Suara sorak-sorai anak di pengungsian korban bencana gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, begitu menyenangkan. Aktivitas belajar di sekolah khusus pengungsian itu, berlangsung ceria, meski ternyata masih kekurangan peralatan belajar.
RAYMOND CHOUDA, Palu
Dari Sangatta, Kutai Timur, Kaltim Post berksempatan ikut rombongan PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kutim, dalam misi kemanusiaan, Jumat (2/110). Rombongan ini menggunakan perjalanan udara komersial, di mana bandara Palu sudah aman kembali beroperasi sepekan setelah gempa dan tsunami pada 28 September 2018.
Perjalanan ini merujuk hasil survei lapangan tim PMI Sulteng dan PMI Palu, bahwa dunia pendidikan di Palu ikut lumpuh, dampak bencana alam. Anak-anak yang bersekolah di pengungsian ternyata sangat memerlukan peralatan belajar.
Singkat cerita, tim rombongan KPC-PMI yang dipimpin Felly Lung, langsung menyambangi salah satu kawasan pengungsian, di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Palu. Yakni dengan membawa sekira 4.200 paket spulkit. Tiap paket berisi peralatan belajar berupa tas, pensil, crayon, buku gambar, penggaris, dan lain sebagainya.
Felly mengatakan, paket peralatan belajar itu merupakan hasil donasi yang disisihkan dari gaji semua karyawan KPC, masing-masing Rp 100 ribu. Uang yang terkumpul sekira Rp 300 juta, dibelanjakan paket alat belajar tersebut sebanyak sekira 3.000 paket. Kemudian ditambah paket sejenis dari PMI Kutim sebanyak 1.200 paket.
"Bantuan dari keluarga besar KPC ini kami harap bisa membangkitkan semangat bersekolah warga Palu. Keikhlasan kami menaruh harapan, anak-anak Palu bisa menggapai cita-cita selayaknya anak di darah lain di Indonesia," ungkap lelaki yang merupakan bagian dari karyawan di departemen eksternal KPC itu.
Mewakili Ketua PMI Kutim Ismunandar, Kapala Markas PMI Kutim Wilhelmus menegaskan, PMI antar daerah intens berkoordinasi untuk membantu Palu bangkit pasca gempa dan tsunami. Nah, bantuan PMI Kutim, merupakan donasi yang dititip oleh masyarakat Kutim.
Lantas, Wilhelmus yang juga akrab disapa Ewil itu meyakini, bahwa tiap bantuan yang masuk lewat PMI bakal tersalurkan tepat sasaran. "Makanya, kami antar langsung, dibawa dari Kutim ke Palu untuk warga di pengungsian," ucap Ewil.
Kepala Sekolah SD pengungsian di Petobo, Mirnawati mengharapkan, tiap bantuan yang datang dapat membuat semua anak di pengungsian semakin bertambah semangat belajar. "Kami sangat bersyukur atas berbagai bantuan yang datang, termasuk dari KPC dan PMI Kutim. Sebab, pendidikan sagat penting dan bermanfaat, tak boleh terhenti," ucap perempuan yang juga kepala sekolah SD Islam Al Akbar Petobo itu.
Dia mengaku, saat ini memang peralatan belajar yang sangat diperlukan. Tidak adanya gedung sekolah, jangan sampai membuat pendidikan terhambat. "Saat ini, yang diperlukan tapi belum kami miliki adalah seragam sekolah," ujar dia.
Diketahui, SD pengungsian di Petobo tersebut, merupakan gabungan dari lima sekolah yang terkena dampak gempa di kawasan Petobo. Yakni, SD 001 Petobo, SD 002, SD Inpres, SD Islam Iqro, dan SD Islam Al Akbar. (*)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar