Kamis, 03 Oktober 2024

Pengabdian Jagoan Senayan dan Cintanya


Dia punya nama beken, yang mungkin sebenarnya bermakna kurang bagus secara harfiah. Namun sebutan itu yang akhirnya melejitkan namanya. Irwan Fecho, politisi muda yang layak dibilang sukses berkarir di Senayan. Dia tak lagi terpilih, dan banyak yang menyayangkan itu.

Baru saja sehari-dua hari ini Irwan mengupload vlog di media sosialnya, yang menggambarkan dia baru saja pulang dari Gedung DPR RI di Senayan Jakarta, mengakhiri masa tugasnya sebagai anggota DPR RI daerah pemilihan Kaltim. Lalu di depan pintu rumahnya, sang istri menyambut dengan penuh kasih. Suasana semakin membuat saya tersentuh, karena juga diiringi backsound Nidji berjudul Sumpah dan Cinta Mati.

Sang istri yang tampak syar’i dengan pakaian bergaya sederhana --sebagai seorang istri dewan-- lalu menyambut Irwan dengan penuh kasih. Membukakan jas, membantu membuka sepatu hingga kaos kaki. Sebuah pelayanan istri yang solihah, terlepas itu settingan atau tidak, tapi tampaknya beliau memang seorang yang tergambar seperti video tersebut. Kemudian dalam vlog itu, keduanya makan siang bersama dengan masakan nusantara ala rumahan sambil menyampaikan kalimat-kalimat pamitan kepada masyarakat Kalimantan Timur.

Meski hanya satu periode, tapi saya merasa puas dengan kinerja Bang Irwan selama lima tahun terakhir. Dia paling layak disebut wakil rakyat dari daerah pemilihan Kaltim, karena kerjanya yang sangat terlihat dan menyentuh. Pandai berkomunikasi dengan masyarakat dan mitra maupun stakeholdernya. Karena sebenarnya, komunikasi itu adalah salah satu kunci sukses, dan beliau membuktikannya.

Bang Irwan selama menjadi anggota DPR RI, jauh dari isu miring dan buruk. Saya belum pernah mendengar kabar terkait kelakuannya yang tidak pantas.

Lantas, tulisan ini bukan untuk menjilat. Hei, hei. Ini hanya sebuah bentuk apresiasi. Walaupun mungkin akan ada yang cukup mengambung-ambung, tapi apalagi yang harus kita lakukan kepada dewan bagus yang tak terpilih lagi karena mungkin maraknya money politik, ya setidaknya apresiasi saja. 

Dulu, rasanya pernah terbesit di benak saya. Akan keren jika bisa seperti Bang Irwan. Bisa melakukan banyak hal yang bermanfaat untuk khalayak luas. Bukan maksudnya terjun ke politik, tapi bertindak yang progresif seperti dia itu. Karena memang, belum banyak contoh tokoh muda yang bisa menunjukkan kepemimpinan yang efektif.

Bukan berarti dewan Senayan Dapil Kaltim lainnya tidak bagus. Mereka punya gaya masing-masing. Nah, maksud saya, kalau ingin melihat contoh politisi yang sudah memfungsikan jabatannya dengan baik, ya Bang Irwan. Karena, tidak mudah untuk berani bersuara dan melakukan fungsi controlling DPR RI terhadap pemerintah. Pada periode kemarin, dengan posisi Partai Demokrat sebagai oposisi, Bang Irwan pun mendapat kesempatan untuk tampil lebih menukik. Sampai-sampai micnya pernah dimatikan oleh Ketua DPR RI Puan Maharani, dan tidak banyak dewan yang mendapat pengalaman mahal seperti itu, dan tersorot sebagai politisi yang vokal. Meski memang, dewan vokal bukan satu-satunya jalan, tapi dengan bersuara itulah ia menjadi representasi wakil rakyat yang mewakili suara rakyat.

Dari sini kita juga belajar, tidak terpilihnya lagi Bang Irwan tentu saja bukan karena dia jelek. Tapi persaingan politik memang semakin sengit, dengan segala pertarungan yang ada. Mungkin saja dengan maraknya money politik, apakah kita harus bilang bahwa ini dewan kurang siramannya? Hehe, jangan berpikir begitu kawan.

Justru Bang Irwan yang membuka mata kita, masih ada politisi yang mengandalkan integritas untuk memperoleh dukungan rakyat. Semua ada jatahnya kok. Satu periode itu tidak buruk. Kelamaan juga kadang bisa bikin orang bosan. Justru dengan penetrasi yang singkat, orang-orang akan lebih merindukannya. 

Semoga, karya tulis ini nantinya bisa lagi dibaca beberapa tahun ke depan, jika ada suatu situasi yang relate dengan tulisan ini. Entah itu apa. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar