid Nabi, perayaan Isra Mi’raj, perayaan Tahun Baru Hijriyah, perayaan nujuh bulan, Selamatan Kematian (Tahlilan), dll.”
A & C : “Lho…kalian B dan D kan sama2 muslim, koq saling berbeda?
Yang B merayakan acara2 itu sedangkan yang D tidak merayakan? Aneh sekali, satu agama tapi beda2.”
D : “Kenapa kalian heran dengan kami?
Bukankah kalian sendiri juga memiliki banyak perbedaan dan perpecahan?
Agama Nasrani memiliki banyak sekte, seperti Protestan, Katholik, Advent, dll.
Bahkan dalam agama kami disebutkan bahwa kaum Nasrani terpecah belah menjadi 72 golongan.
Begitu juga dengan agama Hindu yang memiliki banyak sekte dan juga warna (kasta).
Tidakkah kalian tahu tentang itu? Sedangkan agama Islam terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali 1 yaitu Jamaah
Jadi, menurut pemahaman kami (QHJ)kami tidak boleh tasyabbuh (mengikuti) orang2 kafir dalam ciri khas mereka, seperti acara2 yang kalian sebutkan tadi. Maka itu golongan kami tidak pernah melakukan dan mengadakan acara2 seperti itu.
Jika ada sebagian dari kaum muslimin yang melakukan atau mengadakan acara2 itu, maka itu adalah oknum atau karena ketidaktahuannya akan hal itu.”
A & C : “Kami juga tahu itu semua. Hanya saja tadi kami ingin mengetes si B (muslim tp ahli bid'ah) apakah dia punya alasan tentang itu? Rupanya dia tidak punya alasan dan gak tau apa2 tentang agamanya. Bisanya cuma ikut2an saja.”
B : “Hmmmm…berarti saya ini oknum ya? kalo begitu saya tidak mau jadi oknum lagi ah…saya mau ngikutin si D aja, biar gak jadi oknum!!!”
D : “Hmmm juga…kamu masih
jadi oknum akhi, karena kamu masih ikut2an, yaitu ngikutin saya.”
B : “Berarti saya harus ngikutin siapa donk?”
D : “Biar kamu gak jadi oknum, kamu harus ngikutin Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam beserta para sahabat2nya. Dan menetapi Qur'an Hadits Jama'ah.
Dan untuk mewujudkan itu semua, maka hendaknya kamu mengaji Qur'an dan hadits dengan benar, dgn cara yang benar(manqul,musnad,muttashil) sebab kita harus berilmu sebelum berkata dan mengamalkan

Semoga bermanfaat...

*Pembaca Tidak Akan Bisa Menafsirkan Qur'an Hadits Jamaah Jika Belum Mengaji Hadits Pendukungnya dari Mubaligh. Jadi, Jangan Asal Menafsirkan. Kisah Ini Hanya Untuk Mengingatkan Bahwa Agama Itu Tidak Boleh NALAR, atau IKUT-IKUTAN.

Senin, 28 Desember 2015

Pesan dari Bung Karno

Saya sangat bersyukur, tulisan berjudul Pesan Dari Bung Karno ini mendapat respon positif banyak orang. Mereka menyatakan suka terhadap catatan saya yang diterbitkan di harian Kaltim Post edisi 27 Desember 2015. Ada juga teman yang mengkritik. Saya tetap berterimakasih karena sudah mau membacanya.

RAYMOND CHOUDA, Samarinda 

HARI Ibu sudah berlalu. Tapi, hari ini, apa kita mau melupakan banyak hal tentang ibu? Seolah kelelahan, karena sudah habis-habisan memberi kasih sayang paling pol sehari penuh, 22 Desember lalu. Hei, bukan itu tujuan Bung Karno menetapkan Hari Ibu.

Saya sadar, tulisan ini terlambat diturunkan. Namun, ini memang sengaja, agar bisa memberi sudut pandang berbeda dari pembahasan yang sama. Bila tulisan ini diturunkan pada Hari Ibu atau sehari kemudian, tentu hasilnya tak sama. Pada Hari Ibu sajakah muncul kasih sayang raksasa, seolah tiada perempuan selain ibu? Lalu, sepekan kemudian kembali menyepelekan ibu.

Oke, mari mulai ceritanya.

AKHIR 2014, AWAL 2015
Nyaris setiap hari saya bangun kesiangan. Pulang kerja selalu larut malam. Padahal, kalau dihitung, waktu efektif bekerja saya tak sampai sehari penuh. Hanya kurang dari delapan jam; 4 jam liputan, 4 jam lagi menyusun berita. Sisanya leha-leha.

Sosok yang selalu meneriakkan nama belakang saya dengan panjang, "Moooon", untuk membangunkan tidur adalah ibu. Hampir setiap pagi, adegan yang sama berulang. Pertanyaan yang itu-itu saja. "Mon, sudah kamu uruskah kuliahmu? Skripsimu sudah sampai mana? Kapan kamu lulus? Kapan kamu nikah? Bla bla bla…" Juga, beberapa pertanyaan lain dari ibu yang bisa membuat lubang pendengaran saya ditutupi sendiri oleh daun telinga secara otomatis.

Ekspresi wajah saya selalu datar. Bahkan, kadang ditambah dahi yang mengerut karena belum bisa memberi jawaban yang diharapkan. "Ya, nanti Ma. Saya masih mengurusnya. Dosen itu sulit ditemui. Nanti nikahnya kalau sudah lulus kuliah," jawab saya membela diri. Saya kerap menyalahkan pihak lain agar ibu kehabisan pertanyaan.

Enam tahun berjibaku dengan bangku kuliah sejak 2009, akhirnya saya lulus 31 Juli 2015. Ibu kini hanya memiliki satu pertanyaan pamungkas, "Kapan nikah?" Saya jawab, "Tunggu setelah wisuda”. Akhirnya, wisuda pun berlalu pada 12 Desember. Saya semakin tersudut.

19 APRIL 2012
Sebulan sudah saya tak hadir perkuliahan. Lumpuh separuh tubuh ini ternyata bukan karena gangguan makhluk halus seperti dugaan para orang pintar yang coba mengobati. Itu karena tumor sebesar pentol bakso di ujung otak kanan saya, yang tergolong jinak. Namun, menyerang saraf motorik.

Wajah ibu terlihat tak karuan, seolah akan menghadapi kiamat. Pagi itu, pukul 07.00 Wita, ibu membantu memasangkan pakaian khusus operasi berwarna hijau, karena tangan kiri saya sedang lumpuh. Jadi, dalam hampir segala aktivitas, saya perlu dibantu. Ibu adalah sosok yang selalu hadir untuk saya.

Entah kenapa, seketika rasa syukur memenuhi dada. Merasa tak pernah sebahagia ini, karena baru sadar hebatnya kasih sayang orangtua. Saya yang sudah sangat lama tidak menangis akhirnya mengucurkan air mata. Terharu. Ibu pun tertular tangisan itu. Saya tak menyangka, ada adegan seperti ini.

Berbulan-bulan, bahkan menahun, saat menderita penyakit ini. Saya dirawat ibu dan ayah dengan sangat. Ibu tak pernah sedikit pun menyepelekan penderitaan saya. Beliau rela pergi mencari daun sirsak di pekarangan rumah tetangga yang jauh, juga mencari bawang tiwai, dan bermacam eksplorasi obat herbal, saran keluarga dan kerabat, ataupun Mbah Google.

Ibu memaksa dan terus mengingatkan saya untuk meminum obat, walau kadang saya memuntahkannya karena sangat pahit. Ayah pun terus menyemangati saya agar tak berkecil hati. Hingga tiba saatnya, operasi pengangkatan tumor oleh dokter spesialis bedah saraf Arie Ibrahim. Sangat menegangkan. RSUD AW Sjahranie seketika menjadi planet Mars. Para perawat terlihat seperti alien. Maaf, ini lebay.

Selama delapan jam operasi berlangsung. Kepala saya dibelah. Batok tengkorak kepala saya digergaji. Otak saya diutak-atik. Tumor itu diangkat sedikit demi sedikit. Jelas, ini antara hidup dan mati. Mungkin malaikat kematian saat itu ikut menonton jalannya operasi. Bila memang saatnya, nyawa saya bakal dicabut.

Di luar ruang operasi, ibu dan ayah menunggu. Teman-teman ibu ikut menemani, sembari memperkeruh suasana. Mereka berkata, operasi di bagian otak kerap membuat nyawa melayang. Bila gagal atau paling tidak membuat hilang ingatan. Ibu tambah tak tenang.

Akhirnya, saya terbangun di ruang ICU. Tiga perawat berada di hadapan. Ingin bertanya, saya sedang berada di mana? Tapi, suara saya tak bisa keluar karena tenggorokan kering karena dinginnya ruang operasi. Juga, karena sedang puasa sebagai syarat operasi.

Perawat meminta agar tidak menggerakkan kepala sama sekali, karena ada pipa kecil di belakang bagian kiri kepala saya yang harus membuang cairan kimia. Hanya tangan kanan yang bisa saya gerakan. Kaki, keduanya diinfus. Saat itu, pendengaran saya menjadi berlebihan peka, sehingga risih bila ada yang berbicara.

Tak lama kemudian, suara ayah dan ibu terdengar dari kejauhan. Mereka berbicara kepada perawat, ingin menengok. Saat mendekat, secara refleks saya kibaskan tangan, bermaksud meminta mereka menjauh. Saya saat itu menganggap suara mereka mengganggu. Juga, karena faktor masih tegang pascaoperasi.

Terlihat, saya seakan mengusirnya. Ibu, wajahnya datar, dihiasi senyum kecil, bahkan teramat kecil, sehingga tampak sangat sedih. Mirip langit mendung yang akan menurunkan hujan paling deras. Mereka mengira saya lupa ingatan, tak kenal lagi dengan orangtua sendiri.

Lalu, ayah menarik tangan ibu, mengajak keluar dari ruangan. Beberapa langkah getir menuju pintu keluar, tapi ibu menoleh kembali ke arah saya. Anak lelaki satu-satunya di antara dua saudara perempuan tersebut langsung mengangkat tangan. Mengacungkan jempol, mengisyaratkan masih punya ingatan dan akan baik-baik saja. Mereka terlihat lega.

Selanjutnya, ibu terus merawat saya di rumah sakit. Menyediakan makanan sehat sehari-hari. Menyiapkan segala keperluan dan mempermudah kesulitan saya. Untuk membuang air kecil, saya memerlukan bantuan ayah dan ibu. Betapa sulitnya masa itu. Saya menjadi kembali seperti bayi. Ini terus berlangsung hingga berbulan-bulan, bahkan setahun lebih. Sampai akhirnya saya bisa mandiri.

SEKARANG
Saya sudah sehat. Walau memang, terkadang lupa dengan penderitaan yang menyiksa fisik dan mental saya dulu. Bahkan kini, saya tak jarang berselisih pendapat dengan ibu. Sampai-sampai, beberapa kali mengecewakan dan melawannya. Itu khilaf yang begitu hebat. Padahal, hanya untuk membela keinginan bodoh, yang ujung-ujungnya demi menghibur diri saya sendiri. Tak akan saya sebutkan di sini.

Ibu. Mungkin ibu bukan sosok sempurna. Hari Ibu, 22 Desember itu bukan hari yang dahsyat dibanding hari lain. Sahabat sekaligus guru saya, Ustaz Gianto, mengatakan lewat akun Facebook. "Bagiku tidak ada Hari Ibu. Setiap hari adalah Hari Ibu, supaya kita selalu berbakti kepada ibu. Rasulullah bersabda, kalian berbuat baiklah pada ibumu, ibumu, dan ibumu, lalu ayahmu. Surga berada di bawah telapak kaki ibu. Hari Ibu ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada 22 Desember sebagai koreksi bagi kita. Apa yang telah dilakukan selama satu tahun terakhir kepada ibu. Hari Ibu adalah koreksi bagi diri kita. Love you forever, Mom," tulis nya. (*)


Artikel di atas telah terbit juga di Kaltim Post :

http://m.kaltimpost.co.id/artikel/detail/253572-pesan-dari-bung-karno.html

Bisnis Gelap di Nusantara

Bisnis gelap smartphone di Tanah Air berlangsung dengan terang-terangan. Kaltim juga termasuk pasar pebisnis gelap ini. Sejauh mana langkah pemerintah menindaknya? Bagaimana dampaknya terhadap pelaku bisnis resmi?

Meski hasilnya tak sempurna, akhirnya saya berhasil menggarap laporan khusus (lapsus) di Kaltim Post. Sebelumnya saya hanya sebagai reporter pembantu bila menggarap lapsus. Jauh sebelumnya, saya pernah gagal ketika diminta menjadi koordinator lapsus di halaman kota.

Dari kualitas berita, memang tidak memuaskan, karena kurang detail. Bahannya tidak kaya. Tapi, karena adanya tambahan data penelitian lapangan Tim Survei Kaltim Post, beritanya terlihat nyaman dipandang.

Saya sangat meminta maaf kepada rekan saya Roesita Ika Winarti, karena tak sempat menggabungkan dua berita lapsus ini dengan bahan liputan darinya. Padahal, kami menggarapnya berdua. Lapsus ini pun adalah ide Sita --sapaannya. Tapi ketika membahas lapsus beberapa hari ini kamu sulit sekali dihubungi Sitaa...

Jadi saya sengaja mengirimkan duluan bahan liputan ke Redaktur Pro Bisnis Kaltim Post Lauhil Machfud. Maksud saya agar Sita termotivasi untuk segera mengumpulkan bahan lapsusnya. Tapi, atasan sepertinya memiliki rencana lain, sehingga langsung menerbitkan lapsus hanya dari bahan liputan saya. Yasudah lah kalau begitu.

Di bawah ini adalah lapsus yng dimaksud. Selamat membaca...


Bisnis Gelap yang Terang

Nilai tukar dolar yang terus melejit ikut melambungkan harga barang impor, terutama gadget. Dorongan gaya hidup membuat produk asli yang dijual secara gelap pun kian diburu masyarakat dengan terang-terangan.

HANYAmelaluismartphone, siapa pun bisa terhubung dengan pasar. Bahkanuntuk mencari pasar barang gelap kini seperti membalikkan telapak tangan. Mudahnya bukan main.Kaltim Post pun telah mencobanya, memasukkan kata kunci “jual handphone black market” pada kolom pencarian di website Google. Hasilnya, beragam pilihan laman langsung tersedia.

Salah satu situs yang dikunjungi koran ini, website khusus gadged black market. Laman tersebut menyatakan harga handphone selalu update setiap hari. Lebih hebat lagi, jaminan garansi telah disediakan, tak kalah dari toko elektronik di tengah kota. Garansinya kurun waktu sebulan hingga setahun. Tak hanya barang asli dengan harga murah, mereka juga menjual barang replika kualitas super copy.

Sementara situs lainnya, dalam bentuk blog, mengaku menjual barang sitaan pihak bea cukai. Dia meminta agar para konsumen jangan heran dengan penawaran harganya yang miring banget. Alamat penjual tersebut berada di Batam, Riau.

Perempuan penjual barang black market itu menyatakan, jika dalam tiga hari barang yang diterima terdapat cacat produksi maka akan ditukarkan dengan unit baru. Dia menjamin, barang jualannya 100 persen produk asli. Dan, bila ada yang menjual lebih murah, dia meminta untuk diinfokan agar bisa memberikan harga yang lebih baik lagi.

Beberapasmartphoneberharga miring di beberapa situs tersebut rata-rata nilai jualnya antara lain, Samsung Galaxy S5 seharga Rp 4.020.000, dan terdapat barang replikanya juga dengan harga Rp 1.010.000. Padahal harga barang asli dengan kondisi baru mencapai Rp 5.250.000. Sementara iPhone enam S plus (6S+) kapasitas 128 giga byte (GB) dijual Rp 14.800.000, bandingan dengan ponsel barunya di toko resmi adalah seharga Rp 17.790.000. Nah, untuk Blackberry Q10, diberikan harga penawaran Rp 2.020.000, berbanding jauh dengan harga aslinya Rp 6.100.000.

Jika diamati, antara barang ilegal dengan barang legal, selisih harganya rata-rata dari sekira Rp 1 juta hingga kisaran Rp 4 juta per unit. Dengan kata lain, uang Rp 1 sampai Rp 4 juta tersebut bisa digunakan untuk membeli hingga dua unit smartphone ilegal tersebut. Katakanlah Blackberry Q10 di toko resmi seharga sekira Rp 6 juta sebanding dengan membeli tiga unit Blackberry Q10 di toko barang gelap online.

Cukup menghubungi nomor telepon atau alamat media sosial yang disediakan beberapa situs tersebut, siapa pun bisa memesannya.

BANYAK PINTU MASUK

Kualitas ilegal tak berbeda dengan barang legal. Bedanya, harga yang dijual lebih murah karena tak tersentuh pajak.Pengamat Perekonomian dari Universitas Mulawarman, Rachmad Budi Suharto mengatakan, saat ini daya beli masyarakat sedang turun. Nilai dolar belum bersahabat. Suku bunga bank meningkat mengikut BI rate di angka 7,5 persen lantaran menyesuaikan keadaan uang dunia pada bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed. Otomatis setiap barang terutama impor, harganya meningkat. Nah, akhirnya barang ilegal maupun barang KW (kualitas, alias tiruan) menjadi pilihan masyarakat.

“Kalau masyarakat sih tak peduli, mereka mencari yang termurah. Tak peduli legal atau tidak, garansi atau tidak, maunya yang instan. Sebab, kualitas barang ilegal tak berbeda dengan yang asli. Atau kalau barang tiruan, kualitasnya sudah banyak yang dibuat semirip mungkin. Sementara pihak pengusaha pasti merugi karena brand barang mereka jatuh akibat tanpa melewati bea cukai,” papar akademisi Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman ini.

Saat ini, terang lelaki yang akrab disapa RB ini, banyak pintu masuk barang impor selain bea cukai. Bisa melalui jalur udara, air, maupun ekspedisi abal-abal. Di sosial media (sosmed) tak kalah pula, banyak penawaran harga yang gila-gilaan.

"Kenapa pemerintah tak tertibkan saja di sosmed. Karena, masyarakat mana yang mau menolak barang murah dengan kualitas yang sama dengan aslinya,” ujarnya.

Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Samarinda Jannus Siahaan menerangkan, pihak instansi ini tidak diberikan kepercayaan menangani jalur impor barang elektronik. Adapun barang elektronik ditangani pihak Bea Cukai pusat di Jakarta. Di Samarinda, Bea Cukai hanya menangani masuknya barang di pelabuhan Samarinda, yang kebanyakan komoditas pangan.

“Sebagian besar Bea Cukai Samarinda menangani ekspor komoditas seperti hasil tambang batu bara maupun hasil kebun sawit. Sebab, Kaltim adalah daerah penghasil sumber daya alam yang selalu diekspor ke luar daerah maupun luar negeri,” ujarnya.(*/mon/lh/k18)



http://m.kaltimpost.co.id/berita/detail/253679-smartphone-black-market-bisnis-gelap-yang-terang.html

http://m.kaltimpost.co.id/berita/detail/253678-incar-harga-murah-malah-berakibat-parah-ini-cara-ketahui-smartphone-asli-atau-palsu.html

Minggu, 13 Desember 2015

Traveling Hidup ini

Traveling adalah hal yang menyenangkan. Sebab, pengalaman ke luar kota bukan rutinitas. Dari sana, mengenali kebudayaan daerah wisata dan menjadikannya sebagai karya jurnalistik adalah hal terbaik dari berlibur, menurut saya. Dan, hidup ini adalah traveling yang terus berlanjut.

Sebelum hari ini, sudah lama saya tidak naik pesawat. Kira-kira sembilan tahun lalu, saat keberangkatan saya ke Jakarta untuk dijadikan model oleh seorang manajer yang kini entah di mana. Cukup tegang, apa lagi saat pesawat lepas landas, lalu menukik ke atas. Beragam berita kecelakaan pesawat pun langsung memenuhi ruang otak. Saya spontan berpegang erat pada apa pun yang ada di sekitar. Tentu saja tangan saya tidak sembarangan pegang ke tubuh penumpang perempuan di sebelah saya. Tentu tidak.

8 November 2015, tercatatkan dalam sejarah hidup saya sebagai hari keberangkatan saya kembali ke Kalsel. Ya, dulunya saat masih bayi saya bertempat tinggal di sana, tepatnya di Jalan Veteran, Banjarmasin. Ini adalah tugas liputan sekaligus liburan bagi saya. Bank Indonesia mengadakan pelatihan wartawan ekonomi dan mengundang seluruh perwakilan media di Kalimantan. Lantas, Pemred Kaltim Post Rizal Juraid menunjuk saya untuk diberangkatkan. Oh, senangnya...

Saat posisi pesawat terbang, otak saya memutar kembali rekaman pengalaman selama di Jakarta sembilan tahun lalu, tanpa sengaja. Itu pengalaman yang menyenangkan, sekaligus memilukan. Waktu itu manajer saya Bang Litto menjanjikan untuk mengikutsertakan saya dan sekitar 10 teman lain untuk mengikuti kontes foto model Majalah Aneka Yess.

Tapi selama sebulan persinggahan, kami terombang-ambing di sebuah hotel Balikpapan, tanpa kepastian. Para calon foto model rontok satu per satu, tak ingin tertinggal waktu sekolah. Jadi mereka yang kesemuanya adalah anak sekolah dijemput orang tua masing-masing. Tersisa sedikit makhluk di hotel, dengan biaya sewa kamar yang menunggak. Bodoh kan?

Bang Litto berdalih mengurus pencairan uang dari Bupati Kukar kala itu, Pak Syaukani. Tapi lelaki berambut gondrong itu tak kunjung datang hingga sebulan. Saat datang, dia ingin langsung terbang ke Jakarta. Dan, hanya saya yang diajaknya saat itu. Teman yang lain diminta menunggu di hotel. Nah, saat itulah kali pertama saya naik pesawat di usia remaja saya. Rasanya sama seperti naik pesawat ke Kalsel kali ini.

Setengah bulan di Jakarta bersama Bang Litto, saya belajar mengenali kebudayaan ibu kota negara itu. Dunia di sana sungguh bebas, dalam hal pergaulan. Jauh lebih bebas dan mengarah ke budaya Barat. Sebagian lagi, adalah budaya khas Betawi : bajaj, dan segala pernak-pernik kota. DKI adalah kota jasa yang sangat berkembang. Sangat banyak investasi di sana. Jalan rayanya pun sangat lebar. Tapi masalahnya, jumlah kendaraannya juga sama banyaknya dengan penduduknya. Sehingga budaya macet Jakarta adalah ciri yang paling kuat di antara budaya lainnya.

Sekira setengah bulan di Jakarta, kemudian dua teman saya yang terlantar di sebuah hotel Balikpapan menyusul kami. Sampai sekira seminggu mereka bersama kami di sana, tetap tak ada kegiatan modelling yang dijanjikan. Sampai akhirnya mereka, Tyson dan Jeffi, pulang lagi ke Balikpapan. Dan, sampai sekira tiga hari saya pergi ke Cirebon karena ada kegiatan lomba model Majalah Aneka Yess, juga tak ada janji sang manajer terbukti.

Saya diam saja. Di pikiran saya, hanya ingin jalan-jalan dan bersenang-senang. Saya yang masih duduk di bangku SMP kelas tiga waktu itu, terlampau lugu. Sepanjang perjalanan kami hanya bersenang-senang seakan tak ada tujuan hidup. Sampai hampir sebulan, akhirnya datanglah rasa rindu kepada rumah saya di Samarinda. Merindukan kedua orang tua, kakak-adik, dan kehidupan saya di Kota Tepian.

Akhirnya, ayah saya kebetulan ada kegiatan urusan pekerjaan di Jakarta. Saya langsung berkomunikasi dengan beliau. Singkat cerita, ayah mengajak saya ikut pulang bersamanya setelah dua hari kegiatan pekerjaannya. Akhirnya, kami pulang, naik pesawat tentunya. Saya menyadari saat ini, saya di masa muda selalu memikirkan kesenangan diri sendiri. Padahal, orang tua saya selalu disibukkan oleh beragam tingkah bodoh saya.

Saat di Kalsel, saya meratapi kembali kehidupan. Saya hanya mengingat, saat masih usia bayi dulu saya hidup di kota tersebut. Saya pun bertanya dalam hati, "apa yang dulu dikerjakan orang tua saya untuk menghidupi saya? Apa yang ada di pikiran mereka?"

Berdasarkan cerita dari ibu, saya dulunya tinggal di Kalsel dengan keadaan menyewa rumah. Keluarga saya itu finansialnya terbatas, namun untungnya selalu berkecukupan. Dan, hidup ini berputar begitu cepat. Saya pun melakukan tugas liputan di Banjarbaru, Banjarmasin, hingga Martapura, dalam tiga hari. Sebanyak mungkin tulisan saya buat dari jalan-jalan di kampung halaman Kalsel itu.

Saat itu, orang tua saya juga berlibur ke Kalsel. Berbeda hotel, ayah dan ibu seperti bulan madu di masa tua, di sebuah hotel biasa yang pengap udara. Lalu berpindah ke penginapan Guest House di Martapura, pada hari kedua mereka di Kalsel. Sementara saya menginap di Novotel Banjarbaru, hotel bintang empat atau lima, mungkin. Sangat mewah. Saya dan kedua orang tua pun sempat berjalan-jalan di Banjarmasin. Lalu akhirnya kebetulan pulang pada hari yang sama dalam satu maskapai penerbangan, pada 11 November, pukul 11.00 Wita.

                                                  *****

Hari ini, 12 Desember 2015, saya baru saja mengikuti wisuda kloter IV tahun ini di Universitas Mulawaraman. Enam tahun satu bulan masa pendidikan saya di kampus pelat merah itu. Ayah dan ibu terlihat senang. Akhirnya anak mereka yang lelaki satu-satunya ini lulus. Babak baru hidup saya pun dimulai. Saya tahu, saya harus segera mencari pasangan untuk menikah, sebagaimana ibu menagih saya untuk segera menikah seperti para sepupu yang sudah memiliki momongan.

Cukup berat. Saya harus siap tidak hanya pada keuangan dan jaminan pekerjaan yang baik. Tapi juga harus siap mental, jiwa, kesehatan, dan tentunya batin.

Traveling hidup saya sudah sejauh ini. Usia saya kini 24 tahun. Teman-teman SMA sudah hampir semuanya menikah --mungkin hanya tersisa dua atau tiga orang lagi. Apakah saya sudah siap dan kuat? Iya, saya siap dan kuat karena masih ada bantuan orang tua. Tapi, satu hal yang selalu jadi penganggu saya : kesehatan. Semoga saja saya selalu mendapat pertolongan Allah.

Pada hakikatnya, traveling hidup ini mesti berlanjut ke jenjang yang lebih baik. Tak boleh seperti treatmill : jalan di tempat. Bismillah.