Rabu, 06 Juni 2018

Mobil Listrik Deru Mesinnya Seperti Tamiya, Hemat Energi, Hadir di Sangatta



Bertahun-tahun, polusi kendaraan seakan menjadi hal lumrah di seantero jalanan Sangatta, Kutai Timur. Mobil listrik pun hadir, menjadi solusi bagi lingkungan Kota Tambang.

RAYMOND CHOUDA, Sangatta

Bunyi kipas dinamo berderu dengan pasti, ketika mobil listrik (motrik) di-starter oleh Eko Prasetyo, di di Pos Ulin, lingkungan mine site, Komplek Perkantoran PT Kaltim Prima Coal (KPC), Rabu (6/6) pagi. “Lantunan” mesinnya mirip dengan suara mobil tamiya, halus dan tanpa asap.

Mengenakan safety belt, awak Kaltim Post duduk di bangku penumpang, bersama Eko yang menjadi sopir, dan tiga penumpang lainnya. Sambil mobil berjalan, Eko yang merupakan salah satu anggota tim kreasi motrik dari divisi MSD KPC, menceritakan bagaimana kendaraan itu bisa tercipta.

Motrik tersebut, ujar dia, sudah digagas sejak 2014. Perancangan dilakukan di sela jam kerja. “Bahkan kami sampai lembur malam. Ketika Ramadan 2016, kami mengerjakannya sampai pukul 00.00 Wita. Akhirnya kami bisa melakukan test drive pada 2016,” ujar dia.


Rupa interior-eksterior motrik yang dimodifikasi dari mobil bekas merk chevrolet blazer produksi 1999 tersebut, tak ada bedanya dengan mobil pada umumnya. Hanya komponen dapur pacunya yang dirangkai menjadi bertenaga ramah lingkungan.

Baterai menjadi part paling dominan dan mahal di antara semua komponen motrik tersebut. Dari total 48 baterai, masing-masing kapasitas listriknya sebesar 3,2 volt. Yakni, 10 batang di ruang engine, sisanya di tempat tangki bensin.

Dirincikannya, semua biaya pengembangan motrik tersebut menghabiskan biaya hampir Rp 300 juta. Dari total itu, 60 persennya habis untuk seperangkat perlengkapan baterai. Yakni, mencapai Rp 3 juta per baterai, semuanya diimpor dari Tiongkok.


Namun, terang Eko, motrik tersebut 47 persen lebih murah dibanding kendaraan yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) biasa. Ditambah lagi, tak ada gas buang. Dalam perawatannya, motrik tidak berdampak limbah lingkungan dari oli bekasnya. Cukup dibersihkan dan diisi baterainya dengan charger paling lama sampai empat jam.

“Kami terpaksa mengimpor, sebab sangat sulit mencari baterai yang diperlukan dari Indonesia. Sama halnya dengan Amerika Serikat maupun Kanada yang masih mengambil baterai listrik tersebut dari negeri Tirai Bambu tersebut,” ulas dia.

Tak terasa, perjalanan dengan motrik pun usai. Setelah berkeliling di Komplek Perkantoran KPC, meski tak terlalu lama, pengalaman berkendara yang ramah lingkungan telah dirasakan.

Sejauh ini, terang Eko, jarak tempuh paling jauh bisa mencapai 40 kilometer (km) dengan kondisi baterai full. Sedangkan kecepatan maksimalnya dapat melaju sampai 100 km per jam.


Manager External KPC Yordhen Ampung mengatakan, keberadaan motrik tersebut sesuai dengan arahan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) bahwa bangsa ini memerlukan penggunaan energi terbarukan. “Motrik ini menjadi jawaban atas terbatasnya cadangan BBM dunia masa mendatang,” singkat Yordhen. (*)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar