
Tren minum kopi hitam tanpa gula sudah makin menjamur di se-antero Indonesia. Khusus di Sangatta, Kutai Timur, seorang pejabat pemerintah yang terkenal rutin mengampanyekan ngopi sehat tanpa gula, mau berbagi ilmunya.
RAYMOND CHOUDA, Sangatta
Imam Sujono Lutfi, yang kesehariannya disibukkan dengan tugas sebagai kabag humas dan protokol Setkab Kutim, selalu menyempatkan menikmati biji kopi yang diracik sendiri, tanpa gula. Bisa dibilang, ke mana saja perginya, biji kopi dan alat peracik selalu tersiapkan di dalam tasnya.
Imam pun memberi kesempatan jurnalis Kaltim Post untuk melakukan perjalanan Sangatta-Samarinda, belum lama ini. Di dalam mobilnya, tampak terdapat butiran biji kopi di sebuah tempat khusus, bersama alat peracik kopi praktis, seukuran botol minuman yang mudah digenggam. Dalam perjalanan itu, banyak pengetahuan tentang kopi dibagikannya.
Sampai akhirnya berhenti di suatu warung makan, ketika menjelang senja. Imam seketika mengeluarkan “dapur” kopi pribadinya, lalu meracik biji kopi puntang --kopi asli dari Jawa Barat— kemudian meminta pelayan di warung menyeduhkannya.
Cara penyajian pun mengikuti arahan Imam. Yakni, air yang mendidih dengan ketinggian derajat tertentu, dimasukkan ke biji kopi yang sudah diracik menjadi bubuk. Tentu tanpa campuran gula. Ketika segelas air sudah penuh, diaduk hingga merata, kemudian wajib hukumnya langsung ditutup dengan penutup gelas.
Menurut Imam, kopi yang baru diseduh harus langsung ditutup agar cita rasa asli kopi tidak tergerus karena uap yang mengudara. “Kalau sudah disajikan dengan benar sesuai standar penyajian, kopi tanpa gula bakal terasa nikmat. Harus dinikmati untuk mengenal rasa kopi yang diseduh, dan lidah bakal mengerti arti kopi sesungguhnya, bahwa tanpa gula justru lebih nikmat,” ungkap Imam.

Sebelum menyeruput bersama, jurnalis media ini dibimbingnya agar tak terkena penyakit. Yaitu, menghindari makan nasi, atau setidaknya mengurangi. Sebab, nasi mengandung karbohidrat yang terdapat zat gula yang sangat tinggi. Jika kopi tanpa gula, tapi masih makan nasi, tentu tubuh masih terkontaminasi gula.
“Kalau gula dan kopi bercampur, respons tubuh manusia biasanya jantung berdebabr, atau syaraf bergetar, dan berbagai gangguan lainnya,” ungkap Imam yang juga merupakan sekretaris LDII Kutim itu.
Efek kopi yang sebenarnya, terang Imam, adalah membuat tubuh rileks. Jika belum merasakan rileks karena kopi tanpa gula, berarti diduga seseorang tersebut baru saja makan nasi. “Syarat tambahan, ketika meminum kopi usahakan didampingi meminum air putih yang cukup. Sebab, respons tubuh dan lidah akan lebih netral,” imbuh lelaki yang juga sekretaris IPSI Kutim itu.
Dirinya mengaku, sudah setahun belakangan berhenti makan nasi. Mungkin, hanya sesekali jika menghadiri acara makan. Tanpa nasi, Imam meyakini, energi tubuhnya tetap kuat dengan bantuan asupan kopi tanpa gula. “Kopi membuat rileks, dan memberi tenaga tambahan. Buktinya, sampai saat ini saya tetap merasa sehat, karena ini salah satu jenis pola hidup sehat,” tukas dia. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar