Saya sangat bersyukur, tulisan berjudul Pesan Dari Bung Karno ini mendapat respon positif banyak orang. Mereka menyatakan suka terhadap catatan saya yang diterbitkan di harian Kaltim Post edisi 27 Desember 2015. Ada juga teman yang mengkritik. Saya tetap berterimakasih karena sudah mau membacanya.
RAYMOND CHOUDA, Samarinda
HARI Ibu sudah berlalu. Tapi, hari ini, apa kita mau melupakan banyak hal tentang ibu? Seolah kelelahan, karena sudah habis-habisan memberi kasih sayang paling pol sehari penuh, 22 Desember lalu. Hei, bukan itu tujuan Bung Karno menetapkan Hari Ibu.
Saya sadar, tulisan ini terlambat diturunkan. Namun, ini memang sengaja, agar bisa memberi sudut pandang berbeda dari pembahasan yang sama. Bila tulisan ini diturunkan pada Hari Ibu atau sehari kemudian, tentu hasilnya tak sama. Pada Hari Ibu sajakah muncul kasih sayang raksasa, seolah tiada perempuan selain ibu? Lalu, sepekan kemudian kembali menyepelekan ibu.
Oke, mari mulai ceritanya.
AKHIR 2014, AWAL 2015
Nyaris setiap hari saya bangun kesiangan. Pulang kerja selalu larut malam. Padahal, kalau dihitung, waktu efektif bekerja saya tak sampai sehari penuh. Hanya kurang dari delapan jam; 4 jam liputan, 4 jam lagi menyusun berita. Sisanya leha-leha.
Sosok yang selalu meneriakkan nama belakang saya dengan panjang, "Moooon", untuk membangunkan tidur adalah ibu. Hampir setiap pagi, adegan yang sama berulang. Pertanyaan yang itu-itu saja. "Mon, sudah kamu uruskah kuliahmu? Skripsimu sudah sampai mana? Kapan kamu lulus? Kapan kamu nikah? Bla bla bla…" Juga, beberapa pertanyaan lain dari ibu yang bisa membuat lubang pendengaran saya ditutupi sendiri oleh daun telinga secara otomatis.
Ekspresi wajah saya selalu datar. Bahkan, kadang ditambah dahi yang mengerut karena belum bisa memberi jawaban yang diharapkan. "Ya, nanti Ma. Saya masih mengurusnya. Dosen itu sulit ditemui. Nanti nikahnya kalau sudah lulus kuliah," jawab saya membela diri. Saya kerap menyalahkan pihak lain agar ibu kehabisan pertanyaan.
Enam tahun berjibaku dengan bangku kuliah sejak 2009, akhirnya saya lulus 31 Juli 2015. Ibu kini hanya memiliki satu pertanyaan pamungkas, "Kapan nikah?" Saya jawab, "Tunggu setelah wisuda”. Akhirnya, wisuda pun berlalu pada 12 Desember. Saya semakin tersudut.
19 APRIL 2012
Sebulan sudah saya tak hadir perkuliahan. Lumpuh separuh tubuh ini ternyata bukan karena gangguan makhluk halus seperti dugaan para orang pintar yang coba mengobati. Itu karena tumor sebesar pentol bakso di ujung otak kanan saya, yang tergolong jinak. Namun, menyerang saraf motorik.
Wajah ibu terlihat tak karuan, seolah akan menghadapi kiamat. Pagi itu, pukul 07.00 Wita, ibu membantu memasangkan pakaian khusus operasi berwarna hijau, karena tangan kiri saya sedang lumpuh. Jadi, dalam hampir segala aktivitas, saya perlu dibantu. Ibu adalah sosok yang selalu hadir untuk saya.
Entah kenapa, seketika rasa syukur memenuhi dada. Merasa tak pernah sebahagia ini, karena baru sadar hebatnya kasih sayang orangtua. Saya yang sudah sangat lama tidak menangis akhirnya mengucurkan air mata. Terharu. Ibu pun tertular tangisan itu. Saya tak menyangka, ada adegan seperti ini.
Berbulan-bulan, bahkan menahun, saat menderita penyakit ini. Saya dirawat ibu dan ayah dengan sangat. Ibu tak pernah sedikit pun menyepelekan penderitaan saya. Beliau rela pergi mencari daun sirsak di pekarangan rumah tetangga yang jauh, juga mencari bawang tiwai, dan bermacam eksplorasi obat herbal, saran keluarga dan kerabat, ataupun Mbah Google.
Ibu memaksa dan terus mengingatkan saya untuk meminum obat, walau kadang saya memuntahkannya karena sangat pahit. Ayah pun terus menyemangati saya agar tak berkecil hati. Hingga tiba saatnya, operasi pengangkatan tumor oleh dokter spesialis bedah saraf Arie Ibrahim. Sangat menegangkan. RSUD AW Sjahranie seketika menjadi planet Mars. Para perawat terlihat seperti alien. Maaf, ini lebay.
Selama delapan jam operasi berlangsung. Kepala saya dibelah. Batok tengkorak kepala saya digergaji. Otak saya diutak-atik. Tumor itu diangkat sedikit demi sedikit. Jelas, ini antara hidup dan mati. Mungkin malaikat kematian saat itu ikut menonton jalannya operasi. Bila memang saatnya, nyawa saya bakal dicabut.
Di luar ruang operasi, ibu dan ayah menunggu. Teman-teman ibu ikut menemani, sembari memperkeruh suasana. Mereka berkata, operasi di bagian otak kerap membuat nyawa melayang. Bila gagal atau paling tidak membuat hilang ingatan. Ibu tambah tak tenang.
Akhirnya, saya terbangun di ruang ICU. Tiga perawat berada di hadapan. Ingin bertanya, saya sedang berada di mana? Tapi, suara saya tak bisa keluar karena tenggorokan kering karena dinginnya ruang operasi. Juga, karena sedang puasa sebagai syarat operasi.
Perawat meminta agar tidak menggerakkan kepala sama sekali, karena ada pipa kecil di belakang bagian kiri kepala saya yang harus membuang cairan kimia. Hanya tangan kanan yang bisa saya gerakan. Kaki, keduanya diinfus. Saat itu, pendengaran saya menjadi berlebihan peka, sehingga risih bila ada yang berbicara.
Tak lama kemudian, suara ayah dan ibu terdengar dari kejauhan. Mereka berbicara kepada perawat, ingin menengok. Saat mendekat, secara refleks saya kibaskan tangan, bermaksud meminta mereka menjauh. Saya saat itu menganggap suara mereka mengganggu. Juga, karena faktor masih tegang pascaoperasi.
Terlihat, saya seakan mengusirnya. Ibu, wajahnya datar, dihiasi senyum kecil, bahkan teramat kecil, sehingga tampak sangat sedih. Mirip langit mendung yang akan menurunkan hujan paling deras. Mereka mengira saya lupa ingatan, tak kenal lagi dengan orangtua sendiri.
Lalu, ayah menarik tangan ibu, mengajak keluar dari ruangan. Beberapa langkah getir menuju pintu keluar, tapi ibu menoleh kembali ke arah saya. Anak lelaki satu-satunya di antara dua saudara perempuan tersebut langsung mengangkat tangan. Mengacungkan jempol, mengisyaratkan masih punya ingatan dan akan baik-baik saja. Mereka terlihat lega.
Selanjutnya, ibu terus merawat saya di rumah sakit. Menyediakan makanan sehat sehari-hari. Menyiapkan segala keperluan dan mempermudah kesulitan saya. Untuk membuang air kecil, saya memerlukan bantuan ayah dan ibu. Betapa sulitnya masa itu. Saya menjadi kembali seperti bayi. Ini terus berlangsung hingga berbulan-bulan, bahkan setahun lebih. Sampai akhirnya saya bisa mandiri.
SEKARANG
Saya sudah sehat. Walau memang, terkadang lupa dengan penderitaan yang menyiksa fisik dan mental saya dulu. Bahkan kini, saya tak jarang berselisih pendapat dengan ibu. Sampai-sampai, beberapa kali mengecewakan dan melawannya. Itu khilaf yang begitu hebat. Padahal, hanya untuk membela keinginan bodoh, yang ujung-ujungnya demi menghibur diri saya sendiri. Tak akan saya sebutkan di sini.
Ibu. Mungkin ibu bukan sosok sempurna. Hari Ibu, 22 Desember itu bukan hari yang dahsyat dibanding hari lain. Sahabat sekaligus guru saya, Ustaz Gianto, mengatakan lewat akun Facebook. "Bagiku tidak ada Hari Ibu. Setiap hari adalah Hari Ibu, supaya kita selalu berbakti kepada ibu. Rasulullah bersabda, kalian berbuat baiklah pada ibumu, ibumu, dan ibumu, lalu ayahmu. Surga berada di bawah telapak kaki ibu. Hari Ibu ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada 22 Desember sebagai koreksi bagi kita. Apa yang telah dilakukan selama satu tahun terakhir kepada ibu. Hari Ibu adalah koreksi bagi diri kita. Love you forever, Mom," tulis nya. (*)
Artikel di atas telah terbit juga di Kaltim Post :
http://m.kaltimpost.co.id/artikel/detail/253572-pesan-dari-bung-karno.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar