Suatu hari, saya dan beberapa rekan pergi berburu angin di pelosok timurnya Kutai. Tiada niat sebelumnya untuk berburu angin, karena itu hanyalah kiasan yang hanya dapat dimengerti jika sudah membaca paragraf kedua.
Ya, sebenarnya waktu itu jadwal kami adalah mengantar proposal. Ternyata di dalam mobil ada pakan ikan milik Om Arman. Kami serempak tergelitik sambil menyadari, bahwa kami sedang mengantar proposal sambil diajak liburan ke wisata buatan, kawasan kebun dan empang bernama Mando Mampang Hills di Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur.
Pada perjalanan itulah, kami banyak menguraikan tentang awal mula didirakannya Aliansi Jurnalis Kutai Timur (AJKT), sekaligus masa depan organisasi jurnalis pertama di Kutim itu.
Tidak dipungkiri, pada zamannya, organisasi ini juga yang mempererat rekan-rekan jurnalis dalam berbagai agenda. Menjadi wadah bagi pemimpin daerah melihat wajah para pewarta yang akan memberitakan baik/buruknya kinerja mereka di Kutai Timur.
Dari zaman bupati Isran Noor, kemudian Ardiansyah Sulaiman, dilanjut Ismunandar, hingga kini Kasmidi Bulang, AJKT selalu menjadi jembatan bagi kepala daerah untuk menyampaikan program dan hasil kerja kepada masyarakat. Kita selalu membangun chemistry bersama dalam upaya membangun Kutai Timur, entah bagaimanapun gejolak yang terjadi.
Tidak pernah kami di AJKT mengatasnamakan Dewan Pers dan organisasi yang ada di bawah naungannya. Sebab kami sadar, AJKT memang didirikan hanya untuk mewadahi teman-teman wartawan di Kutai Timur sebagai forum lokal. Kami saat ini justru merasa perlu untuk bergandengan tangan dengan organisasi di bawah Dewan Pers.
Tidak perlu saya uraikan bagaimana lika-liku yang mengiringi perjalanan AJKT. Tapi kami sama-sama tahu, ini organisasi sudah kita perjuangkan bersama, dan sudah menjadi tempat kami untuk menjadi semakin besar dan solid.
Meski ada banyak media di dalamnya dengan tujuan dan target yang berbeda, kami bisa menyatukan pandangan dan langkah. Meski saya tahu, ada saja segelintir orang yang kurang respect, tapi itu urusan mereka.
Toh, Allah tidak mewajibkan hambanya untuk menyenangkan semua orang. Selama tidak melanggar hukum agama, dan selama saya masih diqodar berkiprah di Kutai Timur, saya secara pribadi InsyaAllah akan tetap membawa AJKT sebagai naungan di antara teman-teman lokal dan bermitra dengan pemerintah.
Bertepatan itu, Direktur Halokaltim.com Kanda Sukriadi Sukri dipercaya untuk mengemban amanah sebagai ketua AJKT Periode 2020-2022. Sebagai penanggung jawab redaksi Halokaltim.com, saya ikut merasa bangga akan itu.
Kembali ke laptop....
Jadi, mengapa bendera ini aku genggam? Itu karena tadinya bendera AJKT itu sedang tertancap di tempat bendera, lalu saya mengambilnya sebagai properti untuk foto narsis. Itulah alasan sebenarnya mengapa bendera itu saya genggam, jangan berpikir yang macam-macam. Berprasangkalah yang baik berdasarkan apa yang tampak di mata. Jangan berprasangka dari yang tidak pernah engkau saksikan. (😁🙏)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar