Traveling adalah hal yang menyenangkan. Sebab, pengalaman ke luar kota bukan rutinitas. Dari sana, mengenali kebudayaan daerah wisata dan menjadikannya sebagai karya jurnalistik adalah hal terbaik dari berlibur, menurut saya. Dan, hidup ini adalah traveling yang terus berlanjut.
Sebelum hari ini, sudah lama saya tidak naik pesawat. Kira-kira sembilan tahun lalu, saat keberangkatan saya ke Jakarta untuk dijadikan model oleh seorang manajer yang kini entah di mana. Cukup tegang, apa lagi saat pesawat lepas landas, lalu menukik ke atas. Beragam berita kecelakaan pesawat pun langsung memenuhi ruang otak. Saya spontan berpegang erat pada apa pun yang ada di sekitar. Tentu saja tangan saya tidak sembarangan pegang ke tubuh penumpang perempuan di sebelah saya. Tentu tidak.
8 November 2015, tercatatkan dalam sejarah hidup saya sebagai hari keberangkatan saya kembali ke Kalsel. Ya, dulunya saat masih bayi saya bertempat tinggal di sana, tepatnya di Jalan Veteran, Banjarmasin. Ini adalah tugas liputan sekaligus liburan bagi saya. Bank Indonesia mengadakan pelatihan wartawan ekonomi dan mengundang seluruh perwakilan media di Kalimantan. Lantas, Pemred Kaltim Post Rizal Juraid menunjuk saya untuk diberangkatkan. Oh, senangnya...
Saat posisi pesawat terbang, otak saya memutar kembali rekaman pengalaman selama di Jakarta sembilan tahun lalu, tanpa sengaja. Itu pengalaman yang menyenangkan, sekaligus memilukan. Waktu itu manajer saya Bang Litto menjanjikan untuk mengikutsertakan saya dan sekitar 10 teman lain untuk mengikuti kontes foto model Majalah Aneka Yess.
Tapi selama sebulan persinggahan, kami terombang-ambing di sebuah hotel Balikpapan, tanpa kepastian. Para calon foto model rontok satu per satu, tak ingin tertinggal waktu sekolah. Jadi mereka yang kesemuanya adalah anak sekolah dijemput orang tua masing-masing. Tersisa sedikit makhluk di hotel, dengan biaya sewa kamar yang menunggak. Bodoh kan?
Bang Litto berdalih mengurus pencairan uang dari Bupati Kukar kala itu, Pak Syaukani. Tapi lelaki berambut gondrong itu tak kunjung datang hingga sebulan. Saat datang, dia ingin langsung terbang ke Jakarta. Dan, hanya saya yang diajaknya saat itu. Teman yang lain diminta menunggu di hotel. Nah, saat itulah kali pertama saya naik pesawat di usia remaja saya. Rasanya sama seperti naik pesawat ke Kalsel kali ini.
Setengah bulan di Jakarta bersama Bang Litto, saya belajar mengenali kebudayaan ibu kota negara itu. Dunia di sana sungguh bebas, dalam hal pergaulan. Jauh lebih bebas dan mengarah ke budaya Barat. Sebagian lagi, adalah budaya khas Betawi : bajaj, dan segala pernak-pernik kota. DKI adalah kota jasa yang sangat berkembang. Sangat banyak investasi di sana. Jalan rayanya pun sangat lebar. Tapi masalahnya, jumlah kendaraannya juga sama banyaknya dengan penduduknya. Sehingga budaya macet Jakarta adalah ciri yang paling kuat di antara budaya lainnya.
Sekira setengah bulan di Jakarta, kemudian dua teman saya yang terlantar di sebuah hotel Balikpapan menyusul kami. Sampai sekira seminggu mereka bersama kami di sana, tetap tak ada kegiatan modelling yang dijanjikan. Sampai akhirnya mereka, Tyson dan Jeffi, pulang lagi ke Balikpapan. Dan, sampai sekira tiga hari saya pergi ke Cirebon karena ada kegiatan lomba model Majalah Aneka Yess, juga tak ada janji sang manajer terbukti.
Saya diam saja. Di pikiran saya, hanya ingin jalan-jalan dan bersenang-senang. Saya yang masih duduk di bangku SMP kelas tiga waktu itu, terlampau lugu. Sepanjang perjalanan kami hanya bersenang-senang seakan tak ada tujuan hidup. Sampai hampir sebulan, akhirnya datanglah rasa rindu kepada rumah saya di Samarinda. Merindukan kedua orang tua, kakak-adik, dan kehidupan saya di Kota Tepian.
Akhirnya, ayah saya kebetulan ada kegiatan urusan pekerjaan di Jakarta. Saya langsung berkomunikasi dengan beliau. Singkat cerita, ayah mengajak saya ikut pulang bersamanya setelah dua hari kegiatan pekerjaannya. Akhirnya, kami pulang, naik pesawat tentunya. Saya menyadari saat ini, saya di masa muda selalu memikirkan kesenangan diri sendiri. Padahal, orang tua saya selalu disibukkan oleh beragam tingkah bodoh saya.
Saat di Kalsel, saya meratapi kembali kehidupan. Saya hanya mengingat, saat masih usia bayi dulu saya hidup di kota tersebut. Saya pun bertanya dalam hati, "apa yang dulu dikerjakan orang tua saya untuk menghidupi saya? Apa yang ada di pikiran mereka?"
Berdasarkan cerita dari ibu, saya dulunya tinggal di Kalsel dengan keadaan menyewa rumah. Keluarga saya itu finansialnya terbatas, namun untungnya selalu berkecukupan. Dan, hidup ini berputar begitu cepat. Saya pun melakukan tugas liputan di Banjarbaru, Banjarmasin, hingga Martapura, dalam tiga hari. Sebanyak mungkin tulisan saya buat dari jalan-jalan di kampung halaman Kalsel itu.
Saat itu, orang tua saya juga berlibur ke Kalsel. Berbeda hotel, ayah dan ibu seperti bulan madu di masa tua, di sebuah hotel biasa yang pengap udara. Lalu berpindah ke penginapan Guest House di Martapura, pada hari kedua mereka di Kalsel. Sementara saya menginap di Novotel Banjarbaru, hotel bintang empat atau lima, mungkin. Sangat mewah. Saya dan kedua orang tua pun sempat berjalan-jalan di Banjarmasin. Lalu akhirnya kebetulan pulang pada hari yang sama dalam satu maskapai penerbangan, pada 11 November, pukul 11.00 Wita.
*****
Hari ini, 12 Desember 2015, saya baru saja mengikuti wisuda kloter IV tahun ini di Universitas Mulawaraman. Enam tahun satu bulan masa pendidikan saya di kampus pelat merah itu. Ayah dan ibu terlihat senang. Akhirnya anak mereka yang lelaki satu-satunya ini lulus. Babak baru hidup saya pun dimulai. Saya tahu, saya harus segera mencari pasangan untuk menikah, sebagaimana ibu menagih saya untuk segera menikah seperti para sepupu yang sudah memiliki momongan.
Cukup berat. Saya harus siap tidak hanya pada keuangan dan jaminan pekerjaan yang baik. Tapi juga harus siap mental, jiwa, kesehatan, dan tentunya batin.
Traveling hidup saya sudah sejauh ini. Usia saya kini 24 tahun. Teman-teman SMA sudah hampir semuanya menikah --mungkin hanya tersisa dua atau tiga orang lagi. Apakah saya sudah siap dan kuat? Iya, saya siap dan kuat karena masih ada bantuan orang tua. Tapi, satu hal yang selalu jadi penganggu saya : kesehatan. Semoga saja saya selalu mendapat pertolongan Allah.
Pada hakikatnya, traveling hidup ini mesti berlanjut ke jenjang yang lebih baik. Tak boleh seperti treatmill : jalan di tempat. Bismillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar