Rabu, 09 Desember 2020

Kenangan Angie

Siang yang terik, akhir 2014, saya baru saja berkenalan dengan sejumlah jurnalis desk kriminal di Polres Balikpapan. Satu di antara mereka, Margaret Sarita alias Angie, wartawan senior Tribun Kaltim yang nampak luwes di lingkungan kepolisian.

Waktu itu, saya yang masih bekerja di koran Kaltim Post baru pertama kali melihat ada wartawan perempuan yang sangat lincah bergerak di lapangan ketika liputan. Caranya melangkah amat lekas, mengejar berita seperti mengincar hewan buruan. 

Bahkan jujur, maaf sebelumnya, teman-teman wartawan laki-laki yang cenderung santai, sering kalah pergerakannya. Jadi, saya selalu tidak bisa tenang ketika melihat ada Mbak Angie muncul di tempat kejadian perkara (TKP).

Seperti saat Ustaz Guntur ditahan di Polres Balikpapan karena kasus penipuan. Mbak Angie menjadi salah satu orang yang getol meminta Kapolres Balikpapan untuk melakukan konferensi pers dan menghadirkan Guntur. 

Mulai dari situ pula, saya selalu tanpa sengaja diam-diam mencuri ilmu Mbak Angie. Dari gaya mencari narasumber, meminta wawancara kepolisian, bahkan cara memasuki ruangan perwira. Tidak ada ragu-ragu dalam melangkahnya, sehingga teman-teman kerap mengekor di belakangnya. 

Saya acap kali secara diam-diam berlomba dengan Mbak Angie meliput berbagai peristiwa. Dari kejadian sejumlah WNA yang dideportasi, pelarian bandar narkoba dari rumah tahanan Balikpapan, hingga liputan terduga teroris. Saya selalu disalip dan kalah. Waktu itu beliau memang sedang lincah-lincahnya. 

Beberapa kali, narasumber eksklusif yang saya pikir tidak ada yang tahu, ternyata sudah diwawancarai duluan oleh Mbak Angie. Meski sudah menempuh jarak dan akses yang tak mudah, lagi-lagi saya keduluan dari Mbak Angie. Bikin geleng-geleng kepala. 

Hari berganti pekan, bulan berganti tahun. Saya yang mulai bertugas di Kutai Timur pada Maret 2017, ternyata kembali bertemu dengan Mbak Angie. Saat bertemu di Kantor Bupati Kutim, Angie langsung membahas tas yang saya pakai. 

"Wah keren tasnya. Beli di mana," ujarnya. 

Percakapan yang tidak begitu penting, tapi saya gak akan lupa. Sebab dari situ saya tahu, Angie selalu memperhatikan teman-teman dari hal-hal yang kadang remeh sekalipun. 

Begitulah beliau, orangnya menggemari fashion. Saya perhatikan, tasnya kadang ganti-ganti. Saya tidak hapal. Namun yang saya tidak akan pernah lupa, tas yang digunakan Mbak Angie selalu yang ukuran cukup besar dan multifungsi. Tas sebesar itu menjadi andalan untuk membawa berbagai kuliner. Kadang makanan ringan, kadang juga nasi kotak. Hehe.. 

Mbak Angie orangnya efektif. Gak mau boros meskipun dia punya uang yang lebih. Sampai akhir hayatnya, akhirnya saya tahu, hal itu dilakukannya untuk memperjuangkan biayai kehidupan dan ongkos sekolah kedua anaknya, Nanda dan Didi. 

Inilah momen yang tidak bisa saya lupa. Semoga Nanda dan Didi bisa mendapatkan keberhasilan hidup sebagaimana yang diharapkan Mbak Angie. 

Suatu waktu, usai pulang dari Pulau Lombok, mbak Angie menghampiri saya ketika kami berada di rapat Coffee Morning. Ia perlahan mengeluarkan dompet besar dari tas ranselnya. Dompet bermotif batik tradisional berwarna dasar merah tua. 

"Mon, ini oleh-oleh untuk istrimu ya. Tapi jangan bilang-bilang sama yang lain, karena cuma kamu yang kukasih ini," ucap Mbak Angie waktu itu. 

Saya langsung terkesan, karena ternyata beliau memberikan perhatian khusus kepada juniornya ini. Tangan saya segera mengembat dompet itu dengan cepat agar tak dilihat yang lain, untuk menjaga amanatnya. Saya meyakini, beliau memberi ke teman-teman semua tidak dalam barang yang sama jenis. 

Selama bertugas di Kutim, saya juga kerap memerhatikan berbagai tekniknya dalam mengembangkan bisnis media. Seperti ketika menawarkan jasa iklan, saya jamin tidak ada trik khusus yang digunakannya. Mbak Angie hanya menawarkan secara biasa, namun aura dirinya yang selalu membuat relasi sangat sulit menolak.

Ilmu seperti itu yang selalu saya serap diam-diam. Mungkin teman-teman lain juga menyaksikannya. Mbak Angie selalu memerhatikan momentum yang tepat dan sudah mengantongi informasi tentang relasi yang dituju. 

Ketika dia sudah dekat dan mampu mengambil hati relasi, maka praktik jurnalistik Angie tidak dapat dihambat. Baik dalam wawancara berita, maupun ketika mengurus bisnis media.

Sudah cukup banyak juga wartawan perempuan muda yang berkembang setelah rajin ikut Mbak Angie liputan. Ia menjadi sosok yang disayang banyak sahabatnya. 

Sangat banyak kenangan bersama Angie yang tak dapat saya uraikan seluruhnya. Harapan saya, semoga talenta beliau bisa menjadi teladan bagi teman-teman. (*) 

Sabtu, 21 November 2020

Belajar Minum Kopi dari Imam Lutfi

Nama Imam Lutfi atau lengkapnya Imam Sujono Lutfi, dikenal di Kabupaten Kutai Timur sebagai penyeruput kopi yang ulung. Saya salah satu pasien yang pernah ditangani beliau. Kok pasien sih? Iya, pasien kopi.

Satu pengalaman yang tak terlupa, saat saya berbarengan dengan Pak Imam pergi ke Samarinda, sekira dua tahun lalu. Saya menumpang mobilnya, dan akhirnya sejak saat itu saya mulai mengerti apa yang dimaksud kopi dari definisi beliau.

Di dalam mobilnya saat itu, ada sebuah buku yang lumayan tebal yang ditulis oleh Rhenald Kasali (saya lupa apa judulnya). Sementara bergelantungan di tangkai spion tengah ada pewangi ruang mobil berbahan kopi.

Sepanjang jalan kami habiskan dengan berbagi cerita dan tawa. Sebagian diskusi kami bahas tentang kopi. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah warung makan sederhana di pertengahan Jalan Poros Bontang-Samarinda.

Warung itu memang sangat sederhana, dibanding warung makan tahu Sumedang yang berada tepat di depannya. Jauh lebih megah dan luas (versi mataku).

Di situlah saya menyaksikan atraksi penyeduhan kopi tubruk ala Imam Lutfi yang banyak dielu-elukan kawan-kawan di Kutai Timur.

Sebuah penggiling kopi kecil ia keluarkan dari tasnya. Tampak ringan, seukuran gelas, dan mudah digenggam. Perlahan ia tumpahkan biji kopi ke dalamnya, lalu digiling dengan ringan, sehingga muncul suara "krrrkkk.. krrrkkk.. krrkk.." Saya sangat menikmati momen itu. 

Saat itu, beliau menyajikan Kopi Puntang, asal Jawa Barat. Kopi puntang itu dikabarkan telah menyabet juara 1 nasional, bahkan juga tingkat Asia. Saya jadi semakin bersemangat menunggu kopi tersebut. Karena selain gratis --wkwk-- saya juga penasaran. 

Seorang perempuan penunggu warung tersebut kemudian membantu untuk memanaskan air hingga mendidih. Lalu air mendidih tadi dituang ke dalam gelas yang telah berisi hasil gilingan kopi. 

Serbuk kopi ini tampak berbeda dibanding kopi merk kapal api yang biasa saya seduh di rumah (seperti foto kopi di atas). Serbuk ini teksturnya bukan seperti butiran pasir, tapi lebih berbentuk cacah. 

Ternyata, tekstur cacah itu yang dihendaki. Penggilingan bertekstur cacah adalah kopi yang akan memelihara rasa asam dan sentuhan manis tanpa gula. Sejauh pengetahuan saya --gak nyontek Google loh ya-- kopi dengan serbuk cacah itu adalah kopi yang justru lebih profesional dan menghasilkan manfaat bagi kesehatan. 

Catatannya, menurut Pak Imam minum kopi yang sebenarnya tidak boleh dicampur gula. Juga, dianjurkan agar tidak diminum setelah memakan nasi atau karbohidrat. Tujuannya untuk mencegah respons kaget pada pencernaan. 

Kampanye ini yang terus digerakkan beliau di mana-mana. Minum kopi tanpa gula. 

Hasilnya, kopi puntang yang saya minum bersama beliau, tanpa gula, memang benar-benar mengajarkan bahwa nikmat itu tak mesti harus dengan pemanis tambahan. 

Seperti cinta, juga tidak harus pakai uang. Karena cinta yang tulus itu tidak perlu dicampur kata-kata pemanis. (Tapi kalau mau berumah tangga tetap perlu pakai modal loh yaa).

Hari ini, 22 November 2020, saya masih minum kopi dengan gula. Alasannya, karena yang saya minum adalah kopi kapal api. Mungkin ini tidak relevan dengan kampanye Pak Imam. 

Beberapa waktu lalu saya sampaikan ke beliau, bahwa alasan saya minum kopi pakai gula, adalah sebab rasa kopi kapal api itu tak akan nikmat bila tanpa gula. Selain karena ada dugaan bahan campuran, juga karena rasa serbuknya yang cenderung gosong. 

Berbeda halnya bila kopi puntang disajikan dengan gula, pasti rasanya akan rusak. Makanya secara pribadi saya belum pernah menyeruput kopi kapal api olahan sendiri tanpa gula. 

Tapi saya selalu berusaha tidak mencampur gula ke kopi yang sudah disajikan secara profesional. Seperti ketika memesannya di kedai kopi profesional. 

Maka, pelajaran yang bisa saya petik dari sini adalah kopi yang nikmat dan sehat memang perlu perjuangan. Kita perlu membelinya di tempat yang lebih jauh, lalu menyajikannya dengan cara yang mungkin sedikit lebih berkeringat. 

Lagi-lagi seperti cinta, kalau ingin mendapatkan cinta yang terbaik, maka perlu perjuangan dengan lebih berkeringat. 

ITU... 

Saya (bukan) Mario Teguh. Salam lemper.. 


---Sayangnya, foto kebersamaan kami saat itu tidak saya temukan di album ponsel saya. Jadi, hanya lewat tulisan ini dapat saya gambarkan.  

---Saya pernah membuat video tentang sajian kopi Sunda Arum Manis bersama Pak Imam Lutfi pada November 2019, dan telah diupload di Youtube :

https://youtu.be/xOyK7esjkhg

Minggu, 25 Oktober 2020

Kutai Timur Punya Kultur Menang di Kontestasi

Katanya sih begitu, kalau ada orang Kutai Timur yang ikut ke suatu kontestasi, maka dia sangat diperhitungkan. Seperti dua putra terbaik Kutai Timur di sebelah saya ini, Bang Bakri Hadi ketum HIPMI Kaltim, dan Bang Irwan DPR RI.

Baru-baru ini, Bang Bek --sapaan Bakri Hadi-- telah didapuk menjadi ketua umum HIPMI Kaltim, terpilih secara aklamasi. Beliau pandai memainkan perannya, dengan status sekretaris umum BPC HIPMI Kutim, maka pecah sudah telur tradisi ketum BPD HIPMI Kaltim dijabat orang Samarinda, Balikpapan, dan Kukar.

Harusnya isu ini juga layak saya angkat di pemberitaan. Tapi kali ini tidak usah dulu, karena informasi ini didapat dari hasil duduk ngopi darat. Lebih nyaman dan aman diceritakan di status facebook. Hahaa...

Dalam upaya memenangkan pertarungan tingkat 'pandawa mahabharata' , Bang Bek selalu menguatkan modal yakin. "Yang penting yakin," begitulah yg selalu dikatakannya.

Bahkan sempat ada yang menanyakan ke beliau, bagaimana cara membuatnya agar tak jadi maju? "Hanya Tuhan dan Ibu yang bisa"... Begitu jawabannya. Hehe, sangat membuat orang terkesan. 

Sementara Bang Irwan Fecho, baru-baru ini juga sudah bikin sejarah Kaltim di nasional. Aksinya yang menyuarakan penolakan --saat itu beliau meminta ditunda-- pengesahan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja, berhasil menuai simpati masyarakat. Saat beliau menyuarakan pandangannya, mikrofonnya dimatikan oleh Bunda Puan Maharani.

Bang Irwan mengaku tidak bisa tidur setelah kejadian itu. Hehe.... Seru mendengarkan cerita beliau, karena ternyata memang tidak mudah memperjuangkan penolakan di hadapan koalisi gemuk.

Banyak hal yang menarik namun juga tidak mungkin saya tuliskan di sini. Tapi hasilnya, Bang Irwan saat ini menjadi seorang politisi yang sangat diperhitungkan di tingkat DPR RI. Menurut saya, media nasional sudah menjadikan beliau sebagai salah satu news maker yang menarik. 

Dengan kejadian ini juga, membuat wakil rakyat dapil Kaltim lainnya di Senayan akan merasa resah jika tak bisa menunjukkan diri sebagai perwakilan rakyat yang menyuarakan hak rakyat.

Sengaja tulisan ini saya publish agar benar-benar saya pribadi bisa mengingat kejadian ini beserta nasihat-nasihat penting dari beliau berdua. Juga untuk berbagi cerita kepada kawan-kawan di dunia maya. 

Bang Bek dan Bang Irwan mengingatkan, agar sebagai pemuda jangan takut bermimpi.

"Bermimpilah yang tinggi saja. Tidak apa, kita masih muda," jarnya Bang Bek.

"Kalau kita orang Kutim ini sudah biasa dengan dinamika (organisasi, dsbg). Makanya kita sudah terbiasa dengan itu," timpal Bang Irwan. 

"Kalau kita diskusi biasanya ada berdebat dan gak mau langsung selesai, karena klimaks cepat itu gak enak. Kita maunya lama," sambung Bang Bek lagi.

Malam semakin larut di Kafe Coffee Time Sangatta itu, Minggu 25 Oktober 2020. Obrolan semakin naik gelombang ke frekuensi yang lebih mampu menghilangkan kantuk. Soal bendera pataka dan umbul-umbul juga menggelitik perut kami.

Jajaran kepengurusan Aliansi Jurnalis Kutai Timur (AJKT) yang dipimpin Bang Sukriadi Sukri akan menjalin kekerabatan dengan beliau berdua. Semoga ada kerja sama yang bisa lah kita realisasikan dalam waktu dekat biar Kutim semakin solid.. Hehe...

Sebagai penegasan tentang judul tulisan ini, Pak Awang Faroek Ishak dan Pak Isran Noor sudah membuktikan bahwa Kutim memang punya kultur menang di kontestasi.

Tidak ada gading yang tak retak, seperti tulisan saya ini yang tidak lepas dari ketidaksempurnaan. Jadi maafkanlah jika ada data yang mungkin kurang akurat. Ini lain berita, cuma status. 😁

*Tulisan ini saya tayangkan perdana di akun facebook Raymond Chouda Norman, 26 Oktober 2020. 

Kamis, 22 Oktober 2020

Cerita tentang Mengapa Bendera Ini Aku Genggam

Suatu hari, saya dan beberapa rekan pergi berburu angin di pelosok timurnya Kutai. Tiada niat sebelumnya untuk berburu angin, karena itu hanyalah kiasan yang hanya dapat dimengerti jika sudah membaca paragraf kedua. 

Ya, sebenarnya waktu itu jadwal kami adalah mengantar proposal. Ternyata di dalam mobil ada pakan ikan milik Om Arman. Kami serempak tergelitik sambil menyadari, bahwa kami sedang mengantar proposal sambil diajak liburan ke wisata buatan, kawasan kebun dan empang bernama Mando Mampang Hills di Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur. 

Pada perjalanan itulah, kami banyak menguraikan tentang awal mula didirakannya Aliansi Jurnalis Kutai Timur (AJKT), sekaligus masa depan organisasi jurnalis pertama di Kutim itu.

Tidak dipungkiri, pada zamannya, organisasi ini juga yang mempererat rekan-rekan jurnalis dalam berbagai agenda. Menjadi wadah bagi pemimpin daerah melihat wajah para pewarta yang akan memberitakan baik/buruknya kinerja mereka di Kutai Timur. 

Dari zaman bupati Isran Noor, kemudian Ardiansyah Sulaiman, dilanjut Ismunandar, hingga kini Kasmidi Bulang, AJKT selalu menjadi jembatan bagi kepala daerah untuk menyampaikan program dan hasil kerja kepada masyarakat. Kita selalu membangun chemistry bersama dalam upaya membangun Kutai Timur, entah bagaimanapun gejolak yang terjadi. 

Tidak pernah kami di AJKT mengatasnamakan Dewan Pers dan organisasi yang ada di bawah naungannya. Sebab kami sadar, AJKT memang didirikan hanya untuk mewadahi teman-teman wartawan di Kutai Timur sebagai forum lokal. Kami saat ini justru merasa perlu untuk bergandengan tangan dengan organisasi di bawah Dewan Pers. 

Tidak perlu saya uraikan bagaimana lika-liku yang mengiringi perjalanan AJKT. Tapi kami sama-sama tahu, ini organisasi sudah kita perjuangkan bersama, dan sudah menjadi tempat kami untuk menjadi semakin besar dan solid.

Meski ada banyak media di dalamnya dengan tujuan dan target yang berbeda, kami bisa menyatukan pandangan dan langkah. Meski saya tahu, ada saja segelintir orang yang kurang respect, tapi itu urusan mereka.

Toh, Allah tidak mewajibkan hambanya untuk menyenangkan semua orang. Selama tidak melanggar hukum agama, dan selama saya masih diqodar berkiprah di Kutai Timur, saya secara pribadi InsyaAllah akan tetap membawa AJKT sebagai naungan di antara teman-teman lokal dan bermitra dengan pemerintah.

Bertepatan itu, Direktur Halokaltim.com Kanda Sukriadi Sukri dipercaya untuk mengemban amanah sebagai ketua AJKT Periode 2020-2022. Sebagai penanggung jawab redaksi Halokaltim.com, saya ikut merasa bangga akan itu.

Kembali ke laptop.... 

Jadi, mengapa bendera ini aku genggam? Itu karena tadinya bendera AJKT itu sedang tertancap di tempat bendera, lalu saya mengambilnya sebagai properti untuk foto narsis. Itulah alasan sebenarnya mengapa bendera itu saya genggam, jangan berpikir yang macam-macam. Berprasangkalah yang baik berdasarkan apa yang tampak di mata. Jangan berprasangka dari yang tidak pernah engkau saksikan. (😁🙏)

Jumat, 28 Agustus 2020

Kita Sedang di Fase antara Percaya atau Tidak dengan Covid-19, Bagaimana Menghadapinya?


Nampaknya masyarakat sudah mulai meninggalkan informasi perkembangan covid-19 di Indonesia. Kondisi itu menguat setelah pembubaran Tim Gugus Tugas Covid-19. Informasi pencalonan Gibran putra presiden, akhirnya lebih menarik perhatian publik.

OPINI OLEH : Raymond Chouda

Penggunaan masker dan cuci tangan, jujur saja, saya sendiri sudah tidak sedisiplin dulu. Padahal, sekarang jumlah pasien positif covid-19 di Indonesia sudah tembus 100 ribu. Ini bukan angka yang sedikit. Banyak juga sudah pasien yang meninggal akibat dampaknya.

Semenjak kemunculan segelintir teori konspirasi yang dipopulerkan beberapa publik figur, seperti dicontohkan Jerinx SID yang akhirnya berdemo tanpa masker, membuat masyarakat semakin berdamai dengan corona sekaligus berdamai dengan teori konspirasi, sedikit demi sedikit. Meski kita berusaha menuruti aturan protokol kesehatan oleh pemerintah, tapi kita sudah memasuki fase seperti judul artikel ini.

Ditambah lagi kasus heboh yang baru-baru terjadi, bahwa ternyata ada rumah sakit di Pulau Jawa yang bermain drama. Mereka membayar warga untuk memerankan tokoh pasien positif covid-19, supaya dapat anggaran covid-19 yang katanya mencapai ratusan juta rupiah. Kondisi Indonesia makin keruh akibat itu.

Kenapa saya sebut ‘percaya atau tidak dengan covid-19?’ Meski kita sudah jelas-jelas percaya, dengan pembuktian melalui patuh protokol kesehatan, dan mengiyakan setiap berita tentang perkembangan covid-19. Tapi berjabat tangan tanpa mencuci tangan memang sudah kita rutinkan kembali kok. Kita memang makhluk sosial yang tidak bisa dikekang oleh PSBB atau apalah itu namanya.

Masyarakat sudah tahu kok, bahwa corona tidak membunuh manusia, dan kematian pasien covid-19 itu hanya terjadi jika dia juga memiliki penyakit gandengan (katakanlah stroke, jantung, paru, hati, ginjal, dan deretan penyakit lainnya). Dan, sekarang kita juga sudah masuk di tengah-tengah fase ‘new normal’ yang digadang-gadang pemerintah dapat memperbaiki ekonomi.

Meski memang, sebelum new normal –bahkan sebelum corona masuk Indonesia– negeri ini sudah terbilang masih miskin. Mohon maaf ya pak/bu. Indonesia sebagai penghasil sumber daya alam, belum bisa mengolahnya menjadi produk yang memutar ekonomi yang membuat sejahtera merata rakyatnya. Itu semua terlepas dari masih maraknya praktek korupsi di negeri ini.

Jadi, mau ada corona atau tidak, kita memang begini kok dari dulu. Bedanya, sekarang Indonesia punya corona untuk dipersalahkan sebagai penyebab kemiskinan.

Dan memang, dengan adanya aturan ketat PSBB dkk, rakyat miskin jadi makin miskin. Rakyat sederhana juga ikut terseret ke jurang kemiskinan. Sementara para konglomerat, mereka bisa melakukan antisipasi banting setir menjadi penjual masker, distributor vitamin, dan berbagai bisnis lain yang sesuai dengan tren kini.

Makanya, masyarakat sekarang diberi acara Pilkada sudah tidak masalah, walaupun awalnya mungkin sedikit kaget. Kita akhirnya menerima. Kita sudah tak sabar kepengin lepas dari corona, sehingga kita kadang lupa bahwa sebenarnya covid-19 masih ada.

Ketika mengaitkan masker ke wajah, niat kita sudah bukan lagi untuk benar-benar melindungi diri dari corona. Tapi cenderung untuk menetapi kewajiban protokol kesehatan, supaya gak ditegur.

Rasa-rasanya kondisi ini bukan diciptakan pemerintah. Presiden Jokowi dan jajarannya hanya memberi jalan yang bernama ‘new normal’ (sekarang sudah diganti jadi adaptasi baru). Kita sudah sama-sama tahu, bahwa itu hanya sekedar judul, lalu kita bertebaran di jalan itu dengan jalur yang lebih resmi.

Lantas, fase ini menjadi tantangan bagi pemerintah maupun wakil rakyat. Apakah mampu membawa masyarakat Nusantara lepas dari pandemi covid-19?

Kita harus fair, kondisi ekonomi dan sosial yang genting ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan dan program pemerintah. Wakil rakyat juga sangat punya andil di situ. Bagaimana membuat masyarakat yang sudah mulai acuh dengan covid-19 supaya bisa keluar dari pandemi ini?

Ribuan APD dan masker itu bukanlah solusi untuk konteks ini. Yang kita tahu, kita sedang sama-sama menunggu covid-19 pergi dari Indonesia, dan kita sama-sama tidak tahu kapan itu terjadi. Sementara sejumlah pasien covid-19 meninggal dunia secara beruntun, dan sebagian masyarakat menudingnya sebagai konspirasi.

Program belajar online Mendikbud Nadiem Makarim juga sudah menemui keletihan. Kasihan anak-anak di rumah. Keponakan saya sudah lama tidak sekolah, meskipun di satu sisi itu menyenangkan bagi mereka karena punya lebih banyak waktu bermain.

Sebagai bagian dari masyarakat, saya hanya bisa mengimbau pembaca yang budiman untuk tetap patuhi protokol kesehatan. Jangan keluar kota bila tak perlu. Hanya itu yang bisa dilakukan sampai kondisi membosankan ini benar-benar berakhir. Sebab kalung anti corona itu masih belum dijual di indomaret, dan vaksin covid-19 juga belum beredar di puskesmas terdekat.

Saya tergelitik oleh tulisan seorang jurnalis senior Kaltim, mantan guru saya di koran Kaltim Post dulu, Sumurung Basa Silaban. Kalimatnya sangat mengena dengan fase ini. Beliau menulis di facebook begini :

“Kenapa kamu ngotot corona tak bahaya, konspirasi, permainan media dll.
Tuh, RSU AWS dekat. Berani nggak jadi relawan kebersihan di ruang isolasi? Jangan pake APD ya”

Jadi saya ingin tegaskan sekali lagi.

Selamat datang di fase ini : fase percaya atau tidak dengan covid-19. Itu semua kembali kepada Anda, karena kesehatan saat ini adalah barang mahal. Itu tidak bisa dipungkiri. (*)


*Artikel ini telah terbit di website halokaltim.com pada 30 Juli 2020, dengan judul yang sama

Rabu, 27 Mei 2020

Idulfitri Berbeda dan Tradisi yang Tak Akan Tergantikan

Lebaran Idulfitri kali ini memang terasa berbeda. Wabah corona virus disease (covid-19) sudah membuat saya tidak pulang kampung menemui Bapak dan Mama di Samarinda. Kami hanya bisa bersilaturahim lewat video call whatsapp. 

RAYMOND CHOUDA, Sangatta

Pagi itu, Minggu (24/5/20) pagi, saat persiapan salat ied di kediaman Pak Noeh (mertua) di Munthe H-357 Sangatta, Kutai Timur, saya sudah bangun dan mandi junub untuk menyempurnakan sunnah Nabi Muhammad SAW. Takbir pun saya kumandangkan dengan setengah nyaring. Tidak merdu lantunan itu, yang penting terdengar orang-orang rumah saja, untuk memantik semangat Idulfitri, juga sebagai sunnah Nabi. 

Saat itu kami hanya berempat di rumah, yaitu saya, istri, dan kedua mertua. Saya sempatkan untuk bertakbir dengan sambil merekamnya di voice note whatsapp, lalu mengirimnya ke grup WA keluarga saya di Samarinda, Bahagia Berjamaah --mudahan nama grup ini adalah doa yang diijabah Allah.

Saya rasa, ini memang pengalaman Lebaran yang patut diceritakan ke anak-cucu nanti. Pandemi covid-19 membuat banyak hal berubah. Makanya catatan ini saya tulis, dengan harapan memori ini dapat diingat dengan mudah ketika melihatnya.

Beruntung sangat diri ini, karena sosok orang tua juga dapat didapat secara langsung dari mertua yang Alhamdulillah selalu bisa jadi panutan. Kami pun menyelesaikan salat ied dengan lancar, meski hanya berempat, di ruang tengah dalam rumah. Mengingat, Pemkab Kutim telah sepakat melarang pelaksanaan salat ied di lapangan maupun di masjid. Makanya Idulfitri kali ini sangat berbeda, karena kami harus salat ied "di rumah saja" untuk mencegah penyebaran wabah covid-19.

Selepas salat ied, dilanjut khotbah, ditambah kultum, kami saling bermohon maaf. Saya pun langsung malakukan panggilan whatsapp group ke orang tua dan saudara di Samarinda. Papa Mama dan Cia di rumah Air Hitam, baru saja selesai menggelar solat ied berjamaah. Sementara Ceceh dan Kak Aji bersama Nikolas dan Salim di Yellow House Handil Kopi. Sayangnya, saya tidak sempat screenshoot video call itu. 

Rasanya memang jauh dari mantap. Silaturahmi hanya lewat panggilan video call. Hanya bisa meminta maaf lahir dan batin, tanpa mampu menjabat tangan, apalagi cipika-cipiki. 

Sementara dari pihak keluarga di Sangatta, kami melakukan video call juga ke keluarga Mas Dean-Mbak Nita di Bontang dan keluarga Dennis-Ali di Lampung.

Namun, acara silaturahim tatap muka pada akhirnya tak dapat dicegah. Tamu berdatangan satu-persatu. Baik dari keluarga, maupun kerabat. Tapi tetap dengan mematuhi protokol kesehatan covid-19 yang sudah diatur pemerintah, yaitu menggunakan masker, dan menjaga kebersihan diri dengan rajin mencuci tangan, serta menjaga jarak.

Sampai hari kedua Idulfitri 1441 Hijriah tersebut, saya benar-benar tidak keluar dari rumah. Karena para tamu memang tidak datang bergerombol, tapi satu-persatu terus berdatangan silih-berganti. Saya yakin, masyarakat memang tidak tahan terus berada di rumah. Apalagi di hari yang fitri ini, tradisi silaturahmi ke rumah-rumah keluarga dan kerabat adalah seperti suatu keharusan.

Agenda silaturahmi semacam itu, membuat kami lekas melupakan adanya bahaya pandemi covid-19. Saya yakin, begitu juga yang terjadi di rumah-rumah masyarakat Indonesia kebanyakan, baik di Kaltim maupun di Pulau Jawa sekalipun. 

Sementara pemerintah, juga tidak dapat mencegah hal ini dengan serta-merta. Sebab, pelarangan salat ied di masjid dan lapangan saja, sudah memicu gejolak sebagian kalangan masyarakat. Apalagi mau melarang silaturahim tatap muka, tentu sulit direalisasikan. Masyarakat Indonesia memang gak takut corona.

Dari hal ini, saya dapat memetik hikmah dan fakta baru. Bahwa, masyarakat Indonesia lebih takut larangan yang sifatnya sosial, dibanding larangan spiritual. Agenda silaturahmi secara langsung bagi kita tidak bisa dilarang, sedangkan pelarangan kegiatan ibadah di masjid justru lebih diterima kebanyakan masyarakat. 

Pada dasarnya, ibadah bisa digantikan di rumah karena adanya suatu halangan. Tapi bukankah silaturahim juga bisa digantikan di rumah? Hehe. Ternyata, bagi kita masyarakat Indonesia, silaturahim tatap muka tidak bisa digantikan dengan via telepon selular atau WA, maupun media sosial. Silaturahim dengan smartphone ujung-ujungnya hanya digunakan untuk keluarga di luar kota.

Kita ini manusia sosial yang akan merasa lebih sehat jika dapat berjumpa dengan orang terkasih, keluarga, dan kerabat. Itu benar-benar lebih sehat dibanding berdiam diri di rumah. Apalagi, kita tahu bagaimana sedapnya makan hidangan Lebaran, di mana biasanya menu paling luar biasa --dari masakan tradisional Indonesia-- yang selalu disajikan. Belum lagi ditambah minuman bersoda ataupun jus buah. Ouh ya.. Insyaallah rasa itu tak dapat digantikan dengan makan di rumah sendiri, tanpa disertai canda tawa kerabat. 

Semoga banyak pelajaran yang mendidik manusia selama adanya pandemi covid-19. Semoga juga musim wabah ini segera berlalu di Indonesia dan dunia. 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah. Taqobbalallohuminnawaminkum. Mohon maaf lahir dan batin. (*) 

Jumat, 01 Mei 2020

Kejutan Corona di Awal Umrahku



Awalnya saya tak berniat menulis untuk perjalanan ibadah ini, karena takut riya. Tapi tulisan ini terpaksa saya buat karena sifatnya yang urgent. Tapi tetap, ini bukan untuk publikasi, dan hanya untuk konsumsi pribadi.

RAYMOND CHOUDA, Jakarta

Posisi saya saat ini masih di Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta. Sambil menunggu jadwal penerbangan, seorang rekan dari Kota Bontang, Veri, mengirim foto screenshoot ke whatsapp saya, yakni tentang isu corona yang saat ini sedang merebak di dunia.

Foto itu membuat saya cukup tersentak. Sebuah program televisi nasional sedang mengulas berita yang berjudul "Arab Saudi Hentikan Sementara Umrah".

"Aman aja kah partner?" tanya dia, pada pukul 10.34 WIB. 

Sejak saat itulah saya baru tahu tentang informasi tersebut, bahwa ibadah umrah hari ini adalah yang terakhir bagi umat Muslim Indonesia, sampai pada waktu yang ditentukan. Sementara pesawat saya akan terbang pukul 11.30 WIB. 

"InsyaAllah aman aja partner. Bismillah," jawabku dengan menunjukkan keyakinan penuh, padahal ada juga rasa getir sedikit (emot ketawa sambil nangis). 

Akhirnya, kami rombongan jamaah umroh dari travel Multazam Wisata Tour tetap berangkat. Niat ibadah ini tak mungkin dihentikan. Apalagi mengurus umrah bukanlah perkara mudah, harus bayar ini-itu, persiapan waktu, paspor dan visa, dan masih banyak lagi. 

Tanah Harom Mekkah, Arab Saudi, merupakan tempat berkumpulnya umat Muslim di seluruh dunia. Ibadah apapun yang dilakukan di Masjidil Harom akan dilipatgandakan ribuan kali lebih banyak dibanding ibadah di luar Mekkah dan Madinah. 

Rumah Allah itu, menurut dalilnya, tak akan bisa kita datangi secara langsung jika Allah tak memanggil kita. Artinya, ini insyaallah memang sesuai kehendak-Nya. 

Sementara virus corona yang katanya berasal dari Wuhan, China, kini dikabarkan telah menewaskan ribuan umat manusia yang sudah terinveksi.

Yang jadi perhatian sekaligus pertanyaan saya, umat Islam yang dikehendaki untuk dipanggil datang ke rumah Allah, akankah dari kaum yang juga terjangkit virus corona? Akankah Allah mempertemukan orang terinveksi virus tersebut dengan kaum Muslim lainnya? 

Secara penanganan, pemerintah China dan pemerintah di banyak negara se-dunia telah menyepakati untuk melakukan karantina atau isolasi terhadap orang yang telah terinveksi corona. 

Seperti jawaban saya di atas, bahwa "Bismillah". Apalagi sudah banyak dalil yang menegaskan bahwa di Masjidil Harom merupakan tempat yang paling mustajab untuk berdoa. Artinya, umat Muslim diberikan kesempatan untuk berupaya meminta kesehatan di sana. Apalagi ada air zam-zam yang memiliki khasiat luar biasa untuk kesehatan manusia, yang bersumber dari Arab Saudi. 

Termasuk saya. Saya juga sudah berencana meminta kesehatan dan kesembuhan di rumah Allah itu. Tapi sebaiknya tak perlu dibahas lebih lanjut di sini karena terlalu panjang. 

Akibat corona, akankah ibadah yang amat suci dan mulia ini menjadi suatu ketakutan umat Muslim? 

Beberapa bulan lalu, saya dan istri membekali diri dengan ilmu Alquran dan Alhadits tentang bab umrah. Diterangkan, bahwa di Tanah Harom semua yang doa akan sangat mudah terkabulkan, atau biasa disebut dengan mustajab. Segala perkataan dan prasangka pun, bisa segera terwujud seketika. 

Itu karena Tanah Haram adalah tempat yang mustajab. Satu-satunya di dunia adanya tempat mustajab untuk berdoa adalah di Tanah Harom. Sedangkan lokasi paling mustajab untuk berdoa di Mekkah adalah di Masjidil Harom, yakni di Multazam Kakbah, di belakang Makom Ibrohim, dan di atas bukit Sofa dan di atas bukit Marwah. Kemudian di Madinah, tempat paling mustajab untuk berdoa terletak di Raudoh, yakni di dalam Masjid Nabawi, tepatnya di antara rumah Nabi Muhammad SAW dengan tempat khotbah Nabi.

Alhamdulillah perjalanan umrah ini bisa terwujud. Saya benar-benar sangat bersyukur. (*)