Minggu, 25 Oktober 2020

Kutai Timur Punya Kultur Menang di Kontestasi

Katanya sih begitu, kalau ada orang Kutai Timur yang ikut ke suatu kontestasi, maka dia sangat diperhitungkan. Seperti dua putra terbaik Kutai Timur di sebelah saya ini, Bang Bakri Hadi ketum HIPMI Kaltim, dan Bang Irwan DPR RI.

Baru-baru ini, Bang Bek --sapaan Bakri Hadi-- telah didapuk menjadi ketua umum HIPMI Kaltim, terpilih secara aklamasi. Beliau pandai memainkan perannya, dengan status sekretaris umum BPC HIPMI Kutim, maka pecah sudah telur tradisi ketum BPD HIPMI Kaltim dijabat orang Samarinda, Balikpapan, dan Kukar.

Harusnya isu ini juga layak saya angkat di pemberitaan. Tapi kali ini tidak usah dulu, karena informasi ini didapat dari hasil duduk ngopi darat. Lebih nyaman dan aman diceritakan di status facebook. Hahaa...

Dalam upaya memenangkan pertarungan tingkat 'pandawa mahabharata' , Bang Bek selalu menguatkan modal yakin. "Yang penting yakin," begitulah yg selalu dikatakannya.

Bahkan sempat ada yang menanyakan ke beliau, bagaimana cara membuatnya agar tak jadi maju? "Hanya Tuhan dan Ibu yang bisa"... Begitu jawabannya. Hehe, sangat membuat orang terkesan. 

Sementara Bang Irwan Fecho, baru-baru ini juga sudah bikin sejarah Kaltim di nasional. Aksinya yang menyuarakan penolakan --saat itu beliau meminta ditunda-- pengesahan Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja, berhasil menuai simpati masyarakat. Saat beliau menyuarakan pandangannya, mikrofonnya dimatikan oleh Bunda Puan Maharani.

Bang Irwan mengaku tidak bisa tidur setelah kejadian itu. Hehe.... Seru mendengarkan cerita beliau, karena ternyata memang tidak mudah memperjuangkan penolakan di hadapan koalisi gemuk.

Banyak hal yang menarik namun juga tidak mungkin saya tuliskan di sini. Tapi hasilnya, Bang Irwan saat ini menjadi seorang politisi yang sangat diperhitungkan di tingkat DPR RI. Menurut saya, media nasional sudah menjadikan beliau sebagai salah satu news maker yang menarik. 

Dengan kejadian ini juga, membuat wakil rakyat dapil Kaltim lainnya di Senayan akan merasa resah jika tak bisa menunjukkan diri sebagai perwakilan rakyat yang menyuarakan hak rakyat.

Sengaja tulisan ini saya publish agar benar-benar saya pribadi bisa mengingat kejadian ini beserta nasihat-nasihat penting dari beliau berdua. Juga untuk berbagi cerita kepada kawan-kawan di dunia maya. 

Bang Bek dan Bang Irwan mengingatkan, agar sebagai pemuda jangan takut bermimpi.

"Bermimpilah yang tinggi saja. Tidak apa, kita masih muda," jarnya Bang Bek.

"Kalau kita orang Kutim ini sudah biasa dengan dinamika (organisasi, dsbg). Makanya kita sudah terbiasa dengan itu," timpal Bang Irwan. 

"Kalau kita diskusi biasanya ada berdebat dan gak mau langsung selesai, karena klimaks cepat itu gak enak. Kita maunya lama," sambung Bang Bek lagi.

Malam semakin larut di Kafe Coffee Time Sangatta itu, Minggu 25 Oktober 2020. Obrolan semakin naik gelombang ke frekuensi yang lebih mampu menghilangkan kantuk. Soal bendera pataka dan umbul-umbul juga menggelitik perut kami.

Jajaran kepengurusan Aliansi Jurnalis Kutai Timur (AJKT) yang dipimpin Bang Sukriadi Sukri akan menjalin kekerabatan dengan beliau berdua. Semoga ada kerja sama yang bisa lah kita realisasikan dalam waktu dekat biar Kutim semakin solid.. Hehe...

Sebagai penegasan tentang judul tulisan ini, Pak Awang Faroek Ishak dan Pak Isran Noor sudah membuktikan bahwa Kutim memang punya kultur menang di kontestasi.

Tidak ada gading yang tak retak, seperti tulisan saya ini yang tidak lepas dari ketidaksempurnaan. Jadi maafkanlah jika ada data yang mungkin kurang akurat. Ini lain berita, cuma status. 😁

*Tulisan ini saya tayangkan perdana di akun facebook Raymond Chouda Norman, 26 Oktober 2020. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar